Carut Marut Toleransi Dibawah Sistem Demokrasi

Penulis: Sri Hasniah Ashara, Mahasiswa Fakultas MIPA, Universitas Hasanuddin.

0
82
Mushola di Minahasa Utara.

OPINI – Perusakan rumah ibadah kembali terjadi, kali ini yang menjadi sasarannya adalah musholla yang ada di Minahasa, Sulawesi Utara dan mesjid Al Amin yang ada di Medan. Kedua mesjid itu dirusak oleh sekelompok massa.

Dalam cuitannya ust Tengku Zulkarnain berkata “Baru saja mesjid Al Amin di Jl Belibis Medan dilempari orang yang semuanya bukan orang islam. Sudah ditangkap polisi. Sekarang di Minahasa musholla dihancurkan. Semua pelaku juga bukan islam. Mau mereka apa?…”

Mesjid dan musholla yang diserang oleh orang-orang yang bukan islam menggambarkan masih lemahnya kerukunan beragama.

Padahal selama ini pemerintah selalu menggadang-gadangkan toleransi. Namun ternyata kerukanan dan toleransi yang selalu diteriakkan nihil, toleransi dan kerukunan masih sangat lemah.

Munculnya kasus ini membuat Menteri Agama Fachrul Razi buka suara. Namun tanggapannya justru membuat kecewa, terkhususnya bagi umat islam.

Fachrul menyatakan bahwa perusakan tempat ibadah jika dibandingkan dengan jumlah tempat ibadah di Indonesia memiliki rasio sangat kecil.

“Sebetulnya kasus yang ada, kita bandinglah ya, rumah ibadah di Indonesia ada berapa juta? Kalau ada kasus 1-2 itukan sangat kecil,” kata Fachrul di kota Bogor, Kamis (30/1).

Padahal bukan seberapa kecil persentase yang terjadi tapi bagaimana pemerintah bersikap tegas dengan kasus tersebut. Apalagi kasus seperti ini sudah sering terjadi. Pernyataan yang dikeluarkan oleh menteri agama tentulah tidak sepatutnya seperti itu.

Pemerintah sendirilah yang menggaungkan untuk memerangi radikalisme. Sudah jelas ini adalah kasus radikalisme.

Lalu apakah perusakan mesjid bukan tindakan radikalisme dan terorisme? Ataukah karena korbannya adalah umat islam maka itu hanyalah sekedar kasus penyerangan biasa?

Fakta selalu mengungkapkan ketidakadilan itu. Banyak contoh kasus yang memperlihatkan ketidakberpihakan pemerintah.

Seperti pada kasus penyerangan beberapa ustadz yang pelakunya dibebaskan karena dianggap “orang gila”.

Justru sebaliknya, jika yang menjadi korban bukan islam apalagi jika yang menjadi pelaku adalah orang yang beragama islam pasti selalu diidentikkan dengan terorisme dan pelakunya pasti selalu diidentikkan dengan orang yang taat beragama.

Pemerintah seolah lebih berkonsentrasi menegakkan pembelaan berlebihan terhadap orang minoritas, termasuk dalam sikap beragama.

Sistem yang ada saat ini tentulah telah gagal dalam mewujudkan kerukunan beragama. Adanya tumpang tindih dalam sikap adil ketika ada kasus agama menguatkan hal tersebut.

Seruan sikap toleran dan kebebasan beragama dalam kondisi sistem yang yang buruk dalam mengatur persoalan hubungan antar agama hanya menjadi seruan mandul yang tidak melahirkan apapun.

Hubungan antar agama membutuhkan sistem yang handal. Dalam hal ini negara penentu apakah kehidupan umat antar agama akan harmonis atau berantakan. Sistem saat ini sudah terbukti gagal dalam mewujudkan keharmonisan tersebut.

Islam menjadi solusi yang tepat, sejak dulu islam dalam kepemimpinannya selalu mampu meberikan kedamaian pada umat. Selalu mampu mengatur hubungan umat beragama sehingga memunculkan kehidupan yang harmonis.

Pada saat Sultan Muhammad Al Fatih sukses menaklukkan Konstantinopel banyak wajah kaum Kritiani yang pucat pasih dan menggigil ketakutan.

Tapi Sultan Muhammad Al Fatih membebaskan mereka tanpa terluka dan tentunya memberikan kebebasan untuk tetap pada agama mereka. Bukan hanya sekedar kata namun memang dibuktikan oleh beliau.

Tak ada paksaan bahkan ketika mereka tunduk pada khilafah mereka diberi kesejahteraan dan dilindungi oleh negara. Itulah islam, rahmat bagi seluruh alam.

Tak hanya rahmat untuk umat islam saja tapi seluruh umat manusia bahkan rahmat untuk alam semesta. Karena islam merupakan tata kehidupan yang berasa dari Pencipta alam semesta dan seisinya. Tentulah Dia yang paling tahu aturan yang tepat untuk ciptaanya.

Penjelasan Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Jules Abraham Abast

Beberapa waktu lalu, beredar di media sosial sebuah isu dimana ada sekelompok orang merusak Mushola di Minahasa utara.

Namun, menurut Kabid Humas Polda Sulut Kombes Jules Abraham Abast mengatakan, peristiwa perusakan itu benar terjadi namun, kata Kombes Jules yang dirusak bukanlah Mushola.

“Bukan perusakan Masjid atau Mushola itu perusakan Balai Pertemuan Umat (BPU) Muslim di Perum Griya Agape, Desa Tumalunto, Kauditan, Minahasa Utara,” kata Kombes Jules Abraham, Kamis (30/1/2020).

Tempat tersebut sering dipakai untuk Ibadah dan Jamaah setempat sempat mengurus rekomendasi untuk menjadikan BPU sebagai Mushola, namun masih dalam proses.

Dalam jumpa pers yang digelar di Mapolresta Minahasa Utara, disampaikan bukan tempat Ibadah yang dibongkar tapi BPU. (*)