BANDUNG — Persoalan lingkungan dan kesenjangan ekonomi mendorong lahirnya model bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menciptakan dampak sosial dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Melalui DBS Foundation Grant, Bank DBS Indonesia memperkuat ekosistem social enterprises berbasis ekonomi sirkular dengan memberikan pendanaan, pendampingan, akses jejaring, hingga peluang kolaborasi bagi pelaku usaha berdampak.
Dua penerima DBS Foundation Grant, Parongpong RAW Lab dan MYCL, menjadi contoh bagaimana inovasi bisnis dapat menjawab persoalan limbah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat rentan.
Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mencatat 21,85 persen dari 56,63 juta ton sampah tahunan Indonesia belum terkelola secara maksimal. Di sisi lain, Indonesia memiliki 17,25 juta petani gurem dan lebih dari 90 persen nelayan skala kecil yang masih berada dalam kondisi rentan secara ekonomi.
“Kami percaya bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika, Jumat (21/8/2026).
Menurut Mona, dukungan DBS Foundation diarahkan agar social enterprises tidak hanya mampu memperkuat bisnis, tetapi juga memperluas dampaknya bagi komunitas. Parongpong RAW Lab dan MYCL dinilai berhasil menunjukkan bahwa inovasi lokal dapat menjadi solusi atas persoalan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi.
Sebagai DBS Foundation Grantee 2025, Parongpong RAW Lab mengembangkan Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment Program di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi.
Program tersebut mengolah jaring ikan bekas atau ghost net menjadi material bernilai tambah. Di saat yang sama, masyarakat pesisir mendapat akses pelatihan dan peluang pendapatan tambahan.
Dalam dua tahun, program ini menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net, melibatkan lebih dari 600 nelayan dan 1.000 anggota komunitas pesisir, serta membangun dua microfactory untuk memperkuat produksi lokal.
Hingga Agustus 2026, Parongpong telah mengumpulkan lebih dari 4.500 kilogram ghost net atau sekitar 46 persen dari target 2026 dan melibatkan 179 nelayan. Program edukasinya juga telah menjangkau 150 siswa di Muncar.
Dari pengolahan tersebut, Parongpong mengembangkan Circulites, seri lampu meja dengan diffuser dari Prototiles® berbahan jaring bekas.
CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengatakan dukungan DBS Foundation membantu perusahaan membangun ekosistem dari hulu hingga hilir, mulai dari pengumpulan material, edukasi masyarakat, peningkatan teknologi hingga pengembangan produk.
“Dampak tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi juga bagaimana komunitas pesisir dapat mengambil peran aktif dalam rantai ekonomi sirkular dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, MYCL menunjukkan potensi limbah pertanian sebagai bahan baku biomaterial. Sebagai DBS Foundation Grantee pada 2016 dan 2018, MYCL mengembangkan material berbasis mycelium yang kemudian diperluas ke mycelium composite, mycelium leather, dan seaweed biopolymer.
Inovasi tersebut diarahkan untuk menyediakan alternatif material yang lebih berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi petani dan pekerja hijau dalam rantai pasok biomaterial.
Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara. Produk dan aplikasinya digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari fesyen hingga insulasi bangunan dan teknologi bernilai tambah tinggi.
MYCL juga telah bekerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas, memperlihatkan semakin terbukanya pasar global terhadap biomaterial yang dikembangkan dari Asia Tenggara.
Pada 2025, MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa dan menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau dimulsa. Perusahaan juga meng-upcycle 1,70 ton limbah substrat kembali ke rantai nilai.
Dibandingkan kulit hewan, produksi biomaterial MYCL disebut mampu menghemat sekitar 39.887 liter air dan menurunkan emisi sekitar 27,5 ton CO2.
Dampaknya juga dirasakan masyarakat. Model produksi MYCL telah memberikan manfaat bagi lebih dari 200 petani, lebih dari 600 penerima manfaat tidak langsung dari keluarga petani, serta menciptakan lebih dari 60 lapangan kerja hijau di MYCL Eco Factory.
Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo mengatakan dukungan DBS Foundation tidak hanya membantu pengembangan teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis agar inovasi dapat berkembang menjadi usaha berdampak.
“Dengan mengolah limbah pertanian menjadi biomaterial, kami ingin menciptakan material alternatif yang lebih rendah dampak, sekaligus membangun rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, pekerja, dan industri yang ingin bergerak menuju masa depan yang lebih sirkular,” ujarnya. (Ag4ys/*)











