Beranda » Opini » Warkop Telah Menjadi Jamur di Bulukumba
Warkop Telah Menjadi Jamur di Bulukumba
Ikhlasul Amal Muslim, Aktivis Mahasiswa. (Foto: Dok)
Opini

Warkop Telah Menjadi Jamur di Bulukumba

OPINI – Baru kali ini menulis berbasis lokal, tempat tanahku dilahirkan, dengan dua bahasa berbeda antara konjo dan bugis. Tapi kali ini tak membahas kedua bahasa tersebut, melainkan membahas salah – satu perkembangan ekonomi dikota Bulukumba, yaitu warung kopi (Warkop).

Dengan menjamurnya warung kopi di kota Bulukumba, menjadi tempat nongkron para kalangan muda-mudi dan orang tua, ikut bersenandung dalam lantunan cerita dan larutan kopi.

Sesekali kopi mereka diserupuk sampai tak terasa habisnya, hanya menyisahkan ketebalan ampas, jika penikmat kopinya suka yang begitu pahit. Sang peracik pun harus pandai mamahami karakter rasa yang di inginkan pelanggannya.

Ada tiga tipe kopi yang biasa dipesan, tipis, sedang, dan keras. Tipe pesanan kopi tipis adalah pemula meminum kopi. Kopi sedang, cita rasanya tidak begitu pahit.

Kopi keras, cita rasanya begitu pahit dan hanya sedikit susu kental manis, penikmat kopi keras seperti ini biasanya sudah menjadi kewajiban bagi dirinya minum kopi setiap hari.

Meski diri pribadi bukanlah viewers kopi di Kabupaten Bulukumba, namun adalah sedikit memahami karakter orang Bulukumba ketika ada di warkop, sebab di warkoplah kita akan menemukan beberapa pelajaran penting didalamnya.

Setiap kali masuk dalam ruangannya, kamu akan menemukan berbagai macam diskusi, baik pembahasan mereka masalah, politik, budaya, ekonomi, sosial, Agama. Dan yang paling uniknya dan acapkali membuat suasana makin riuh ketika kalangan mudanya asyik main game dengan teman-temannya.

Ditempat inilah merangsang nalar berpikir warga Bulukumba, sebab diwarkop tidak hanya menyediakan kopi saja, di sediakan pula wifi sebagai pemuas pelanggang.

Hal ini pula disukai oleh kalangan mahasiswa, sebagai tempat mencari referensi sambil berdiskusi akan tugas yang diberikan oleh dosen dikampusnya. Tak heran banyak kalangan anak muda menghabiskan waktu mereka diwarkop sebagai pencarian sumber informasi.

Ruang peluang ekonomi inilah dimamfaatkan oleh kalangan pengusaha muda membangun warkop, karna kebanyakan masyarakat kota Bulukumba menghabiskan waktu nongkron mereka di warkop.

Tak heran dimamfaatkan pula oleh kalangan politisi berbincang-bincang membahas startegi mereka menghadapi Pemilu legislatif 2019 sekaligus menjadi tempat mencari panggung demi menaikkan nama mereka di percaturan di dunia politik.

Walau warkop acap kali menjadi tempati panggung politisi, tidak menurungkan minat masyarakat Bulukumba menikmati kopi di warkop.

Anggapannya sudah menjadi lumrah dan sesuatu hal yang wajar-wajar saja, selama tak memaksa mengikuti dogma politik mereka.

Kopi di Bulukumba sudah menjadi komoditas barang pokok masyarakat bulukumba, sehingga para petani pun berlomba-lomba menanam kopi, sebagai lahan pertanian yang menguntunkan.

Sudah ada kopi yang mulai dikemas dan dikenal sebagai “kopi kahayya”, mungkin tidak setenar produk “kopi toraja”, tapi setidak sudah menjadi langkah awal untuk mengetahui cita rasa kopi khas Bulukumba.

Menjamurnya kedai kopi di Bulukumba, membuat pemilik kedai kopi merenovasi tempat mereka dengan nuansa lukisan mural demi menambah suasana kekinian.

Dulunnya hanyalah semata-mata hanya tempat nongkron dan ngopi saja, lambat laun akan ketatnya persaiangan konsumen membuat para pemilik kedai kopi berupaya mengeluarkan inovasi cermerlang mereka miliki demi menarik konsumen berkunjung menikmati kopi dan menu lainnya.

Namun ada satu warkop yang masih konsisten dan bertahan dengan nuansa lamanya yaitu “Warkop Kampong” tetap dengan cita rasa yang sama, tanpa menyediakan wi-fi.

Mungkin ini lebih baik dan tampil beda dengan warkop lainnya, dengan tanpa wi-fi, orang mampu menikmati kopinya. Memang banyak yang suka nongkron di warung kopi bukan karena kopinya melainkan kecepatan wi-fi-nya.

Orang seperti ini, yang suka main game dan download film. Sehingga kemurnian menikmati kopi yang di pesan tidak dinikmati sepernuhnya. Soal inovasi ruang kopi tak sehebat yang ada dikota-kota besar yang ada di, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Barista kopinya banyak mengetahui tentang cita rasa kopi dan mampu menjelaskan kepada pelanggangnya, seperti tempat yang pernah saya datangi di “Klinik Kopi” Yogyakarta, kecerdasannya mampu menjelaskan berbagai rasa dan karakter kopi di berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Setiap yang berkunjung di Klinik Kopi diberikan penjelasan langsung oleh baristanya. Jadi selain menikmati kopi dapat pengatahuan pula tentang kopi.

Keberagaman cita rasa dan karakater kopi ditiap daerah menjadi peluang besar bagi perekonomian Negara, sebagaimana apa yang di sampaikan oleh bapak Presiden RI Joko Widodo pada sambutan saat membuka pameran Ideafest 2018 di JCC, Senayan, Jakarta

“Negara kita ini memiliki kekuatan besar misalnya kelapa sawit, tapi sampai sekarang ini belum ada fakultas kelapa sawit. Ada yang namanya produk kopi, tidak ada di Indonesia ini (fakultasnya)”

Apa yang disampaikan oleh bapak President RI merujuk pada pembahasan kopi, setidak dibuatkan sebuah program studi kampus perihal tentang kopi, yang di dalamya membahas mulai dari pembibitan kopi sampai pada peracikan kopi, sebab kopi sudah menjadi sebuah konsumen pokok bagi masyarakat.

Mengakhiri tulisan kali ini, berharap menjamurnya warung kopi yang ada di Bulukumba tetap menjadi sebuah peningkatan perekonomian.

Selain dari itu membuka lowongan kerja dan mengurangi angka pengangguran yang ada di Kabupaten Bulukumba.

Selamat menikmati dan serupuk kopinya, karna satu dan dua kali tegukan kopi dua, tiga masalah terlampaui. [*/shar]

Penulis : Ikhlasul Amal Muslim
Aktivis Mahasiswa