OPINI—Kabar Gaza beberapa waktu terakhir seakan tenggelam oleh berbagai permasalahan di masing-masing negara. Permasalahan itu seharusnya bukan menjadi alasan untuk melupakan mereka di Gaza yang berjuang mempertahankan tanah hak milik mereka.
Hal ini membuktikan bahwa masalah umat seluruhnya adalah masalah bersama. Sangat penting untuk mengetahui perkembangan Gaza Now. Sebab, terus digencarkan penghancuran hingga terbentuk Gaza New oleh negara-negara yang akan mengambil alih tanah milik rakyat Palestina.
Senin, 31 Agustus 2026, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menerobos Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki.
Dikawal pasukan pendudukan dan ditemani para pemukim, ia menggelar ritual di halaman masjid dan menyerukan berdirinya kuil Yahudi di lokasi kiblat pertama kaum Muslimin (Al Jazeera, 31/8/2026).
Tiga hari berselang, menteri yang sama memaparkan rencana “Disengagement 710”: mendorong keluarnya 250 ribu warga Gaza pada tahun pertama dan 1,86 juta dalam tujuh tahun—hampir seluruh penduduk Jalur Gaza—dibungkus istilah “migrasi sukarela” (The Times of Israel, 3/9/2026).
Rencana itu bukan igauan satu orang. Sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan rencana pengungsian massal dari Gaza masih dibahas dan hanya “dibekukan” oleh Washington.
Dokumennya sudah ada; yang ditunggu lampu hijau Amerika Serikat.
Di Tepi Barat, pada 1 September 2026, pemukim membakar Masjid Nur al-Din Zanki di Bazariya dekat Nablus dan meninggalkan coretan rasialis serta ancaman terhadap warga.
Kementerian Wakaf Palestina mencatat sedikitnya 13 masjid dilanggar kehormatannya sepanjang 2026 (Al Jazeera, 2/9/2026).
Bukan Peristiwa Terpisah
Empat kabar fakta ini adalah satu rangkaian: menghapus jejak Islam dari Al-Aqsa, mengosongkan Gaza, dan menundukkan Tepi Barat dengan teror harian.
Mengapa semua berlangsung nyaris tanpa hambatan, padahal umat Islam hampir dua miliar jiwa dan negeri-negeri Muslim mengepung Palestina dari segala arah?
Jawabannya terletak pada sistem negara-bangsa yang memecah umat ke dalam puluhan entitas. Masing-masing terkurung “kepentingan nasional”, perjanjian bilateral, dan ketergantungan ekonomi.
Tak ada satu pun otoritas politik yang punya mandat sekaligus kekuatan untuk bertindak atas nama umat. Yang tersisa hanya kecaman yang diulang setiap kali darah tertumpah, tanpa ada gerak riil untuk menolong rakyat Gaza.
Pada saat yang sama, hukum internasional modern, produk negara-negara yang dahulu menjajah dunia Islam, justru menyediakan kosakata bagi penjajahan.
Pengusiran jutaan manusia dari tanah kelahirannya dikemas sebagai “migrasi sukarela”, lengkap dengan paket insentif dan negara penampung. Kejahatan diberi tata bahasa administratif agar terdengar wajar.
Pengakuan Katz juga membuka satu hal: entitas Zionis bukan negara berdaulat yang berdiri di atas kakinya sendiri, melainkan proyek kolonial yang bergantung pada sokongan kekuatan besar.
Ketika rencana pengusiran massal menunggu persetujuan ibu kota negara lain, jelas siapa yang memegang kendali.
Perisai yang Dinanti
Dari sinilah kaum Muslimin perlu kembali kepada konsep yang diajarkan Rasulullah ﷺ: kepemimpinan Islam adalah junnah, perisai.
Perisai bukan sekadar lembaga, melainkan fungsi: melindungi setiap jiwa dan setiap jengkal tanah kaum Muslimin. Selama fungsi itu kosong, Al-Aqsa terus diinjak dan Gaza terus dihitung sebagai angka yang harus dipindahkan.
Karena itu, solusi mendasar persoalan Palestina bukan perundingan yang puluhan tahun gagal, melainkan tegaknya kembali Khilafah yang menyatukan kekuatan umat.
Seluruh negara bersatu dalam satu kepemimpinan. Dalam pandangan ini, pembebasan tanah terjajah adalah urusan negara, bukan aksi perorangan: jihad sebagai thariqah politik luar negeri dijalankan institusi resmi melalui tentara negara, terikat komando dan aturan syariat.
Khilafah juga memutus ketergantungan ekonomi-politik pada para penyokong Zionisme. Kepemilikan umum di dunia Islam—minyak, gas, dan kekayaan alam lain—dikelola sebagai milik rakyat, menjadi basis kemandirian sekaligus kekuatan pertahanan.
Sulit membayangkan penjajahan bertahan lama bila energi, dana, dan jalur logistik tak lagi dikendalikan pendukungnya.
Maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang bisa kita lakukan untuk Gaza”, melainkan “sudahkah kita mengambil bagian dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam?”
Menyumbang, memboikot, dan bersuara tetap penting. Namun semua itu tidak menghentikan buldoser yang sedang merancang pengosongan sebuah negeri.
Yang menghentikannya adalah hadirnya kembali perisai umat, ditempuh melalui dakwah pemikiran dan politik tanpa kekerasan, sebagaimana metode perjuangan Rasulullah ﷺ.
Gaza sedang menagih. Bukan air mata kita, melainkan kesungguhan kita. (*)
Wallahua’lam bi shawab.
Penulis:
Sri Rahmayani, S.Kom
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.













