OPINI—Forestcape Bissoloro, destinasi wisata alam yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, kini menjadi perbincangan. Kawasan yang kaya akan hutan tropis ini menawarkan pengalaman berwisata yang memukau sekaligus mengedukasi tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Keindahan alam berpadu dengan inisiatif masyarakat lokal dan pemerintah daerah untuk mengembangkan ekowisata di kawasan hutan konservasi.
“Tujuan utama pengembangan ini adalah untuk menjaga pelestarian lingkungan sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar,” ujar Sahril, pengelola Forestcape Bissoloro, pada Sabtu, 18 Januari 2025. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen kuat terhadap keberlanjutan.
Forestcape Bissoloro menyajikan pemandangan hutan tropis yang asri, udara sejuk, serta keanekaragaman flora dan fauna. Pengunjung dapat menikmati beragam aktivitas, mulai dari trekking menyusuri jalur setapak, menemukan air terjun tersembunyi, hingga berkemah di area yang telah disediakan. Lebih dari sekadar pemandangan alam, kearifan lokal masyarakat sekitar turut memperkaya pengalaman wisatawan melalui tradisi, kuliner khas, dan seni lokal.
Mutiara, salah seorang pengunjung yang ditemui pada tanggal yang sama, mengungkapkan kekagumannya, “Tempat ini nyaman dan menyegarkan, suasananya memberikan pengalaman mendalam untuk menikmati alam tanpa gangguan. Adanya tenda yang sudah disediakan dan kafe membuat pengalaman berkemah menjadi lebih praktis.” Fasilitas pendukung seperti area parkir luas, mushola, gazebo, dan warung makan telah tersedia, sementara pengembangan fasilitas tambahan seperti pusat informasi dan homestay terus diupayakan.
Namun, pengembangan Forestcape Bissoloro juga menghadapi tantangan. Sahril menjelaskan bahwa aksesibilitas menuju lokasi masih menjadi kendala utama karena kondisi jalan yang belum memadai. Pendanaan untuk pengembangan fasilitas juga menjadi perhatian. Meski demikian, komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan tetap menjadi prioritas dengan penerapan pembatasan jumlah pengunjung, pengelolaan sampah yang ketat, dan edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.
Pentingnya pelestarian dan pemberdayaan masyarakat juga ditekankan oleh Ardiana Djabbar, S.ST.Par., MM.Par, dosen jurusan Perjalanan di Program Studi D4 Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Pariwisata Makassar. Menurutnya, pendidikan, pelatihan, dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) memegang peranan krusial.
“Hal yang belum memadai adalah bagaimana kita menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam melalui pendidikan dan pelatihan. Masyarakat tentu tidak bisa berdiri sendiri, harus ada campur tangan pemerintah dalam proses ini,” ujarnya pada 23 Januari 2025.
Ardiana juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, termasuk akademisi, praktisi pariwisata, dan pemerintah, untuk memaksimalkan potensi Bissoloro’. Ia mengkritik tren pariwisata yang hanya berfokus pada spot foto tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
“Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang sustainable,” tegasnya, memberikan contoh pemanfaatan aset lokal seperti pertanian organik dan peternakan yang dapat diolah menjadi produk bernilai jual tinggi bagi wisatawan. Pengelolaan sampah yang baik, termasuk pembatasan makanan dari luar dan promosi makanan tradisional organik, juga menjadi sorotannya.
Pengelolaan Forestcape Bissoloro melibatkan masyarakat lokal dalam berbagai aspek, mulai dari pemandu wisata hingga pengelola warung makan. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan antara wisatawan dan budaya lokal.
Dengan pendekatan yang holistik ini, Forestcape Bissoloro diharapkan menjadi ikon wisata berkelanjutan yang tidak hanya menarik wisatawan lokal dan mancanegara, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. (*)
Penulis: Nurannisa (Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)













