OPINI—Generasi Z saat ini berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada realitas ekonomi yang kian mencekik.
Di sisi lain, mereka terseret arus budaya populer yang menuntut pemenuhan gaya hidup serba instan. Fenomena ini memicu krisis multidimensi yang melanda mental, finansial, hingga spiritual generasi muda.
Berdasarkan laporan komprehensif, lebih dari 48 persen Gen Z menyatakan bahwa mereka tidak lagi merasa aman secara finansial. Tekanan ekonomi global membuat generasi ini cemas terhadap masa depan mereka sendiri.
Ironisnya, di tengah keterbatasan materi tersebut, pengeluaran Gen Z untuk aspek kesenangan pribadi seperti self-reward, aktivitas healing, dan konsumsi penunjang gaya hidup justru menunjukkan grafik yang terus meningkat.
Fenomena ini bukan lagi sekadar pemenuhan kemewahan kosmetik, melainkan telah bergeser menjadi kebutuhan emosional mutlak untuk melepaskan stres akibat tuntutan hidup yang tidak ramah.
Fenomena dilematis ini bukanlah kebetulan biasa, melainkan buah langsung dari penerapan sistem Kapitalisme global. Sistem ekonomi ini berhasil menciptakan kesenjangan struktural ketika biaya hidup dan kebutuhan pokok terus meroket, sementara standar pendapatan atau upah minimum berjalan stagnan.
Dalam lanskap Kapitalisme, negara perlahan melepas tanggung jawab utamanya sebagai penjamin kesejahteraan rakyat dan pengelola kebutuhan publik dasar, seperti pendidikan dan kesehatan gratis.
Akibatnya, individu-individu Gen Z dipaksa berjuang sendirian di tengah kompetisi pasar bebas yang brutal tanpa adanya jaring pengaman sosial yang memadai.
Kondisi ekonomi yang rapuh tersebut diperparah oleh hegemoni arus gaya hidup Sekuler-Liberal yang memisahkan agama dari roda kehidupan sehari-hari.
Atas nama kebebasan individu, konsep pelarian emosional seperti self-reward dan konsumsi hedonistik dipropagandakan sebagai jalan keluar tunggal atas depresi mental.
Tekanan psikologis ini diamplifikasi oleh algoritma media sosial yang tiada henti memamerkan standar hidup mewah. Kondisi tersebut memicu ketakutan akan ketertinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO).
Akibatnya, perilaku belanja impulsif diadopsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Pada akhirnya, perilaku tersebut justru menjebak mereka dalam lingkaran setan utang dan kemiskinan materi yang lebih dalam.
Di balik semua gejala permukaan itu, sejatinya terdapat krisis yang jauh lebih substansial dan berbahaya, yakni hilangnya arah dan tujuan hidup yang hakiki dalam diri Gen Z.
Ketika standar kebahagiaan direduksi sebatas pencapaian materi fana dan kepuasan fisik sesaat, ketenangan jiwa yang hakiki akan mustahil digapai.
Generasi ini kehilangan kompas eksistensial karena sekularisme telah mengaburkan visi sejati penciptaan manusia. Hidup pun dijalani tanpa orientasi akhirat, melainkan sekadar memburu validasi semu dari manusia lainnya.
Sebagai sebuah ideologi yang sempurna dan komprehensif, Islam datang membawa jawaban sekaligus solusi sistemis terhadap krisis akut ini melalui tiga pilar konstruksi utamanya.
Pertama, melalui tatanan politik Islam berupa negara Islam, negara berkewajiban mutlak menjamin pemenuhan kebutuhan dasar seluruh warga negaranya tanpa terkecuali.
Jaminan ini direalisasikan melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) secara mandiri oleh negara. Hasilnya dikembalikan untuk fasilitas publik bebas biaya, serta penyediaan lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap kepala keluarga laki-laki.
Dengan skema ekonomi syariah ini, beban hidup Gen Z akan terpangkas secara masif. Mereka tidak lagi dibiarkan bertarung sendirian untuk sekadar bertahan hidup dari jerat komersialisasi hajat hidup publik.
Kedua, Islam secara preventif menutup rapat seluruh celah penyebaran gaya hidup hedonistik yang merusak moral bangsa.
Negara Islam mengontrol penuh kebijakan arus informasi dan media massa. Alih-alih membiarkan media menjadi corong konsumerisme liberal yang memicu FOMO, media dalam sistem Islam diarahkan sebagai sarana edukasi massal, penyebaran ilmu pengetahuan, serta peningkatan ketakwaan kolektif masyarakat.
Konten-konten destruktif yang mendewakan materi akan disaring ketat demi menjaga kesehatan mental serta spiritualitas generasi muda dari pengaruh dekadensi moral Barat.
Ketiga, dan yang paling fundamental, Islam mengonstruksi paradigma berpikir yang lurus mengenai hakikat keberadaan manusia di muka bumi.
Islam menegaskan dengan gamblang bahwa tujuan utama penciptaan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt., sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat ayat 56.
Ketika akidah Islam tertanam secara kokoh dan ideologis dalam diri Gen Z, standar kebahagiaan mereka akan otomatis berubah. Dari yang semula mengejar materi dan kepuasan ego ragawi, menjadi upaya meraih rida Allah serta kejayaan peradaban mulia Islam.
Gen Z tidak butuh sekadar ruang pelarian semu berupa healing atau self-reward konsumtif yang menguras isi dompet mereka. Sesungguhnya yang mereka butuhkan adalah perombakan sistemik yang menyeluruh.
Hanya dengan mencampakkan Kapitalisme-Sekuler dan kembali pada penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai institusi sahih, generasi ini akan mampu keluar dari himpitan hidup.
Dengan demikian, Gen Z dapat bertransformasi menjadi generasi emas pembangun peradaban gemilang masa depan. Wallahu a’lam. (*)
Penulis:
Nurfitrianti Vivi Saad, S.S., M.Pd.
(Penulis Media Online & Aktivis Muslimah Barru)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











