MAKASSAR—Mantan Kepala Tim Kedokteran Istana Kepresidenan, Brigjen TNI (Purn) dr. Mardjo Subiandono, SpB, mengajak masyarakat untuk membangun optimisme dan tidak terjebak asumsi keliru yang memicu kepanikan dalam menghadapi pandemi Coronavirus Disease (Covid-19). Pesan itu ia sampaikan kepada Media Sulsel melalui pesan pribadi WhatsApp, Jumat (10/4/2020), dengan merujuk pada penjelasan ilmiah seorang ahli virus, drh. Moh. Indro Cahyono.
Dalam pesannya, Mardjo menjelaskan bahwa virus, termasuk Covid-19, merupakan benda mati yang hanya dapat bertahan hidup di media hidup. Virus tidak bisa berkembang biak atau membentuk koloni di benda mati, tetapi dapat bertahan selama droplet dari cairan flu atau ludah belum mengering di permukaan seperti baju, kain, atau meja.
“Kalau baju dicuci atau setidak-tidaknya mengering sendiri karena pengaruh lingkungan misalnya karena panas atau hembusan angin, maka virusnya akan mati. Begitupun di meja, kursi, lantai, karpet, dan sejenisnya. Intinya kalau sudah mengering ya sudah virusnya akan mati,” ujar Mardjo.
Ia juga menjelaskan bahwa jabat tangan tetap berisiko jika masih ada droplet, tetapi virus akan mati bila tangan dibersihkan. “Maka jika selesai berjabat tangan dianjurkan membasuhnya dengan antis, sabun, air panas, air asin, atau cairan cuka atau asam. Selain itu, virus ini dan juga jenis virus lainnya tidak bisa hidup di udara. Dia hanya jadi butir-butir kristal saja,” katanya.
Mardjo menyebut virus tidak dapat bertahan di air panas, air asin, atau cairan asam. Karena itu, menurut dia, orang yang terinfeksi dianjurkan mengonsumsi vitamin E dan C. Ia juga menyatakan bahwa peluang sembuh lebih besar bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh kuat dan tidak memiliki penyakit bawaan seperti gangguan paru, TB, hipertensi, asma, kanker, atau tumor.
“Untuk menekan rasa stres bagi yang sudah positif, cukup mengonsumsi vitamin dan antibiotik. Tidak perlu ke RS yang sudah ditentukan, karena itu diperuntukkan bagi mereka yang produksi antibodinya rendah,” katanya.
Ia menambahkan, stres dan panik justru memperlambat produksi antibodi. “Jika stres dan panik maka antibodinya akan lambat berproduksi, yang kemudian membuat seseorang jadi mudah terserang. Apalagi stres itu hanya membuat psikosomatik lalu membuat tubuh lemah,” ujarnya.
Mardjo juga menepis anggapan bahwa virus bisa bertahan lama di berbagai permukaan. “Di panci, di kardus, di udara, di gagang pintu, di aluminium dan lainnya itu hoaks. Sekali lagi virus tidak dapat hidup di benda-benda mati. Jika dicurigai ada droplet di sana maka cukup dibersihkan saja,” katanya.
Ia menyebut pasien yang sudah sembuh memiliki peluang kecil untuk terinfeksi kembali. “Di dalam tubuh kita ini ada yang namanya sel memori. Jika dia terinfeksi kembali maka masa inkubasinya tidak selama waktu awal terinfeksi. Hanya 24 jam. Karena sel memorinya akan menampilkan data bahwa orang ini pernah terinfeksi. Sehingga sehari kena, besok atau paling lambat dua hari sudah sembuh lagi,” ujarnya.
Penelusuran Media Sulsel merujuk pada laporan detikINET yang menghubungi drh. Moh. Indro Cahyono, peneliti virus lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Ia menyebut sebagian isi pesan berantai yang beredar memang benar, tetapi banyak pula yang dipelintir sehingga memicu polemik. Indro kemudian menyusun ulang penjelasan ilmiah mengenai Covid-19.
Dalam penjelasannya, Indro menyebut virus hanya dapat bertahan di media gelap, basah, dan dingin, serta tidak bisa hidup lama tanpa perantara tersebut. Virus berada dalam droplet dan akan mati jika droplet mengering atau dibersihkan dengan sabun, hand sanitizer, atau disinfektan. Ia juga menyebut antibodi tubuh dapat dinetralkan dengan istirahat cukup dan asupan vitamin E dan C, sementara stres justru menekan sistem kekebalan tubuh.
“Jangan stres dan panik. Karena jika stres dan panik memicu reaksi psikosomatis yang berakibat pada menurunnya produksi antibodi di dalam tubuh,” tulis Indro dalam penjelasan tertulisnya. (*)
















