PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Dilema Hilirisasi tanpa IndustrialisasiBupati Paris Yasir Resmi Luncurkan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal di JenepontoKrisis Mental dan Kesepian Generasi Muda: Saatnya Kembali pada IslamKementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan KerjaUpaya Mengentaskan Kemiskinan Tak Kunjung MenuntaskanDisperkim Makassar Dorong Warga Wujudkan Rumah Sehat hingga Tingkat RTPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Dilema Hilirisasi tanpa IndustrialisasiBupati Paris Yasir Resmi Luncurkan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal di JenepontoKrisis Mental dan Kesepian Generasi Muda: Saatnya Kembali pada IslamKementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan KerjaUpaya Mengentaskan Kemiskinan Tak Kunjung MenuntaskanDisperkim Makassar Dorong Warga Wujudkan Rumah Sehat hingga Tingkat RT
Ekonomi

Rupiah Melemah, Pemerintah akan Tunda Sejumlah Proyek

940
×

Rupiah Melemah, Pemerintah akan Tunda Sejumlah Proyek

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah, Pemerintah akan Tunda Sejumlah Proyek
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Darmin Nasution. (Foto: dok).

JAKARTA – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, membuat Pemerintah melakukan sejumlah langkah penyelematan, di antaranya dengan menunda sejumlah Proyek Infrastruktur.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, Pemerintah akan menunda sejumlah Proyek Infrastruktur.

Hal ini adalah sebagai langkah Pemerintah untuk menekan laju impor yang di harapkan dapat membuat nilai tukar rupiah menjadi lebih stabil.

Meskipun tidak menjabarkan secara spesifik proyek apa saja yang ditunda, namun Darmin menjelaskan bahwa proyek itu termasuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Ada. Tapi belum. Mungkin dua hari lagi baru kita umumkan, banyak juga, di listrik aja ada beberapa, di jalan ada, di pelabuhan ada, tetapi tunggu aja deh, jangan ngomong dulu, karena belum diputuskan, engga elok itu,” kata Darmin.

Darmin menjelaskan, penundaan proyek tersebut dilakukan kepada proyek yang belum dilakukan financial closing. Pemerintah pun, kata Darmin akan mengkaji terlebih dahulu, mana saja proyek yang bisa ditunda atau proyek infrasruktur yang belum menjadi prioritas pemerintah.

Selain itu, penundaan proyek tersebut tidak akan dilakukan secara bersamaan. Hal ini akan di sesuaikan dengan kebutuhan Pemerintah nantinya.

Ini dilakukan agar pembangunan Infrastruktur di Indonesia tidak terhenti sama sekali, sehingga tetap dapat memberikan kontribusi bagi Pertumbuhan Perekonomian.

“Tapi ada satu lagi pertimbangannya, jangan sampai, eh bangun pembangkit listrik itu bisa 5-6 tahun loh, jangan sampai main stop-stop”

“Lima-enam tahun lagi kalang kabut kita, jadi harus ada ok, yang masuk daftar eligible ditunda adalah ini ditundanya tahun berapa”

“Supaya jangan sampai ada kekosongan, ada tahun, produksi yang harusnya naik, listriknya gak naik karena gak ada, gak dirancang tahunnya”

“Jadi, kalaupun nanti diumumkan ada yang ditunda, itu gak sama semua tahunnya,” lanjutnya.

Hal itu Darmin sampaikan usai melakukan rapat di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan fokus BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah adalah berusaha memperbaiki defisit transaksi berjalan (current account deficit /CAD).

“Kami perkirakan untuk tahun 2019 , defisit transaksi berjalan turun, kami perkirakan untuk tahun 2018 ini defisit transaksi berjalan kurang lebih 2,5 persen terhadap PDB, tahun depan mungkin akan bisa turun menjadi sekitar dua persen,” kata Perry Warjiyo.

Perry juga yakin, langkah kongkrit yang dilakukan oleh Pemerintah yaitu penerapan program biodiesel 20 persen (B20) sebagai bahan campuran di BBM jenis solar akan membantu memperbaiki defisit transaksi berjalan. Dengan berkurangnya impor solar diharapkan dapat membantu menurunkan CAD di akhir tahun dan tahun depan.

“Sehingga tahun depan itu, kemudian ada tambahan devisa dari penurunan impor minyak maupun tambahan ekspor itu kurang lebih 9-10 miliar akan juga menurunkan defisit transaksi berjalan mulai triwulan-triwulan ke depan ini dan secara khusus, akan lebih besar di tahun depan,” sebut Perry.

Sedangkan dari sisi Pariwisata, Perry juga yakin upaya pemerintah membangun infrastruktur pariwisata seperti membangun anjungan tambahan di Bali dan pengoperasian bandara baru di Yogyakarta nanti, dapat menambah penerimaan devisa bagi Negara dari meningkatnya jumlah wisatawan yang datang. [VOA/shar]

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com