Beranda » Inspirasi Sulsel » Dosen UCM Bikin Pakan Ayam dari Ampas Kelapa Fermentasi
Dosen UCM Bikin Pakan Ayam dari Ampas Kelapa Fermentasi
Dosen Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM) Wahyuti SPi MSi dan Ir Juni Astuti MSi mengajari warga proses pembuatan ampas kelapa fermentasi sebagai pakan ayam. Dengan didanai oleh Kemenristekdikti, ia mengedukasi warga Kelurahan Paria, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. (foto: Dok)
Inspirasi Sulsel

Dosen UCM Bikin Pakan Ayam dari Ampas Kelapa Fermentasi

WAJO – Buah kelapa dijadikan sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng. Pembuatan minyak goreng menghasilkan ampas kelapa yang biasanya dibuang percuma. Padahal, melalui proses fermentasi, ampas kelapa dapat diolah menjadi pakan ternak.

Dosen Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM) Wahyuti SPi MSi dan Ir Juni Astuti MSi mengajari warga memanfaatkan ampas kelapa sebagai limbah industri atau limbah rumah tangga menjadi pakan ayam.

Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), pihaknya mengedukasi warga Kelurahan Paria, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Adapun PKM ini didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia.

Selama ini, ampas kelapa dibuang begitu saja oleh pengusaha minyak tradisional. “Dari segi ekonomi, ampas kelapa harganya murah.

Dengan adanya program ini, ampas kelapa dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, sehingga ampas kelapa tidak dibuang percuma,” ungkap Dosen Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM) Wahyuti SPi MSi di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (1/11/2018).

Ia mengungkapkan, ampas kelapa sangat potensial sebagai pakan ayam. “Proses pertumbuhan ayam peliharaan lebih cepat,” ungkapnya.

Adapun urutan pembuatan ampas kelapa fermentasi dimulai dari persiapan bahan. Alat dan bahan yang diperlukan antara lain ampas kelapa yang baru sebanyak 1 kg, bahan mineral 36 g (NH4) 2SO4, 20 gram pupuk urea, 7,5 gram NaH2PO4, 2,5 gram pupuk KCL, dan spora Aspergillus niger.

Selanjutnya, tahap pengukusan. Pada proses ini menggunakan panci yang berukuran besar. Ampas kelapa dimasukkan dalam kukusan.

Proses memasak dilakukan selama 30 menit sejak air mendidih. Setelah itu dinginkan. Ampas kelapa disebar merata agar proses pendinginan lebih cepat.

Kemudian, tahap penambahan mineral dan spora. Ampas kelapa dingin yang disebarkan ditambahkan mineral dan ragi tape lalu diaduk merata.

Tahapan lainnya, pengemasan basah. Ampas kelapa yang sudah tercampur dengan mineral diaduk sampai dengan homogen. Tempatkan pada baki plastik dengan ketebalan 1 cm.

Fermentasi secara aerob pada suhu kamar 2 hari. Proses enzimatis dengan dibungkus dengan plastik, padatkan tanpa udara, dan inkubasi suhu ruang selama 2 hari.

Selanjutnya, tahap pengeringan. Ampas kelapa fermentasi yang sudah didiamkan selama 3-4 hari, dikeluarkan dan diiris-iris kemudian dikeringkan.

Terakhir, penggilingan dan pengemasan. Ampas kelapa fermentasi yang sudah kering ditumbuk atau digiling hingga hancur dan siap dimasukkan dalam kemasan plastik.

Kemasan ini dapat bertahan hingga seminggu asalkan dalam kondisi kedap udara. Bila ampas kelapa dikeringkan dalam oven, dapat di simpan selama 2 bulan.

Menurut Wahyuti, program PKM ini mulai dilaksanakan sejak awal April 2018 hingga kini. “Sampai sekarang, kita masih memantau perkembangannya,” ujarnya.

Pihaknya membina dua kelompok usaha. “Kelompok Usaha Paria sejumlah 7 orang dan Kelompok Usaha Rumpia sebanyak 6 orang,” kata Wahyuti yang merupakan dosen perikanan UCM ini. [*/shar]

Dosen Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM) Wahyuti SPi MSi dan Ir Juni Astuti MSi mengajari warga proses pembuatan ampas kelapa fermentasi sebagai pakan ayam. Dengan didanai oleh Kemenristekdikti, ia mengedukasi warga Kelurahan Paria, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. (foto: Dok)