OPINI—Pada Agustus 2019 lalu terjadi aksi unjuk rasa warga Papua. Di mana aksi ini bertepatan dengan penandatangan Perjanjian New York, juga pembahasan tentang Papua pada pertemuan Forum Kepulauan Pasifik di Tuvalu yang juga diikuti oleh Pimpinan Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat, Benny Wenda.

Tak main-main, tuntutan massa sejumlah ormas asal Papua ini. Yaitu, mereka menuntut penentuan nasib tanah Papua lewat referendum, yaitu tetap bergabung atau disintegrasi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bendera Bintang Kejora yang menjadi simbol Organisasi Papua Merdeka berkibar ditengah berkumandangnya tuntutan tersebut.

Dan, kini dengan terang-terangan Benny Wenda, mengumumkan pembentukan pemerintahan sementara Papua Barat pada 1 Desember 2020 lalu. Tentu saja, jagat Indonesia dikejutkan dengan deklarasi ini. Kelompok United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) mengumumkan Pemerintahan Sementara Papua. Benny Wenda, ketua kelompok tersebut, mengklaim sebagai Presiden Sementara Papua Barat.

Menurut Mahfud MD, Benny Wenda adalah seorang narapidana yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Namun, Benny melarikan diri ke Inggris. Bahkan status kewarganegaraan Indonesianya kini telah dicabut. (tribunnews.com, 4/12/20).

Ancaman disintegrasi itu semakin nyata. Kejadian ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada tindakan tegas dari penguasa. Janganlah nasib Papua berakhir seperti Timor-Timur. Yang saat itu melalui referendum berhasil lepas dari Indonesia pada tahun 1999.

Akar Persoalan

Tak ada asap kalau tak ada api. Begitulah kata pepatah. Papua ingin memisahkan diri dari negara induknya, tak mungkin tanpa ada sebab. Ada yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut. Papua terkenal dengan daerah yang sangat kaya raya sumber daya alamnya. Dengan kekayaan ini, mereka sangat yakin dapat berdiri sebagai negara mandiri. Apalagi dikabarkan sudah ada 111 negara yang mendukung kemerdekaan Papua, di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, dan Jepang.

Di satu sisi, adanya ketidakadilan, terutama dalam hal ekonomi yang menghantarkan kekecewaan pada mereka. Papua dengan kekayaan alamnya yang banyak, namun kekayaan tersebut dikuasai oleh para kapitalis.

Sementara rakyat Papua tak mendapatkan apa-apa. Juga, kesejahteraan yang tak didapatkan oleh rakyat Papua. Rakyat Papua hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Bahkan, keberadaan Freeport tak lantas memberikan kesejahteraan pada mereka. Sebaliknya, pihak Freeport hanya menyejahterakan pihak asing dan para pejabat korup.

Selain itu, adanya intervensi asing dalam berbagai persoalan yang terjadi di Papua, semakin memicu benih-benih disintegrasi. Daerah yang kaya raya, sudah sewajarnya menjadi rebutan bagi siapa pun, termasuk negara-negara asing. Oleh karena itu, ada berbagai pihak yang menginginkan negara lain pecah.

Sebab, dengan perpecahan ini, mereka dengan mudahnya mendapatkan sumber daya alam yang melimpah ruah. Bahkan, dalam sejarah yang panjang, pengaruh Amerika terhadap Papua sangat tinggi. Maka, bukan hal yang mustahil jika saat ini pihak asing terlihat dalam berbagai isi disintegrasi Papua.

Lebih dari itu, adanya ikatan yang lemah yaitu nasionalisme, bisa membuat konflik dengan orang atau bangsa yang berbeda. Nasionalisme memang dapat menyatukan suatu bangsa, namun apa yang terjadi pada Timor-Timur yang terlepas dari Indonesia, menjadi fakta bahwa nasionalisme adalah ikatan yang lemah. Karena nasionalisme mereka terpisah dari Indonesia, mereka merasa sebagai bangsa yang berbeda dari Indonesia. Dan, kini Papua pun merasakan hal yang sama. Merasa sebagai bangsa yang berbeda, sehingga ingin melepaskan diri dari Indonesia.

Memisahkan Diri Bukan Solusi

Memang tidak bisa dipungkiri, telah terjadi kezaliman terhadap rakyat Papua. Ketidakadilan ekonomi, tidak terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat Papua, termasuk pendidikan dan kesehatan. Namun, memisahkan diri bukanlah solusi yang tepat atas persoalan rakyat Papua. Justru hal itu akan semakin memperlemah Papua.

Dukungan ataupun bantuan dari negara-negara imperialis atas kemerdekaan Papua akan membuat para imperialis semakin leluasa untuk melahap kekayaan sumber daya alam Papua. Cukuplah Timor-Timur yang menjadi contoh daerah yang berhasil lepas dari Indonesia. Dengan kekuasaan yang lemah dan adanya tekanan internasional membuat Timtim tak bisa dipertahankan.

Oleh karena itu, Papua tak butuh merdeka. Yang dibutuhkan adalah kebijakan serius agar keadilan dan kesejahteraan terwujud. Papua membutuhkan pemimpin yang mampu mengelola sumber daya alamnya yang kemudian dipergunakan untuk kemaslahatan rakyat Papua. Pendistribusian kebermanfaatannya tanpa memandang ras, suku dan agama. Siapapun bisa menikmatinya.

Adapun Islam, mewajibkan dan memerintahkan penguasanya untuk menegakkan keadilan atas seluruh wilayah dan lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan ras, suku dan agama. Oleh karena itu, para pemimpin akan sekuat tenaga bekerja untuk rakyat. Sebab, mereka paham bahwa kekuasaan mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Demikian pula, penguasa akan menjamin hak-hak dasar warga negaranya. Muslim atau pun non muslim. Jiwa, harta, kehormatan dan agamanya akan dilindungi, siapa pun tak boleh mencederainya. Jika hal ini terjadi, mana benih disintegrasi akan hilang. Dan semua ini hanya akan terwujud manakala Islam dijadikan sebagai sumber pengatur kehidupan.

Sejarah telah mencatat, selama belasan abad nyaris 2/3 dunia dipersatukan, dengan beragam budaya dan agama. Mereka hidup sejahtera dalam naungan kepemimpinan Islam. Inilah yang sebagiannya digambarkan oleh salah satu penulis Barat, Will Durant yang dengan jelas mengatakan:

Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Wallahu a’lam. (*)

Penulis: Hamsina Halik, A. Md.