MEDIASULSEL.com,- Potensi ancaman longsor makin meningkat di wilayah Ponorogo. Tanah retak disertai bunyi gemuruh di Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo menyebabkan jumlah pengungsi bertambah. Jika pada awalnya pengungsi dari Dusun Watuagung Desa Dayakan berjumlah 249, saat ini bertambah menjadi 341 jiwa menyusul adalah dentuman suara gemuruh sangat keras sebanyak 21 kali pada Senin (10/4/2017).
Hal itu terungkap berdasarkan data yang diterima Media Sulsel dari Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rabu (12/4) dini hari.
Lebih lanjut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan, bahwa lebar tanah yang retak mencapai sekitar panjang 300 meter, lebar 40 centimeter dan kedalaman 3 meter di Watuagung. Warga terdampak sebanyak 91 orang yang berlokasi di Dukuh Kliur RT. 8 yang berada langsung di bawah Dusun Watuagung ikut mengungsi sehingga keseluruhan pengungsi berjumlah 341 orang.
Semestinya itu, sebanyak 22 unit rumah rusak dari total 69 unit rumah yang terdampak sehingga penghuninya dikosongkan seluruhnya. Masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas di rumahnya dan di sekitar daerah terlarang untuk mengantisipasi kemungkinan longsor.
Seluruh pengungsi saat ini ditempatkan di 2 tenda pengungsi, SD 2 Dayakan dan rumah penduduk yang ditunjuk sebagai tempat pengungsian yakni rumah Mariman, Sriyono, Nyaman, Mujoko, Siman, Giyanto.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNBD) Ponorogo telah mendirikan Posko di Balai Desa Dayakan. Pemantauan dan koordinasi dilakukan bersama dengan Muspika dan Perangkat Desa.
BPBD Ponorogo bersama TNI, Polri, Tagana, PMI, SKPD, relawan dan masyarakat memberikan bantuan logistik, tenda, tikar, selimut, terpal, kebutuhan air bersih, MCK dan lainnya. BMKG Tretes Malang telah memasang seismograf untuk mendeteksi gempa dan getaran tanah.
Lebih lanjut Sutopo juga menyampaikan, bahwa kebutuhan mendesak saat ini adalah kebutuhan keperluan balita, keperluan mandi, pakaian layak pakai, pelayanan kesehatan, sanitasi dan lainnya.
Sementara itu pencarian 24 korban hilang yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo telah dihentikan. Kondisi medan yang berat dan adanya ancaman longsor susulan menyebabkan semua pihak menyepakati bahwa pencarian korban dihentikan. Masyarakat telah mengikhlaskan anggota keluarga yang belum berhasil ditemukan menyusul adanya longsoran susulan yang cukup besar pada Minggu (9/4/2017).
Dengan demikian, dari 28 korban jiwa yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo pada 1/4/2017, 4 jenasah berhasil ditemukan dan 24 orang dinyatakan hilang.
Lebih lanjut BNBP menghimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaannya mengingat potensi longsor masih tinggi di wilayah Ponorogo. Hujan berintensitas tinggi masih berpeluang hingga awal Mei. Kondisi tanah sudah jenuh air. Apalagi kondisi batuan sudah banyak yang mengalami pelapukan sehingga mudah longsor.(4cong/464ys)













