Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Mengenang G30 S PKI “Berdarah penuh Luka”

888
×

Mengenang G30 S PKI “Berdarah penuh Luka”

Sebarkan artikel ini

OPINI – Pagi ini saya bangun dengan lagu penuh luka, tepat 10 Muharram 1439 H hari dimana sebaik-baik muslim berpuasa jika ingin mencium firdaus dan pintu-pintu lainnya di surga.

Mulai tiga hari lalu saya bergerilya di beberapa warung kopi, tentu bukan untuk apa-apa karena esoknya kertas jawaban harus terisi. Malam-malam kemarin saya menghabiskan untuk menonton film G 30 S PKI. Film yang sejak SD sudah menontonnya lewat kaset yang dikoleksi oleh kakek saya di Kampung. Setiap endingnya saya heran kenapa kakek saya meneteskan air mata.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Profesional betul sosok Amaroso Katamsi lelaki tua yang dulunya memerankan peran sebagai Soeharto. Dia cukup gagah dan auranya penuh wibawa. Google juga memberikan informasi yang menjadi pemeran di otak penghianatan ini adalah Syu’bah Asa aktingnya menghisap rokok sama persis Aidit di beberapa Frame sejarah yang saya lihat. Juga yang terkahir Ade Irawan yang 52 tahun lalu dia memerangkan sebagai istri Nasution, satu Jendral yang menjadi saksi dan paham betul penghianatan PKI.Nasution tidak mati dia berhasil kabur, namun anak Nasution, Ade Irma yang harus gugur. Kejam Betul.

Pagi ini kakek saya sedikit bercerita , saya coba meramu lewat kesaksiannya. Beliau dulunya orang terpenting di Barisan Tani Indonesia di kampungnya . Lebih dikenal BTI. Tak tahu menahu hingga dia menjadi seorang pelatih miliiter disana. PKI tentu perkasa mengekspos senjata dari luar negeri. Hingga mampu memfasilitasi BTI senjata api. Tidak sedikit, tapi dulunya siapapun bisa memegang senjata.

Kakek saya hanya saksi sejarah, beliau tak melanjutkan ceritanya. Pertanyaan-pertanyaan masa lalu juga masih pertanyakan saat ini. Saya yakin orang-orang yang lahir di 1965 merasa perih saat mengenang nostalgia kejam itu. Sangat perih.

Indonesia menangis betul. Kenapa tidak? PKI telah resmi lolos verivikasi pada pemilu sebelumnya bahkan sudah masuk di beberapa hati rakyat. Namun PKK menghianati negara inj yang penuh getir merebut kemerdekaannya. Siapa yang tidak sakit hati jika dulunya kita teman dekat harus menelan karena kekuasan dan egoisme golongan saja.

PKI kejam betul hari itu, malam yang menangis. Hingga hari ini kita mengenangnya sebagai peristiwa penuh sejarah dan kaya luka. Peristwa kekejaman Hak Asasi.

Generasi kita hanya bisa menonton dalam layar kaca atau mendengar cerita kakek-kakek kita. Sejak Soeharto menyerah film itu tak pernah tayang lagi. Semenjak itulah saya yakin bumbu komunis kembali membumi dari akar rumput yang tak terlihat hingga sekarang besar di beberapa negara seperti Rusia juga China.

Kita tak ingin melihat itu kembali terulang hingga anak cucu kita. Pancasila adalah ideologi resmi dihati kita. Maka harus kita pertahankan. Haru kita jaga.

Selamat mengenang luka, 52 Tahun lalu di malam yang gelap kita menangis dalam luka. Sekali lagi kita menangis dalam luka.

Hingga kenapa ada tetesan air mata di akhir filmnya. Karena disana ada Nasution yang harus membacakan pidatonya hampir sama membaca puisi dan menyebut bahwa kita semua akan kembali kepadanya Panglima Sesungguhnya. Tuhan yang maha Esa

Pesan kakek saya : Waspada dia dimana-mana.

Penulis: Ahmad Takbir Abadi
Pelajar SMAN 1 Maros

error: Content is protected !!