PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Valas bagi Pelaku Wisata dan Usaha Kawasan Timur Indonesia: Enam Hal yang Sering TerlewatSisi Lain To Manurung dalam Sejarah Raja-raja Bone: Figur Awal Konstruksi Legitimasi KerajaanPejabat ATR/BPN hingga Bos Summarecon Terjaring OTT KPK, Uang Ratusan Miliar DiamankanKuasa Hukum Pertanyakan Tindak Lanjut Dumas di Propam Polda SulselMulai Besok Pemkab Jeneponto Terapkan BBM Ganjil-Genap di Seluruh SPBULPG 3 Kg Langka di Makassar, Appi Desak Pertamina Investigasi Total PangkalanPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Valas bagi Pelaku Wisata dan Usaha Kawasan Timur Indonesia: Enam Hal yang Sering TerlewatSisi Lain To Manurung dalam Sejarah Raja-raja Bone: Figur Awal Konstruksi Legitimasi KerajaanPejabat ATR/BPN hingga Bos Summarecon Terjaring OTT KPK, Uang Ratusan Miliar DiamankanKuasa Hukum Pertanyakan Tindak Lanjut Dumas di Propam Polda SulselMulai Besok Pemkab Jeneponto Terapkan BBM Ganjil-Genap di Seluruh SPBULPG 3 Kg Langka di Makassar, Appi Desak Pertamina Investigasi Total Pangkalan
Opini

Tingginya Angka Putus Kuliah: Potret Buram Sistem Pendidikan Sekuler

155
×

Tingginya Angka Putus Kuliah: Potret Buram Sistem Pendidikan Sekuler

Sebarkan artikel ini
Tingginya Angka Putus Kuliah: Potret Buram Sistem Pendidikan Sekuler
ILUSTRASI - Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025 oleh Kemendikti Saintek menunjukkan angka putus kuliah di Indonesia sampai 2025 mencapai 289 ribu mahasiswa. Jumlah ini meningkat 2,62 persen dibandingkan dengan tahun 2024.

OPINI—Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025 oleh Kemendikti Saintek menunjukkan angka putus kuliah di Indonesia sampai 2025 mencapai 289 ribu mahasiswa. Jumlah ini meningkat 2,62 persen dibandingkan dengan tahun 2024.

Berdasarkan laporan tersebut, angka putus kuliah mayoritas terjadi pada mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS), yang mencapai 73,81 persen. Mahasiswa dari perguruan tinggi negeri (PTN) sekitar 17,20 persen dan dari perguruan tinggi agama 7,74 persen. Sisanya dari sekolah kedinasan sekitar 1,25 persen.

Menurut laporan statistik, angka putus kuliah terbanyak ada pada jenjang sarjana. Ini terjadi hampir di semua jurusan mulai dari ekonomi, teknik, sosial, hingga pendidikan. Pada program diploma (D3 dan D4), jumlah putus kuliah juga cukup terlihat pada bidang ilmu teknik, kesehatan, dan ekonomi, meskipun tidak sebesar pada program sarjana.

Sementara pada program pascasarjana (magister dan doktoral), jumlah mahasiswa putus kuliah relatif lebih kecil dan tersebar pada beberapa bidang tertentu. (detikedu, 25/ 5/2026)

Berdasarkan data tersebut, tingginya tingkat mahasiswa yang tidak menyelesaikan pendidikan tinggi mengindikasikan bahwa akses terhadap perguruan tinggi di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai kendala, khususnya yang berkaitan dengan kondisi ekonomi.

Meskipun peluang untuk menempuh pendidikan tinggi semakin luas, keterbatasan finansial yang dimiliki sebagian mahasiswa masih menjadi faktor utama yang menghambat keberlanjutan studi mereka hingga mencapai kelulusan.

Tingginya angka putus kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) dapat dijelaskan oleh struktur pendanaan institusi yang sebagian besar bergantung pada kontribusi biaya pendidikan dari mahasiswa.

Oleh karena itu, peningkatan biaya kuliah berpotensi menimbulkan beban yang lebih besar bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Kelompok mahasiswa ini cenderung menghadapi kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran biaya pendidikan maupun kebutuhan hidup selama masa studi.

Akibatnya, mereka lebih rentan mengalami hambatan dalam keberlanjutan pendidikan, yang dapat berujung pada penundaan studi, pengambilan cuti akademik, hingga keputusan untuk menghentikan perkuliahan secara permanen.

Tingginya angka putus kuliah pada jenjang sarjana menunjukkan bahwa permasalahan tersebut tidak hanya terjadi pada bidang studi tertentu, melainkan relatif merata di berbagai disiplin ilmu. Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan kecenderungan sistem pendidikan sekuler yang semakin berorientasi pada aspek ekonomi, di mana pendidikan tinggi sering dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar kerja.

Dalam kondisi demikian, perguruan tinggi berpotensi lebih menekankan fungsi penyediaan tenaga kerja dibandingkan perannya dalam membentuk karakter, pemikiran kritis, dan kontribusi terhadap pembangunan peradaban.

Akibatnya, sebagian pemuda cenderung terfokus pada pencapaian karier dan tuntutan ekonomi, sehingga ruang untuk mengembangkan idealisme serta peran sebagai agen perubahan sosial menjadi lebih terbatas. Kondisi ini dapat berimplikasi pada munculnya krisis identitas, tekanan psikologis, rasa ketidakpastian terhadap masa depan, serta kecenderungan memaknai keberhasilan semata-mata melalui pencapaian material.

Pandangan Islam Terkait Pendidikan

Islam memandang, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh pekerjaan maupun meningkatkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga sebagai proses pembentukan kepribadian Islam yang bertujuan menghasilkan individu yang bertakwa, berpengetahuan, dan mampu berperan aktif dalam pembangunan peradaban.

Pendidikan dalam Islam memiliki orientasi yang komprehensif, yakni mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh, baik dari aspek intelektual, spiritual, maupun sosial. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata dinilai berdasarkan kemampuan lulusan dalam memasuki dunia kerja, tetapi juga dari kapasitasnya dalam menghasilkan karya yang bermanfaat, menjalankan tanggung jawab sebagai hamba Allah dan anggota masyarakat, serta memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya kemaslahatan umat.

Perkembangan peradaban Islam pada masa lalu menunjukkan bahwa sistem pendidikan memiliki peran penting dalam melahirkan ilmuwan, ulama, dan cendekiawan yang berkontribusi signifikan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban manusia.

Dalam khazanah Islam, ilmu pengetahuan menempati posisi yang sangat penting, sehingga kegiatan pengembangan keilmuan memperoleh perhatian dan dukungan yang luas. Selain itu, negara memiliki tanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan dan menjamin akses yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, tujuan pendidikan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dunia kerja, tetapi juga pada pembentukan generasi yang memiliki integritas, akhlak yang baik, serta kemampuan intelektual dan sosial untuk berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi umat dan masyarakat.

Negara dalam sistem Islam memiliki tanggung jawab utama dalam mengelola dan menyelenggarakan pendidikan. Perumusan tujuan, kurikulum, serta kebijakan pendidikan diarahkan pada upaya mewujudkan kemaslahatan umat dan membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, orientasi pendidikan tidak hanya bertumpu pada aspek ekonomi, kebutuhan pasar, maupun kepentingan investasi, tetapi juga pada penguatan akidah dan pembentukan kepribadian Islam.

Selain itu, pendidikan berperan dalam menanamkan visi hidup yang berlandaskan nilai-nilai keislaman serta menumbuhkan kepedulian sosial, sehingga peserta didik mampu mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kontribusi positif yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas.

Perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai institusi yang mempersiapkan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dan industri, tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan pemikiran kritis, serta penggerak kemajuan peradaban.

Oleh karena itu, kampus diharapkan mampu menghasilkan generasi intelektual yang tidak hanya memiliki keunggulan akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat dan masyarakat.

Selain itu, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan sosial yang positif. Dengan berpegang pada nilai-nilai Islam, pemuda diharapkan mampu mengembangkan gagasan, menghasilkan karya yang bermanfaat, serta berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan kemaslahatan umat dan pembangunan peradaban yang berkelanjutan. (*)

Wallahu a’lam bishowab


Penulis:
Surni Ibrahim S.S
(Pemerhati Sosial)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com