OPINI—Jujur saja, rasanya ingin sekali menangis ketika Adik meraih gelar sarjana dan mendahului Kakaknya seperti saya. Benar-benar ingin rasanya meraih gelar sarjana duluan.
Sebenarnya, saya ingin sekali bisa meraih gelar sarjana lebih dulu. Ingin sekali merasakan memakai toga, berdiri di hadapan keluarga, dan melihat mereka tersenyum karena perjuangan yang selama ini dijalani akhirnya selesai.
Namun, sementara ini, saya masih harus melanjutkan perjalanan saya sendiri. Masih ada proposal, bimbingan, penelitian, dan berbagai proses yang harus saya lewati sebelum sampai pada titik yang sama.
Melihat adik lebih dahulu mencapai titik tersebut membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri: kapan giliran saya?
Adik berhasil lebih dulu ketimbang kakaknya. Pencapaiannya menjadi pengingat bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Mungkin ditakdirkan saya memang belum sampai di garis akhir, tetapi perjalanan saya belum selesai.
Untuk Adikku, selamat atas gelar sarjana yang telah berhasil diraih. Terima kasih telah memberikan kebanggaan bagi keluarga. Semoga pencapaian ini menjadi awal dari perjalanan hidup yang lebih luas.
Dan untuk diri saya sendiri, tetaplah bertahan. Tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Jika memang sedih, akui saja. Jika merasa tertinggal, jadikan itu sebagai pengingat untuk kembali melangkah, bukan alasan untuk berhenti. (*)
Penulis:
Moch. Refa Amirul
(Mahasiswa)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











