RANTEPAO—Ribuan umat Katolik memadati Gereja Paroki Santa Theresia Rantepao, Jumat (3/4/2026), untuk mengikuti perayaan Jumat Agung dalam suasana hening dan penuh penghayatan. Ibadah ini menjadi puncak refleksi iman umat dalam rangkaian Pekan Suci, sekaligus momentum memperdalam makna pengorbanan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan yang dipimpin Petrus Boddeng Timang berlangsung khusyuk. Umat mengikuti setiap rangkaian liturgi, mulai dari Jalan Salib hingga penghormatan salib, sebagai simbol penghayatan atas sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Dalam homilinya, Uskup Petrus menegaskan bahwa wafatnya Yesus bukan sekadar peristiwa duka, melainkan wujud kesetiaan dalam menjalankan misi Allah demi keselamatan umat manusia. Ia mengingatkan, kasih Allah yang besar menjadi dasar harapan bagi umat di tengah berbagai persoalan hidup.

“Ini bukan malapetaka, tetapi bukti kasih Allah yang tidak membiarkan manusia binasa karena dosa,” ujarnya di hadapan umat.
Lebih jauh, ia mengajak umat untuk tidak berhenti pada seremoni ibadah, tetapi menghadirkan nilai-nilai Jumat Agung dalam kehidupan nyata. Semangat kasih, kepedulian, dan sikap saling memanusiakan atau “sipakatau” disebutnya sebagai inti dari iman yang hidup.
Umat, kata dia, juga dipanggil menjadi duta kasih yang berani membela kebenaran dan keadilan tanpa menebar kebencian. Meneladani Yesus, keberpihakan pada kebenaran harus tetap mengedepankan kasih terhadap sesama.
Menurutnya, Jumat Agung merupakan jalan menuju Paskah, yang membawa pesan kuat tentang kemenangan terang atas kegelapan. Penderitaan dan ketidakadilan, lanjutnya, bukanlah akhir dari segalanya.
“Harapan itu tidak pernah padam, karena janji Tuhan selalu pasti,” tutupnya. (4nny)













