MAKASSAR—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di Sulawesi Selatan pada 24 hingga 26 April 2026 didominasi awan tebal dan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Sejumlah wilayah bahkan berpotensi mengalami curah hujan lebih tinggi yang perlu diwaspadai karena berisiko memicu genangan hingga banjir.
Di Kota Makassar, cuaca diprediksi berawan sejak pagi hingga siang, sebelum hujan ringan turun pada sore hingga malam hari. Suhu udara berkisar 24–32 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi mencapai 95 persen, kondisi yang mendukung terbentuknya awan hujan.
Wilayah pesisir selatan seperti Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng juga menunjukkan pola serupa. Hujan ringan diperkirakan turun secara merata pada siang hingga malam hari selama periode tersebut. Dengan kelembapan udara yang tinggi dan durasi hujan yang cukup lama, kawasan ini berpotensi mengalami genangan, terutama di daerah dengan sistem drainase kurang optimal.
Perhatian khusus perlu diberikan pada wilayah Gowa, Maros, dan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Di Maros, hujan ringan diprakirakan turun berulang sejak siang hingga malam dengan suhu berkisar 22–31 derajat Celsius dan kelembapan hingga 98 persen. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir lokal, terutama di wilayah dataran rendah dan sekitar aliran sungai.
Sementara itu, di Kota Parepare, cuaca cenderung berawan sepanjang hari dengan suhu 24–32 derajat Celsius. Meski hujan tidak selalu dominan, kelembapan udara yang tinggi hingga 97 persen tetap membuka peluang turunnya hujan ringan secara tiba-tiba, yang dapat memicu genangan di sejumlah titik.
Di wilayah tengah seperti Soppeng, kondisi berawan mendominasi dengan suhu berkisar 23–32 derajat Celsius. Tingkat kelembapan yang tinggi dan potensi hujan ringan yang terjadi secara sporadis membuat wilayah ini tetap perlu waspada terhadap akumulasi air, terutama di area yang rawan tergenang.
Selain itu, daerah seperti Bone, Wajo, dan Sidenreng Rappang (Sidrap) juga diprediksi akan mengalami hujan ringan hingga sedang yang terjadi secara berkala. Meski tidak selalu berlangsung lama, intensitas hujan yang berulang dapat menyebabkan tanah jenuh air dan meningkatkan potensi banjir maupun longsor.
Di wilayah utara dan timur, seperti Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur, hujan ringan diperkirakan turun hampir setiap hari dalam periode ini. Kondisi ini patut diwaspadai, khususnya di daerah dataran rendah dan sekitar bantaran sungai.
Adapun wilayah dataran tinggi seperti Enrekang, Tana Toraja, dan Toraja Utara juga berpotensi diguyur hujan dengan intensitas cukup sering. Selain risiko longsor, limpasan air dari wilayah pegunungan ini juga dapat berdampak ke daerah hilir.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan genangan, terutama di wilayah yang kerap terdampak saat hujan dengan durasi panjang. Warga yang tinggal di sekitar sungai, daerah rendah, maupun kawasan rawan longsor diminta untuk terus memantau kondisi cuaca dan lingkungan sekitar.
Dengan intensitas hujan yang cenderung meningkat dalam tiga hari ke depan, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di Sulawesi Selatan. (Ag4ys)













