SIDRAP – Ketergantungan petani dan peternak terhadap bahan bakar minyak (BBM), gas, hingga mesin diesel yang selama ini menguras biaya operasional mulai ditinggalkan. Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), listrik kini menjadi senjata baru untuk menekan ongkos produksi sekaligus mendongkrak produktivitas sektor pangan.
Perubahan itu terlihat di kawasan persawahan Gapoktan Duampanua, Desa Baranti. Sebanyak 11 titik pompa irigasi yang mengairi sekitar 1.750 hektare sawah kini beroperasi menggunakan listrik PLN melalui Program Electrifying Agriculture (EA). Sebelumnya, petani harus bergantung pada tabung LPG dan mesin berbahan bakar fosil yang biayanya jauh lebih mahal.
Jika sebelumnya petani menghabiskan sekitar Rp75 ribu per hari atau Rp2,25 juta per bulan untuk mengoperasikan pompa air menggunakan gas, kini biaya tersebut turun drastis. Dengan konsumsi listrik rata-rata 250 kWh per bulan, biaya operasional hanya sekitar Rp270 ribu.
Bukan hanya soal penghematan. Petani juga tidak lagi direpotkan mencari bahan bakar setiap hari. Operasional pompa menjadi lebih praktis, minim gangguan, tidak bising, dan lebih ramah lingkungan dibandingkan mesin konvensional.

Ketua Gapoktan Duampanua, Ruslan, mengaku peralihan ke listrik memberikan dampak langsung terhadap usaha tani masyarakat. Menurutnya, biaya produksi dapat ditekan hingga tiga sampai empat kali lebih hemat dibanding sebelumnya, sementara aktivitas pengairan menjadi lebih mudah dan efisien.
Transformasi serupa juga terjadi di sektor peternakan. CV Cahaya Tiga Putri, salah satu peternakan ayam petelur terbesar di Sidrap, kini mengandalkan listrik PLN untuk menjalankan sistem kandang modern. Sebelum beralih ke listrik, peternakan tersebut mengeluarkan biaya energi sekitar Rp240 juta per bulan karena bergantung pada pembangkit diesel. Kini, biaya itu turun menjadi sekitar Rp60 juta per bulan.
Efisiensi tersebut membuka jalan bagi penerapan teknologi peternakan yang lebih modern. Sistem pemberian pakan, pengaturan suhu kandang, ventilasi hingga pencahayaan dapat dioperasikan secara otomatis, membuat produktivitas ternak meningkat tanpa dibebani biaya energi yang tinggi.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menilai elektrifikasi pompanisasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong peningkatan hasil pertanian daerah. Ia optimistis kehadiran listrik di sektor pertanian mampu mendukung target panen hingga tiga kali dalam setahun sekaligus memperkuat posisi Sidrap sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Hingga Mei 2026, PLN UID Sulselrabar mencatat sebanyak 4.280 pelanggan telah bergabung dalam Program Electrifying Agriculture dengan total daya terpasang mencapai 206.312 kVA. General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan listrik tidak lagi sekadar kebutuhan dasar, melainkan menjadi energi penggerak produktivitas yang membantu petani dan peternak meningkatkan hasil usaha dengan biaya yang jauh lebih efisien. (70n/4dv)














