Agama sumber masalah?

Penulis: Nur Ana Sofirotun (Mahasiswa Pertanian Universitas Hasanuddin)

0
91

OPINI – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi tengah menjadi sorotan publik terkait pernyataannya soal agama adalah musuh terbesar Pancasila. Yudian pun mengklarifikasi soal pernyataannya tersebut.

Menurut Yudian penjelasannya yang dimaksud adalah bukan agama secara keseluruhan, tapi mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila. Karenanya, menurutnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu religious dan agamis. (14/02/2020, Voa-Islam.com).

Pernyataannya tersebut menyita perhatian publik. Bahkan, Kepala Staf Presiden Moeldoko membela penyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi yang menyebutkan agama merupakan musuh Pancasila. Moeldoko meyakini Yudian tidak bermaksud menyudutkan bahwa agama memang menjadi musuh Pancasila.

“Ya, bisa saja memaknainya yang salah. Padahal bukan seperti itu maksudnya.” Ujar Moedoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kamis (13/2/2020, CCN Indonesia).

Menteri Agama Fachrul Razi juga ikut berkomentar. Menurutnya, Kepala BPIP tidak bermaksud menyampaikan pertentangan antar agama dan Pancasila. Justru, Yudian menyampaikan bahwa Pancasila didukung oleh para ulama dan tidak bertentangan dengan agama (13/2/2020, CCN Indonesia).

Selain menganggap islam sebagai musuh ideologi negara, rezim juga menyatakan bahwa para pencerama atau khatib jumat harus bersetifikat dengan strandar tidak menimbulkan masalah.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan bahwa khatib harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan karena posisinya sebagai penceramah akan berpengaruh pada cara berpikir, bersikap, dan bertindak dari umat islam.

Menurut wapres ma’ruf, kahtib harus memiliki pemahaman agama islam yang benar, baik dari segi pelafalan maupun pemaknaan terhadap ayat-ayat Al-Quran, sehingga ceramah yang disampaikan para khatib tidak disalahartikan oleh umat islam

Selain itu, khatib juga harus memiliki komitmen kebangsaan di tengah merebaknya ajaran-ajaran radikal di kalangan umat islam. Wapres Ma’ ruf menekankan ceramah agama yang disampaikan para khatib di setiap ibadah sahat jumat harus memuat nilai-nilai Pancasila dan Prinsip NKRI (Media Indonesia, 14/02/2020).

Menanggapi kedua pernyataan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa rezim sekuler akan selalu menempatan islam sebagai musuh saat dorongan umat mengendaki islam menjadi rujukan mencari solusi masalah bangsa.

Mengapa demikian? Karena di sistem sekuler ini, agama harus dijauhkan dari kehidupan. Baik itu di kehidupan sehari-hari maupun di kehidupan bernegara. Jika aturan agama masuk ke kehidupan bernegara, maka akan mengancam para pendukung sistem sekuler ini.

Mereka yang mendukung sistem ini akan membuat framing dengan menuduh orang-orang yang memegang teguh Al-Quran dan As-Sunnah dianggap Radikal, Intoleran dan anti Pancasia. Dengan begitu orang muslim akan anti dengan agamanya sendiri.

Pertanyaannya bagaimana dengan orang-orang korupsi? Apakah mereka bukan anti Pancasila?

Mereka mencuri uang negara dan mendapatkan hukuman yang ringan sedangkan orang yang mencuri singkong atau mencuri kayu untuk dapat makan mendapatkan hukuman yang sangat berat.

Inilah jika sistem sekuler yang diterapkan hukum akan tumpul jika memiliki kekuasaan dan lancip jika tidak memiliki kekuasaan.

Islam adalah agama yang syamil (meliputi segala sesuatu) dan kamil (sempurna). Sebagai agama yang syamil, islam menjelaskan semua hal dan mengatur segala perkara baik berupa akidah, ibadah, akhlak, makanan, muamalah, hukum dan lain-lain. Hal ini sesuai Firman Allah SWT:

“Kami telah menurunkan kepada kamu Al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu (QS. An-Nahl: 89). ”

Islam sekaligus meruapakan agama yang kamil (sempurna), yang tidak sedikitpun memiiki kekurangan. Hal ini ditegaskan dalam Firmannya;

“Pada hari ini Aku telah menyempurnkan untuk kalian agama kalian (Islam), telah melengkapi atas kalian nikmat-Ku dan telah meridhoi Islam sebagai agama bagi kalian (QS. Al-Maidah: 3).”

Sehingga Islam diturunkan untuk menyelesikan problematika manusia bukan sumber masalah. Sebab islam berasal dari sang pencipta, yang menciptakan manusia.

Selain itu, Rasulullah Saw pernah bersabda dalam sebuah hadist:

“Ikatan Islam akan lepas seutas demi seutas. Dan apabila satu simpul telah terlepas niscaya manusia akan berpegang pada simpul yang lain. Ketahuilah bahwa simpul pertama yang akan terputus adalah simpul hukum pemerintahan dan simpul terakhir adalah solat (HR. Ahmad). ”

Hadist ini pun telah terjadi sekarang. Seluruh dunia, tidak ada satu pun negara yang menerapkan hukum islam secara kaffah baik itu di negeri muslim maupun di negeri kafir.

Semestinya muslim menyadari bahwa islam sebagai din sempurna adalah ideologi dan sekulerisme tidak akan bisa berkompromi dengan islam. (*)

Penulis: Nur Ana Sofirotun (Mahasiswa Pertanian Universitas Hasanuddin)