Sekulerisme Menjadikan Materi sebagai Tujuan
Lalu, apa yang membuat masyarakat ini sampai tertarik untuk berinvestasi? Rupanya para pelaku investasi bodong ini tak jarang melibatkan tokoh agama ataupun tokoh masyarkat untuk menarik perhatian mereka.
Alhasil, masyarakat pun menilai bahwa investasi ini bisa dipercaya dan tidak ada masalah. Sama halnya dengan para crazy rich, tak jarang mereka pun menjadi model investasi tersebut.
Kemudian, dengan kekayaan dan kehidupan mewah yang mereka miliki, dipertontonkan dan dipamerkanlah untuk semakin menambah keyakinan publik bahwa investasi tersebut bukanlah abal-abal.
Karenanya, siapapun akan tergiur dan tergoda dengan kehidupan mewah yang dipertontonkan oleh para crazy rich, hingga pada akhirnya membuat masyarakat mau dengan suka rela berinvestasi.
Apatah lagi, sistem kehidupan saat ini sangat mendukung. Yang mana, sistem ini memang menjadikan banyaknya materi yang dimiliki sebagai tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan di dunia.
Maka, berlomba-lombalah mereka untuk meraih materi sebanyak-banyaknya meski harus menempuh jalan yang salah atau haram.
Sebab, sekulerisme yang merupakan asas dari sistem kapitalisme ini, tak lagi membuat mereka berpikir jalan yang ditempuh ini apakah sesuai dengan syariat-Nya. Ataukah justru melanggarnya.
Memang inilah sekulerisme itu, agama tak ada dalam kehidupan. Agama hanya ada dalam ranah individu semata berupa hubungan hamba dengan penciptanya dalam hal ibadah.
Sehingga wajar, jika masyarakat dalam kehidupannya tak menjadikan halal haram sebagai tolok ukur dalam berbuat.
Akibatnya, tanpa berpikir panjang masyarakat tergiur untuk berinvestasi dengan harapan kehidupan mereka bisa lebih baik dan lebih nyaman kedepannya. Sebagaimana kehidupan para crazy rich yang dikelilingi harta berlimpah.
Sedangkan bagi mereka yang melakukan kecurangan melalui investasi bodong mereka, mereka hanya berpikir bagaimana bisa meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli telah melakukan kebohongan kepada para publik.











