JOMBANG — Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang, gagasan tentang masa depan Jam’iyyah NU mulai mengemuka. Salah satunya melalui buku Imaji NU Masa Depan: Konvergensi Kemitraan dan Kekritisan yang menawarkan cara pandang baru mengenai hubungan NU dengan negara.
Buku ini hadir di tengah semarak publikasi menjelang Muktamar NU ke-35. Namun, gagasan yang ditawarkan tidak berhenti pada romantisme perjalanan NU. Para penulis justru mendorong NU menemukan titik temu antara bermitra dengan negara dan tetap kritis terhadap negara.
Kemitraan dengan negara dinilai tetap penting untuk memastikan kehadiran NU memberi manfaat bagi masyarakat. Di sisi lain, sikap kritis diperlukan agar NU tidak kehilangan peran sebagai kekuatan moral, intelektual, dan masyarakat sipil yang mampu mengoreksi kebijakan negara ketika menyimpang dari kepentingan publik.
Koordinator Pelaksana Launching Buku, Dr. Abdul Wasik, mengatakan gagasan konvergensi tersebut menjadi salah satu tawaran penting untuk membaca masa depan NU.
“NU perlu membangun jalan khidmah yang mampu bermitra dengan negara, tetapi pada saat yang sama tetap kritis terhadap negara. Konvergensi inilah yang kami tawarkan sebagai salah satu jalan menuju kemuliaan Jam’iyyah di masa depan,” ujar Abdul Wasik, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, posisi NU ke depan tidak cukup hanya memilih antara menjadi mitra pemerintah atau berada di luar kekuasaan. Tantangannya justru bagaimana NU dapat bekerja sama ketika kepentingan publik bisa diperjuangkan, sekaligus tetap memiliki keberanian menyampaikan kritik ketika kebijakan negara tidak sejalan dengan kemaslahatan masyarakat.
Buku tersebut ditulis secara kolaboratif oleh Khoiron As-Saidany, Akhmad Satori, Muhammad Aras Prabowo, Abdul Wasik, Mochammad Iwan Satriawan, Ahmad Zainul Ihsan Arif, Ahmad Anfasul Marom, Mahfudz Junaedi, Ahmad Syaifudin, Yusuf Suharto, dan Chandra Dinata.
Sejumlah penulis juga akan hadir dalam agenda launching dan bedah buku dengan perspektif keilmuan masing-masing. Dr. Ahmad Anfasul Marom akan membahas perspektif politik, Dr. Muhammad Aras Prabowo mengulas bidang ekonomi, Dr. H. Mahfudz Junaedi bidang agama, Dr. Ahmad Syaifudin bidang hukum, serta Dr. Chandra Dinata dari perspektif kebijakan.
Buku ini diterbitkan secara terbatas hanya 100 eksemplar. Harga reguler ditetapkan Rp130.000, sedangkan selama periode pre-order 12–25 Agustus 2026, buku tersebut ditawarkan dengan harga Rp100.000.
Launching dan bedah buku dijadwalkan berlangsung Ahad, 30 Agustus 2026, di PP An-Najiyah Bahrul Ulum, Jombang.
Kehadiran Imaji NU Masa Depan menjadi bagian dari ikhtiar intelektual menjelang Muktamar NU ke-35. Lebih dari sekadar buku, gagasan yang ditawarkan mengajak NU memikirkan kembali posisi strategisnya di tengah perubahan zaman: tetap dekat dengan negara ketika diperlukan, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk bersikap kritis.
Bagi NU, masa depan bukan hanya soal mempertahankan tradisi. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan khidmah tetap relevan, independen, dan mampu menjawab persoalan masyarakat tanpa kehilangan akar nilai yang selama ini menjadi kekuatan Jam’iyyah.(Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh. Aras Prabowo (Akademisi UNUSIA)













