PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Negara Kaya, Rakyat Berebut Lowongan KerjaTak Cukup dengan Belasungkawa, Persit Pomdam XIV/Hasanuddin Gerak Cepat Bantu Korban Kebakaran Asrama MattoanginAngka Kematian Anak Melonjak di Tepi Barat Akibat Serangan Israel yang KejiMakassar Pamerkan Urban Farming dan Lontara+ di Forum Kota Sehat Dunia di SydneyRibuan Jamaah Padati Maulid Nabi 1448 H di Jeneponto, Paris Yasir Hadir Bersama MasyarakatTiga Pihak Klaim Lahan, Pembebasan Tanah Jembatan Kembar Barombong TerkendalaPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Negara Kaya, Rakyat Berebut Lowongan KerjaTak Cukup dengan Belasungkawa, Persit Pomdam XIV/Hasanuddin Gerak Cepat Bantu Korban Kebakaran Asrama MattoanginAngka Kematian Anak Melonjak di Tepi Barat Akibat Serangan Israel yang KejiMakassar Pamerkan Urban Farming dan Lontara+ di Forum Kota Sehat Dunia di SydneyRibuan Jamaah Padati Maulid Nabi 1448 H di Jeneponto, Paris Yasir Hadir Bersama MasyarakatTiga Pihak Klaim Lahan, Pembebasan Tanah Jembatan Kembar Barombong Terkendala
Opini

Angka Kematian Anak Melonjak di Tepi Barat Akibat Serangan Israel yang Keji

17
×

Angka Kematian Anak Melonjak di Tepi Barat Akibat Serangan Israel yang Keji

Sebarkan artikel ini
Sri Dewi Kusuma, S.Si
Sri Dewi Kusuma, S.Si (Penulis)

OPINI—Tepi Barat kembali menjadi panggung penderitaan yang tak kunjung berakhir. Anak-anak Palestina menjadi korban kekerasan yang semakin mengerikan.

Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah memperingatkan eskalasi konflik menyusul aksi tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat, termasuk terhadap 18 anak di bawah umur.

Sekitar 3.800 warga Palestina, hampir separuhnya anak-anak, juga kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan tersebut (newsrespublika.co.id, 12/08/2026).

Dalam periode Januari 2024 hingga Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Artinya, lebih dari satu anak meninggal dunia setiap minggunya.

Selain kehilangan nyawa, lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka. Hampir separuh korban mengalami cedera akibat peluru tajam.

Akibatnya, terdapat anak-anak yang mengalami cacat permanen hingga kehilangan anggota tubuh.

Dari laporan yang diterima melalui sumber-sumber Palestina, sekelompok pemukim Israel mengepung rumah-rumah warga Palestina di wilayah Ras al-Ain, Qusra, sebelah selatan Nablus, selama sepekan.

Pasukan Israel juga menghalangi aktivis dari Israel dan mancanegara yang berusaha mendekati rumah-rumah tersebut. Di dalam rumah-rumah itu masih terdapat 15 warga Palestina, termasuk anak-anak.

Kondisi kemanusiaan mereka sangat memprihatinkan. Akses terhadap kebutuhan pokok juga sangat terbatas akibat pengepungan tersebut (antaranews.com, 15/08/2026).

Persoalan ini menunjukkan bahwa kekerasan yang terus berulang tidak dapat dipisahkan dari penjajahan dan lemahnya perlindungan terhadap rakyat Palestina.

Ketika serangan terhadap warga sipil terus terjadi, sementara kecaman internasional belum mampu menghentikannya, berarti ada persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar pelanggaran kemanusiaan.

Ada ketidakberdayaan politik yang membuat agresi dapat terus berlangsung.

Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab dan menjijikkan. Kekerasan tersebut menimbulkan trauma, penderitaan, serta kerusakan nyata bagi anak-anak Palestina.

Zionis sengaja meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan, dan genosida secara senyap untuk menguasai Tepi Barat sebagaimana mereka berhasil menguasai Gaza.

Kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina harus dilawan. Sayangnya, dunia dan para penguasa di negeri-negeri Muslim justru bungkam dan tidak berani memerangi Zionis Israel.

Beginilah yang terjadi ketika negeri-negeri kaum Muslimin telah terpisah dengan sekat-sekat nasionalisme.

Teriakan penderitaan yang dirasakan anak-anak Tepi Barat tidak menjadi rasa sakit yang seharusnya juga dirasakan oleh kaum Muslimin di wilayah lainnya.

Para penguasa negeri-negeri Muslim lebih mementingkan kondisi dan dampak tersendiri bagi wilayah mereka. Lalu bagaimana dengan anak-anak di Tepi Barat?

Sama sekali tidak menjadi perhatian, apalagi diperjuangkan.

Di dalam Islam, anak-anak adalah anugerah, amanah, dan perhiasan hidup yang sangat berharga dari Allah.

Memperlakukan anak dengan kasih sayang, memberikan hak secara adil, mendidik dengan akhlak mulia, serta mengenalkan nilai-nilai keimanan atau tauhid sejak dini merupakan kewajiban orang tua.

Bahkan, Islam mengharamkan pembiaran terhadap kejahatan kepada anak-anak dan kemanusiaan secara total. Nabi SAW juga memerintahkan umat untuk memuliakan anak-anak dan mendidik mereka dengan akhlak yang baik.

Selama umat Islam tercerai-berai dalam kotak-kotak nasionalisme, sistem penjajahan Zionis akan terus leluasa melakukan pembantaian di Tepi Barat dan Gaza.

Ukhuwah Islamiyah adalah fondasi yang mengikat akidah dan nasib kaum Muslimin sebagai satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, seluruh bagian tubuh akan merasakannya.

Seperti salah satu hadis: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim).

Persatuan negeri-negeri Muslim dengan kekuatan militer, ekonomi, dan politik yang bersatu akan mematahkan hegemoni penjajah yang selama ini dilindungi dunia.

Karena itu, penegakan khilafah berdasarkan syariat menjadi kebutuhan mendesak yang akan menjadi komando tunggal untuk menghentikan agresi, membebaskan Al-Aqsa, dan melindungi anak-anak Palestina secara nyata.

Palestina tidak akan merdeka hanya dengan kutukan dan resolusi, tetapi membutuhkan kekuatan yang mengusir penjajah dari tanahnya.

Partai politik ideologis memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan umat bahwa membebaskan Al-Aqsa adalah kewajiban syar’i, bukan sekadar isu kemanusiaan.

Karena itu, seruan jihad harus dijaga agar tidak padam, dan tuntutan pengiriman tentara Islam harus menjadi agenda politik utama, bukan wacana sesaat.

Melalui kekuatan umat di bawah komando yang satu, benteng penjajahan Zionis bisa diruntuhkan dan kemerdekaan Palestina dapat ditegakkan secara hakiki. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.


Penulis:
Sri Dewi Kusuma
(Pemerhati Sosial)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com