OPINI—Generasi Z hari ini kerap dilabeli sebagai generasi yang rapuh, konsumtif, dan sulit mengelola keuangan. Namun, jika melihat lebih dekat fakta-fakta di lapangan, narasi menghakimi tersebut sama sekali tidak adil.
Gen Z sejatinya sedang hidup dalam himpitan ganda yang sangat berat.
Di satu sisi, mereka dihadapkan pada realitas ekonomi yang tidak bersahabat. Lebih dari 48% Gen Z secara terbuka menyatakan tidak merasa aman secara finansial (beritaenergi.id, 03/05/2026).
Di sisi lain, alokasi pengeluaran mereka untuk kebutuhan emosional seperti self-reward, healing, hingga pemenuhan gaya hidup sosial justru menunjukkan peningkatan yang signifikan (kompas.com, 12/08/2026).
Pos-pos pengeluaran tersebut hari ini tidak lagi dipandang oleh anak muda sebagai kemewahan atau foya-foya tanpa alasan.
Pengeluaran itu telah bergeser menjadi bentuk pertahanan diri (coping mechanism) untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan hidup yang kian mendera (kompas.com, 03/05/2026).
Fenomena ini menegaskan bahwa ada guncangan struktural dan eksistensial yang sedang dialami generasi muda kita.
Mereka tercekik oleh persoalan ekonomi, terjerat budaya konsumtif yang manipulatif, dan mengalami penderitaan batin akibat krisis makna serta arah tujuan hidup.
Tiga Pilar Krisis: Kapitalisme, Sekularisme, dan Existential Void
Persoalan yang melilit Gen Z saat ini bukanlah sekadar masalah individu yang kurang berhemat atau lemah secara mental.
Ini adalah akibat sistemik dari bekerjanya tatanan kehidupan sekuler-kapitalistik yang merusak peradaban dari berbagai sisi.
1. Jepitan Ekonomi Akibat Kapitalisme Beracun
Sistem ekonomi kapitalisme telah terbukti gagal menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial.
Dalam tatanan ini, biaya kebutuhan dasar, mulai dari tempat tinggal, pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, hingga bahan pangan, terus melambung tinggi tanpa kendali.
Sebaliknya, pertumbuhan upah riil bagi pekerja muda tergolong stagnan dan tidak sebanding dengan laju inflasi.
Parahnya lagi, negara yang mengadopsi prinsip sekuler-kapitalis cenderung menempatkan dirinya hanya sebagai regulator atau fasilitator bagi para pemilik modal.
Negara perlahan memangkas berbagai subsidi dan melepaskan kewajiban konstitusionalnya untuk menjamin pemenuhan kebutuhan primer rakyat secara cuma-cuma dan berkualitas.
Akibatnya, Gen Z dipaksa untuk bertarung sendirian di tengah pasar kerja yang sangat fleksibel, penuh ketidakpastian (job insecurity), dan serba brutal.
2. Jebakan Pelarian Melalui Gaya Hidup Sekuler-Liberal
Tekanan ekonomi yang menyiksa mental tersebut diperparah oleh hegemoni budaya sekuler-liberal.
Ketika anak muda merasa tertekan, cemas, dan lelah, sistem nilai yang ada tidak mengarahkan mereka pada ketenangan spiritual atau ketakwaan.
Sebaliknya, industri kapitalisme menangkap celah kerapuhan emosional ini sebagai peluang bisnis yang menguntungkan.
Generasi muda dicekoki narasi bahwa solusi atas stres mereka adalah konsumsi materi.
Self-reward berupa barang bermerek, coffee shop hopping, hingga perjalanan healing dapat menguras tabungan yang semestinya disimpan untuk masa depan.
Algoritma media sosial mengamplifikasi tekanan ini secara masif melalui gempuran konten pamer gaya hidup yang memicu Fear of Missing Out (FOMO).
Akibatnya, Gen Z terjebak dalam lingkaran setan. Mereka bekerja keras untuk mencari uang, lalu menghabiskannya secara impulsif demi mengobati stres akibat kerja.
Pada akhirnya, mereka kembali tidak memiliki tabungan dan merasa kian tidak aman secara finansial.
3. Krisis Tujuan Hidup (Existential Void)
Di balik masalah ekonomi dan pola konsumsi, terdapat luka yang jauh lebih mendalam: krisis makna keberadaan.
Akibat diterapkannya sekularisme, yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik, banyak anak muda kehilangan pemahaman mendasar tentang hakikat kehidupan mereka di dunia.
Agama hanya dipahami sebagai ritual formal yang kaku, tanpa mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar (al-uqdatul kubra): Dari mana manusia berasal? Untuk apa hidup di dunia? Dan ke mana manusia akan pergi setelah mati?
Ketika rida Allah dan standar syariat tidak lagi menjadi tolok ukur utama dalam berpikir dan berbuat, terjadi kekosongan jiwa.
Standar kebahagiaan pun bergeser secara dangkal dan materialistis.
Kebahagiaan diukur dari seberapa banyak kenikmatan fisik yang bisa dinikmati, seberapa mewah barang yang dimiliki, serta seberapa tinggi angka pengakuan (likes/followers) di media sosial.
Ketika pencapaian materi tersebut gagal diraih, atau ketika berhasil diraih tetapi tetap terasa hampa, Gen Z jatuh pada keputusasaan, kecemasan akut, dan krisis identitas yang berkepanjangan.
Solusi Komprehensif Islam: Membangun Peradaban dan Membebaskan Generasi
Islam memandang pemuda bukan sekadar komoditas pasar, objek pajak, atau konsumen pasif bagi pusaran industri.
Pemuda adalah pilar utama peradaban yang harus dilindungi, dibina, dan dioptimalkan potensinya.
Untuk membebaskan Gen Z dari jerat ketidakpastian dan kehampaan hidup, Islam menghadirkan solusi komprehensif dan sistemik melalui tiga pilar utama.
1. Jaminan Kesejahteraan Sistemik oleh Negara
Dalam pandangan Islam, negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus) yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan seluruh rakyatnya.
Negara Khilafah akan mengelola seluruh Sumber Daya Alam (SDA) yang tergolong kepemilikan umum, seperti minyak, gas, tambang, air, dan hutan, secara mandiri tanpa boleh diserahkan kepada pihak swasta atau asing.
Hasil pengelolaan SDA ini dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk penyediaan fasilitas publik gratis dan berkualitas tinggi, seperti pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi, layanan kesehatan mutakhir, dan keamanan.
Selain itu, negara wajib menciptakan iklim ekonomi yang sehat serta membuka lapangan kerja yang luas dan layak bagi setiap laki-laki penanggung jawab keluarga.
Ketika jaminan kebutuhan dasar telah ditanggung oleh negara dan peluang kerja terbuka lebar, tekanan finansial yang menghimpit Gen Z akan terangkat.
Generasi muda tidak lagi harus berjuang sendirian secara brutal sekadar untuk mempertahankan hidup.
2. Penataan Sistem Media dan Edukasi Publik
Islam akan menutup rapat pintu penyebaran gaya hidup hedonis, konsumtif, dan pemikiran sekuler-liberal yang merusak moral.
Dalam sistem Islam, media massa tidak dibiarkan menjadi alat propaganda bisnis kapitalis yang mengeksploitasi emosi dan kerapuhan manusia.
Negara akan mengarahkan seluruh media cetak, digital, dan penyiaran untuk menjadi sarana edukasi publik, memperkokoh ketakwaan, serta menyebarkan pemikiran-pemikiran yang membangun karakter luhur.
Budaya pamer kemewahan, konten yang memicu FOMO, serta hiburan yang melalaikan akan digantikan dengan narasi kepedulian sosial, keilmuan, dan karya-karya peradaban yang menginspirasi.
3. Pembangunan Visi Hidup Berbasis Akidah Islam
Solusi paling mendasar adalah merevolusi paradigma berpikir generasi muda melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam.
Islam menanamkan pemahaman yang utuh bahwa hakikat keberadaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT., sebagaimana firman-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Melalui kurikulum pendidikan Islam, Gen Z dididik untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah) yang tangguh.
Keimanan yang terhunjam kuat akan melahirkan kesadaran bahwa tolok ukur kebahagiaan hakiki bukanlah kenikmatan materi sesaat, melainkan pencapaian rida Allah SWT.
Dengan akidah yang kokoh, anak muda tidak akan mudah goyah oleh gilasan ujian ekonomi atau godaan hedonisme.
Mereka akan memiliki visi hidup yang melampaui batas-batas keduniaan, yaitu menjadi pemuda pembangun peradaban, pemimpin masa depan, dan pelindung kemuliaan Islam.
Penutup
Impitan ekonomi, dorongan gaya hidup hedonis, dan krisis arah hidup yang dialami Gen Z hari ini adalah bukti nyata dan tak terbantahkan atas kegagalan tatanan kapitalisme-sekuler dalam membahagiakan manusia.
Menyarankan Gen Z untuk sekadar “lebih bijak mengurus gaji”, “rajin menabung”, atau “belajar bermeditasi” di tengah sistem yang memeras darah mereka adalah tindakan dangkal yang sama sekali tidak menyentuh akar masalah.
Generasi Z membutuhkan perubahan yang fundamental dan bersifat sistemik.
Hanya dengan membuang tatanan sekuler-kapitalis dan kembali pada penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan Khilafah, Gen Z dapat terbebas secara hakiki dari jerat kecemasan finansial, keluar dari ilusi pelarian hedonisme, dan kembali menemukan harkat mulianya sebagai generasi pembawa perubahan bagi dunia. (*)
Wallahu a’lam.
Penulis:
Maisuri, S.Mat
(Praktisi Pendidikan)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.








