TANGERANG – Menteri Agama RI sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (PP IPIM), Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa imam masjid memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar memimpin salat. Di tengah meningkatnya konflik dan polarisasi dunia, imam dituntut menjadi agen transformasi sosial, penjaga harmoni, sekaligus pelaku diplomasi keagamaan.
Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference 2026 dan MTQ Imam Masjid Provinsi Banten 2026 di Masjid Raya Baitul Mukhtar, Jumat (3/7/2026).
Menurut Nasaruddin Umar, paradigma lama yang menempatkan imam hanya sebagai pemimpin ibadah perlu diubah. Imam memiliki modal sosial dan otoritas keagamaan yang besar untuk membangun kedamaian di tengah masyarakat.
“Pandangan bahwa tugas imam hanya memimpin salat harus kita ubah secara fundamental. Imam memiliki social capital dan religious authority yang sangat kuat. Imam harus menjadi agen diplomasi, mampu meredam hoaks, menyejukkan umat, serta membangun koeksistensi yang damai,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan Bridging to IGIC menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas imam agar memiliki wawasan global tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam yang sahih.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian menuju International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace”. Selain pembukaan, agenda juga dirangkaikan dengan pengukuhan dewan hakim MTQ, pelantikan pengurus wilayah dan daerah IPIM Provinsi Banten, seminar masjid, serta MTQ Imam Masjid se-Banten.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Banten Andra Soni menyebut penyelenggaraan forum internasional tersebut sebagai kehormatan bagi Banten sekaligus momentum memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Indonesia.
Menurutnya, peran imam kini telah berkembang menjadi pendidik umat, penjaga moral masyarakat, penggerak sosial, dan juru damai.
“Islam hadir sebagai kekuatan moral yang mampu membangun perdamaian, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan menghadirkan harapan bagi masa depan dunia,” kata Andra Soni.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Muslim Sinar Mas, Saleh Husin, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Masjid Raya Baitul Mukhtar BSD City sebagai lokasi kegiatan.
Ia menegaskan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang penguatan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
“Masjid harus menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menumbuhkan nilai keberagaman dan persaudaraan,” ujarnya.
Ketua Panitia, Mas’ud Halimin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat kapasitas imam sekaligus memperkenalkan Banten sebagai salah satu episentrum diplomasi keagamaan Indonesia.
Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal PP IPIM, Taufiqurrahman. Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan merupakan langkah strategis membangun jejaring imam masjid dari tingkat daerah hingga internasional.
“Bridging to IGIC bukan sekadar agenda seremonial, tetapi ikhtiar membangun ekosistem imam masjid yang profesional, moderat, berdaya saing global, dan mampu menjawab tantangan zaman melalui diplomasi keagamaan,” ujarnya.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan seminar bertema Religious Diplomacy and Global Peace yang menghadirkan narasumber dari Kementerian Agama Republik Indonesia, BNPT, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Pemerintah Provinsi Banten, dan PP IPIM.
Rangkaian acara akan berlanjut pada 4–5 Juli 2026 melalui berbagai cabang MTQ Imam Masjid Provinsi Banten hingga babak final dan penutupan, sebagai bagian dari persiapan menuju International Grand Imams Conference 2026. (CR/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh. Aras Prabowo








