PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sulsel Dipanggang Suhu 35 Derajat, Pegunungan Diselimuti KabutGPM Makassar Diserbu Warga, Beras SPHP 5 Kg Dijual Rp58 RibuPI Migas Blok Sengkang Naik Jadi 10 Persen, Wajo Dapat 50 Persen untuk Daerah PenghasilKortastipidkor Polri Geledah Kantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa, Dugaan Pungli PBG Makin MelebarBone Rebut Piala Gubernur Sulsel 2026, Juara Bertahan Sidrap Tumbang di Adu PenaltiPergantian Ketua DPRD Jeneponto Mandek, Pimpinan Minta Berkas NasDem Dikonsultasikan ke PemprovPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sulsel Dipanggang Suhu 35 Derajat, Pegunungan Diselimuti KabutGPM Makassar Diserbu Warga, Beras SPHP 5 Kg Dijual Rp58 RibuPI Migas Blok Sengkang Naik Jadi 10 Persen, Wajo Dapat 50 Persen untuk Daerah PenghasilKortastipidkor Polri Geledah Kantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa, Dugaan Pungli PBG Makin MelebarBone Rebut Piala Gubernur Sulsel 2026, Juara Bertahan Sidrap Tumbang di Adu PenaltiPergantian Ketua DPRD Jeneponto Mandek, Pimpinan Minta Berkas NasDem Dikonsultasikan ke Pemprov
Iptek

Waspada, Indonesia Akan Didera Gelombang Panas Mematikan

647
×

Waspada, Indonesia Akan Didera Gelombang Panas Mematikan

Sebarkan artikel ini

IPTEK – Ketika manusia berhasil menghadang laju pemanasan global di kisaran dua derajat Celcius, namun ternyata daerah tropis seperti Indonesia tetap akan didera gelombang panas mematikan. Para Ilmuwanpun meyakini hal ini tidak bisa dihentikan.

Perubahan iklim akan meningkatkan potensi gelombang panas mematikan bahkan jika manusia berhasil mencegah laju pemanasan global menjadi maksimal dua derajat Celcius seperti yang tertera pada Perjanjian Iklim Paris. Kesimpulan tersebut diungkapkan ilmuwan AS dalam Journal Nature Climate Change.

Indonesia diyakini bakal menghadapi lebih dari 300 gelombang panas setiap tahun. Nasib serupa akan dialami Filipina, Brazil, Venezuela, Sri Lanka, India, Australia dan Nigeria.

“Dengan temperatur dan kelembapan yang tinggi, hanya butuh sedikit pemanasan untuk mengubah cuaca menjadi mematikan,” kata Camilo Mora, Guru Besar Biologi di Universitas Hawaii.

Bahkan jika manusia berhasil menerapkan sasaran iklim sesuai perjanjian Paris, kota-kota besar seperti Jakarta atau Manila tetap akan melampaui ambang batas “panas mematikan” pada setengah tahun pertama.

“Kami menemukan gelombang panas mematikan akan muncul lebih sering di seluruh dunia dan tren ini tidak lagi bisa dicegah,” kata Mora.

“Bahkan jika kita melampaui target pada perjanjian Paris, populasi yang akan terkena dampak gelombang panas akan mencapai 50% pada 2100.” Saat ini pun sudah sekitar 30% penduduk Bumi mengalami gelombang panas minimal sekali dalam setahun.

Sejak awal abad 21, gelombang panas telah menelan banyak korban jiwa. Musim panas 2003 silam misalnya menewaskan sekitar 70.000 orang di seluruh dunia.

Di masa depan kawasan tropis seperti Asia Tenggara akan mendapat dampak terburuk gelombang panas dengan jumlah “hari mematikan” dalam setahun jauh melebihi kawasan lain di Bumi, menurut analisa PBB.

“Jika cuacanya terlalu panas dan lembap, panas dari dalam tubuh tidak bisa keluar,” kata Mora. “Ini memicu kondisi yang disebut ‘sitotoksin panas” yang merusak organ tubuh. Seperti terbakar matahari, tapi di dalam tubuh.”

Tim saintis bentukan Camilo Mora beranggotakan 18 ilmuwan iklim dari seluruh dunia. Untuk merampungkan studi tersebut mereka menganalisa kondisi dan tren perubahan cuaca di 1.900 lokasi di dunia. (dw-4ld)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com