Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Gaza dan Kemerdekaan Hakiki

987
×

Gaza dan Kemerdekaan Hakiki

Sebarkan artikel ini
Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. (Dosen dan Pemerhati Sosial)
Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. (Dosen dan Pemerhati Sosial)

OPINI—Dilansir dari Al Jazeera, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023 mencapai 61.430 orang, sementara 153.213 lainnya luka-luka. Sejak serangan 7 Oktober 2023, situasi Gaza memang berubah mencekam.

Namun, situasi ini bertambah parah ketika entitas Zionisatas arahan AS memberlakukan blokade total sejak 2 Maret 2025. Sejak itulah, warga Gaza benar-benar hidup penuh keterbatasan. Berbagai krisis, seperti krisis air, tepung, bahan bakar, hingga obat-obatan pun menjadi problem keseharian.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Juru Bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Thameen al-Kheetan kepada BBC World Service mengatakan bahwa hingga 21 Juli 2025, tercatat ada 1.054 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan; 766 di antaranya tewas di sekitar lokasi Gaza Humanitarian Foundation (GHF) dan 288 di dekat konvoi bantuan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya.

Korban dari kalangan perempuan dan anak makin banyak, hal ini bersamaan dengan fakta pelaparan yang makin memprihatinkan. Yang lebih menyedihkan, lebih dari 1.300 warga Palestina mengalami luka tembak di dekat lokasi distribusi bantuan yang tidak ubahnya sebagai lokasi pembantaian terencana. Plus bantuan dari udara yang juga berpotensi menghadang maut. Kondisi ini juga sangat menghinakan rakyat Gaza.

Selanjutnya, kematian akibat kelaparan mencapai 217 jiwa, termasuk 100 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Setidaknya 200.000 anak Palestina di Jalur Gaza menderita malnutrisi parah. Pada Juli 2025, WHO mencatat hampir 12.000 anak yang berusia kurang dari lima tahun mengalami malnutrisi akut.

Pemandangan memilukan tersebut masih terus terjadi hingga hari ini. Media lokal maupun internasional memotret dengan sangat terang benderang kejahatan genosida yang dilakukan entitas Zionis Yahudi yang didukung oleh Amerika dan negara-negara adidaya lainnya. Pun penguasa negeri-negeri muslim seolah tidak malu-malu ikutan mendukung skenario jahat tersebut.

Hipokritnya Sistem Kapitalisme

Jika melihat sejarah panjang Palestina, penjajahan bukan dimulai sejak 7 Oktober 2023, tetapi jauh sebelum itu. Namun, tragedi sejak 7 Oktober ini adalah yang terdahsyat selama penjajahan entitas Zionis Yahudi di Bumi Para Nabi.

Berbagai bantuan yang diberikan dunia internasional, tak bisa menghentikan penderitaan rakyat Gaza. Semakin hari kondisi mereka semakin mengenaskan sekaligus menyedihkan. Bahkan diklaim sebagai bencana kelaparan terparah sepanjang abad ini.

Mengapa genosida terstruktur ini hanya menjadi perbincangan di meja-meja perundingan? Atau sekadar narasi-narasi kosong yang tak berefek pada penjajah Zionis Yahudi? Ke mana umat Islam sekitar 2 milyar? Jika menelisik problem Palestina terkhusus Gaza, akan didapatkan beberapa faktor penyebabnya.

Pertama, diadopsinya sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahan dalam bernegara. Demokrasi lahir dari asas yang rusak yakni sekularisme. Paham yang memisahkan agama dari kehidupan, sudah pasti menuai kerusakan.

Hal ini tampak pada empat pilar kebebasan yang diagungkan oleh demokrasi. Lihatlah kebebasan tersebut memanen beraneka kerusakan, karena aturannya dibuat oleh manusia. Makhluk yang lemah dan terbatas, sarat dengan kepentingan materi.

Kedua, adanya nation state bentukan penjajah. Negara bangsa yang diciptakan Barat adalah upaya untuk melemahkan negeri-negeri bekas jajahannya, terkhusus negeri-negeri muslim. Hal ini niscaya dalam sistem Kapitalisme untuk melanggengkan hegemoninya. Tersebab metode Kapitalisme dalam mengemban ideologinya ke seluruh dunia dengan cara penjajahan (imperialisme). Seperti yang disaksikan dunia saat ini di Bumi Syam.

Ketiga, bercokolnya penguasa boneka. Diamnya para penguasa muslim, bukan tanpa sebab. Terutama penguasa negeri-negeri muslim yang berdekatan dengan Palestina. Hal ini karena sistem Kapitalisme yang diadopsi hampir semua negara di dunia meniscayakan instrumen tersebut berlaku.

Dalam konstelasi politik internasional, negara adidaya pertama adalah pihak yang paling berkuasa mengatur jalannya roda perpolitikan dunia. Termasuk penguasa-penguasa yang ingin didudukkan di tampuk kekuasaan. Artinya, penguasa-penguasa boneka harus mengikuti arahan tuannya.

Inilah sedikitnya penghalang (barrier) yang menyebabkan umat Islam masih terjajah hingga hari ini. Termasuk saudara kita di Gaza. Skenario busuk yang dimainkan sistem Kapitalisme dengan sistem pemerintahan demokrasinya beserta isme-isme derivatnya, mencerminkan hipokritnya dan rusaknya sistem ini. Sistem yang menjadikan hawa nafsu manusia sebagai standar aturan untuk mengelola dunia.

Jika segala model bantuan, kecaman, aksi, dan perundingan-perundingan yang dilakukan dunia internasional tidak membuahkan hasil. Lalu sampai kapan Palestina terus dalam penjara terbuka yang ditonton milyaran mata dalam kesengsaraannya?

Belum lagi kita memotret Sudan yang juga bergolak dengan kengerian yang tak mampu lagi dinalar akal sehat. Pun di belahan bumi lainnya, penjajahan masih terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda.

Intinya, penjajahan di muka bumi harus segera diakhiri dengan menerapkan aturan dari Sang Pencipta manusia dan seluruh isi semesta. Dia-lah paling tau apa yang terbaik buat makhluk-Nya.

Inilah urgensi memahami Islam sebagai sebuah ideologi (mabda). Di mana ideologi itu diusung oleh sebuah negara yang disebut Khilafah dan dipimpin oleh seorang khalifah. Lalu, bagaimana negara Khilafah mampu melenyapkan penjajahan dari muka bumi?

Kemerdekaan Hakiki

Makna kemerdekaan hakiki sejatinya adalah penghambaan totalitas kepada Sang Khaliq. Tidak ada yang patut diibadahi selain Allah Swt. Tidak ada aturan lain yang diterapkan selain aturan-Nya.

Inilah makna kemerdekaan hakiki sebagaimana tujuan ibadah itu sendiri, yakni mengabdi kepada Allah Swt. secara total (kaffah). Artinya, kemerdekaan hakiki hanya bisa diwujudkan ketika manusia menggunakan aturan Allah Swt. untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.

Apa yang kita saksikan di Gaza dan di belahan bumi lainnya adalah gambaran nyata gagalnya sistem saat ini mengelola dunia. Genosida yang terjadi di Baitul Maqdis secara berlarut-larut menegaskan hal tersebut. Padahal, jumlah umat Islam sangat banyak. Ke mana pasukan militer yang kerap kali berlatih tanpa pernah berjihad menolong saudaranya yang teraniaya dan dihinakan sedemikian rupa?

Tidakkah mereka takut dengan hadis Rasulullah ﷺ “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitupun dengan firman Allah Swt. yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lainnya. (QS. At-Taubah: 71).

Oleh karena itu, jika Gaza dan negeri-negeri lain ingin terbebas dari penjajahan, maka menerapkan sistem Islam dalam naungan Khilafah adalah solusi hakiki. Penguasa (khalifah) akan mengerahkan pasukan militer untuk berjihad demi membebaskan negeri-negeri dari segala bentuk penjajahan.

Inilah satu-satunya solusi demi meraih kemerdekaan hakiki yang didambakan seluruh manusia. Agar keberkahan hidup bisa diraih. Bahagia di dunia dan selamat di akhirat. (*)

 

Wallahualam bis Showab.

 

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. (Dosen dan Pemerhati Sosial)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!