TORAJA UTARA — Sopir angkutan umum di wilayah Toraja mulai kelimpungan mendapatkan BBM jenis Solar. Stok di sejumlah SPBU cepat habis setelah pasokan yang sebelumnya mencapai sekitar 16.000 liter turun menjadi hanya 8.000 liter. Akibatnya, pengemudi harus berpindah SPBU, bahkan rela mengantre hingga dua-tiga jam demi mendapatkan Solar.
Kondisi tersebut terpantau di sejumlah SPBU Toraja Utara dan Tana Toraja, Rabu (2/9/2026). Di SPBU Pertamina Bolu, Toraja Utara, antrean kendaraan untuk mendapatkan Solar masih terlihat hingga siang hari. Pihak SPBU menyebut pasokan yang biasanya mencapai 16.000 liter kini hanya sekitar 8.000 liter sehingga stok lebih cepat ludes.
Seorang sopir angkutan umum trayek Rantepao-Bolu mengaku kondisi tersebut memaksanya membeli BBM melalui pengecer ketika stok SPBU habis. Untuk Pertalite, harga 5 liter di SPBU sekitar Rp50.000, sedangkan di tingkat pengecer bisa mencapai Rp65.000. Sopir lain trayek Rantepao-Makale mengaku harus mencari SPBU dengan antrean yang memungkinkan dan tak jarang menghabiskan waktu dua hingga tiga jam.
Persoalan serupa terlihat di SPBU Pertamina CV Harapan Jaya, Tete Bassi, Tana Toraja. Saat ditemui sekitar pukul 13.00 WITA, tidak terlihat antrean kendaraan, tetapi Solar dan Pertamax justru sudah habis. Pertalite masih tersedia, sedangkan Dexlite tersisa terbatas. Admin sekaligus Pengawas SPBU, Yusmin Palallo atau Ayu, mengatakan pasokan Solar normalnya sekitar 16.000 liter, namun pada waktu tertentu hanya 8.000 liter.

Menurut Ayu, jumlah pasokan bergantung pada ketersediaan stok dari Depot Pertamina Palopo. Pasokan biasanya tiba sekitar pukul 21.00-22.00 WITA dan SPBU beroperasi hingga sekitar pukul 23.30 WITA. Untuk menghindari kepadatan lalu lintas di jalur Makale-Rantepao, antrean Solar biasanya dibuka mulai pukul 04.00 hingga 07.30 WITA. Harga Biosolar di SPBU tersebut Rp6.500 per liter.
Kepala Dinas Perdagangan Toraja Utara Antonius Sulo, SH., M.Si., membenarkan adanya penurunan pasokan. Dari enam SPBU di Toraja Utara, pasokan yang sebelumnya sekitar 16 ton per hari turun menjadi sekitar 8 ton per hari. Meski belum menerima laporan resmi masyarakat, Pemkab Toraja Utara mengetahui persoalan tersebut dari informasi media sosial dan panjangnya antrean kendaraan di sejumlah SPBU.
Pemkab Toraja Utara kemudian berkoordinasi dengan Pertamina untuk meminta tambahan pasokan. Antonius mengatakan Pertamina memberikan extra delivery sehingga pasokan kembali mencapai sekitar 16 ton pada Senin dan Selasa. Pemkab juga meminta pengelola SPBU memprioritaskan pengisian Solar bagi angkutan umum dan kendaraan ekspedisi pengangkut barang.
Antonius juga meminta masyarakat, pemerintah, aparat dan media ikut mengawasi dugaan praktik pelangsiran Solar subsidi. Menurutnya, pengawasan diperlukan agar BBM bersubsidi tidak disalahgunakan dan tetap diterima masyarakat yang berhak. Persoalan ini dinilai tidak hanya berdampak kepada sopir, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran transportasi serta distribusi barang di wilayah Toraja.

Area Manager Communication, Relations & CSR Sulawesi Pertamina Patra Niaga, Lilik Hardiyanto, mengatakan Pertamina terus mengoptimalkan suplai dan mempercepat replenishment ke SPBU yang mengalami peningkatan konsumsi. Pola distribusi juga disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pertamina bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum turut memperkuat pengawasan penyaluran Biosolar subsidi.
Pertamina menegaskan mendukung pemeriksaan dan penindakan apabila ditemukan pelangsir atau praktik penyalahgunaan BBM subsidi. Lilik mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan peruntukannya serta tidak melakukan panic buying. Namun bagi sopir, persoalannya kini sederhana: Solar harus tersedia agar mereka bisa bekerja. Ketika jatah turun separuh dan antrean mencapai tiga jam, waktu dan penghasilan mereka ikut menjadi taruhan. (4nny)







