SIDRAP—Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) bergerak cepat mengantisipasi potensi cuaca ekstrem 2026 dengan mempercepat masa tanam dan membenahi infrastruktur irigasi.
Langkah tersebut disepakati dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pangan yang digelar di Aula Saromase, Rabu (1/4/2026), sebagai tindak lanjut dari Musyawarah Tudang Sipulung 2026.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak perubahan iklim, terutama fenomena El Niño yang diprediksi terjadi pada Juli hingga Oktober.
“Kita harus bergerak cepat. Jika tidak diantisipasi sejak awal, kondisi ini bisa memengaruhi hasil produksi pertanian,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah daerah mendorong percepatan masa tanam yang dijadwalkan mulai pertengahan April. Petani juga diarahkan menggunakan benih berumur pendek agar panen bisa dilakukan sebelum puncak musim kering.
Pemkab Sidrap tetap mempertahankan target produksi gabah kering panen (GKP) sebesar 1 juta ton pada 2026, dengan fokus pada peningkatan produktivitas per hektare.
Di sektor infrastruktur, perbaikan dan pembangunan bendung terus dipacu, di antaranya Bendung Timoreng, Bulu Cenrana–Salomallori, serta Bendung Saddang.
Selain itu, program “Listrik Masuk Sawah” mulai dijalankan bekerja sama dengan PLN guna mendukung sistem irigasi berbasis pompa.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, termasuk realisasi program cetak sawah baru yang belum mencapai target. Pemkab berencana mengajukan kembali program tersebut dengan penyesuaian target.
Optimalisasi lahan melalui irigasi perpompaan, perpipaan, serta pembangunan embung desa juga terus didorong untuk meningkatkan indeks pertanaman.
Rakor ini melibatkan ratusan peserta dari unsur pemerintah daerah, instansi vertikal, penyuluh, hingga petani guna memperkuat koordinasi menghadapi tantangan sektor pertanian.
Dengan berbagai strategi tersebut, Sidrap optimistis mampu menjaga posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim. (4dy)













