Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Generasi Salah Asuh

595
×

Generasi Salah Asuh

Sebarkan artikel ini

OPINI—Ketika menyebut kata generasi, tentunya perhatian kita tertuju pada generasi yang sekarang ini mendominasi sebagian besar penduduk di negri ini. Merekalah Generasi Z dan Milenial yang menurut hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan generasi yang mendominasi penduduk di Indonesia hingga 2020.

Penduduk yang lahir pada periode tahun 1997-2012 disebut Generasi Z, sementara yang lahir pada periode tahun 1981-1996 disebut generasi Milenial. Dari total penduduk Indonesia berjumlah 270,20 juta jiwa, komposisi penduduk yang berkategori Generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa setara 27,94 persen dari total penduduk Indonesia, sementara Generasi Milenial mencapai 69,90 juta jiwa setara 25,87 persen (tempo.co, 23/1/21).

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Tingginya persentase generasi dengan tahun kelahiran tersebut menjadikan Indonesia mendapatkan bonus demografi sampai mencapai puncaknya pada tahun 2030 mendatang.

Dikutip dari kompas.com (26/10/2020), Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy berharap Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi sehingga bisa berhasil menjadi negara yang maju seperti Jepang, Korea Selatan dan China. Keberhasilan bonus demografi sangat terkait dengan keberhasilan pembangunan pemuda.

Peralihan kurikulum selama pandemi

Bonus demografi berupa penduduk yang berusia produktif tentunya menjadi berita baik bagi Indonesia yang selama ini berharap dapat menjadi negara maju, tetapi dapat juga menjadi berita buruk ketika generasi yang mendominasi penduduk Indonesia ini diasuh dengan pola yang salah, yang pada akhirnya mereka yang diharapkan mampu bersaing justru jatuh terpuruk.

Ironisnya yang terjadi saat ini adalah makin beragamnya peristiwa yang menimpa generasi Z dan Milenial terlebih lagi disaat pandemi, tsunami PHK terjadi dan generasi yang terkategori usia yang tengah berjibaku dalam menempuh berbagai jenjang pendidikan  pun tak lepas dari terpaan masalah berupa carut marutnya sistem pendidikan yang mereka hadapi.

Kurikulum pendidikan dan metode ujian nasional yang bergonta-ganti yang membuat peserta didik maupun tenaga pendidik tertekan, yang sangat jelas menunjukkan ketidakjelasan arah dan pelaksanaan pendidikan bagi Generasi Z dan bisa diibaratkan mereka menjadi kelinci percobaan Menteri Pendidikan yang tengah menjabat.

Seperti diketahui Generasi Z ini telah mencicipi kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), lalu awal tahun 2006 diganti menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), kemudian harus berjibaku lagi mengikuti kurikulum 2013 yang dinilai lebih menekankan kompetensi berbasis keterampilan dan pengetahuan, dan akhirnya karena pandemi mau tak mau harus mengikuti kurikulum PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang ternyata tidak lepas dari keluhan dari peserta didik yang merasa jenuh karena muatan pembelajaran yang penuh teori kurang aplikatif dan terkesan memaksakan beban materi dan pemberian tugas yang banyak.

Akibatnya apa? Ancaman jenuh belajar menimpa hingga mereka tidak  lagi semangat menuntut ilmu, belum lagi berbagai hambatan yang datang ketika melakukan pembelajaran daring, salah satunya masalah kuota internet yang mesti harus dipenuhi tiap hari yang tidak sedikit orang tua kesulitan apalagi ditengah pandemi yang serba sulit, jaringan internet yang buruk pun menjadi soal untuk mereka yang tinggal jauh dari kota.

Lalu, yang lebih mengkhawatirkan dikarenakan kejenuhan belajar daring tadi, banyak dari mereka melampiaskannya dengan bermain gadget, mencoba bermain game online yang memang saat ini banyak digandrungi karena menawarkan suguhan visual grafik yang serasa nyata dan main bersama yang makin menambah kecanduan mereka akan game online.

Dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com (04/01/20), setidaknya setiap harinya ada tiga anak yang mengunjungi Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr.Soetomo karena kecanduan game yang istilah kedokterannya disebut gaming disorder.

Tren ini menimpa 6 bulan terakhir ini dengan pasien yang didominasi oleh anak-anak, dengan rentan usia 8-15 tahun. Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUD Dr. Soetomo dr.Yunias Setuawati Sp.Kj mengatakan saat ini eranya adalah Generasi Z, era dimana anak-anak sejak kecil sudah terpapar media elektronik dan internet. Karena terpapar, menyebabkan pembiasaan. Dari pembiasaan akhirnya kecanduan.

Kecanduan ini jelas membawa pengaruh negatif bagi fisik dan psikisnya, mereka yang terus menerus menatap layar gadget menjadikan matanya mudah lelah dan akhirnya mengalami gangguan belajar.

Mereka pun mudah marah ketika mereka tidak mempunyai kuota untuk mengakses internet, dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial karena mereka larut dalam dunia maya yang melenakan. Ini bukan merupakan kasus satu-satunya yang menjadi fokus keprihatinan, kasus kejahatan cyber misalnya cyber sex pun sebenarnya tidak kalah mengerikan yang mengincar anak-anak kita yang tengah berselancar bebas di dunia maya yang minim pengawasan orang tua.

Sejak awal, generasi telah salah asuhan

Generasi sekarang sejak awal telah asuh, mereka dididik dengan pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Metode pembelajarannya hanya berfokus pada transfer ilmu bukan pembentukan pemahaman yang akhirnya berimbas pada kepribadian peserta didik yang rentan stres, tidak punya daya untuk menghadapi tantangan zaman, mentalnya pun lemah yang akhirnya ada berujung mengakhiri hidupnya karena menumpuknya tugas sekolah dan tidak punya kuota untuk belajar daring.

Terdengar sepele memang, tapi beginilah fakta kondisi generasi kita saat ini yang tentunya harus mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak. Orang tua, masyarakat dan terutama Negara yang harusnya bisa memfasilitasi segala kebutuhan yang dapat membuat proses pembelajaran peserta didik berjalan sebagaimana mestinya dalam kondisi apapun.

Tetapi Negara akan kesulitan mengemban tanggungjawab ini ketika masih terus membiarkan sistem sekularisme-kapitalisme mengatur segala hal di negri ini. Karena sistem ini menjadikan negara yang harusnya melayani, melindungi, dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, justru menjadi regulator bagi pihak tertentu dengan berbagai macam kepentingan yang tidak jarang merugikan negara.

Butuh solusi mumpuni

Problem teknis pembelajaran PJJ maupun tatap muka saat pandemi tentunya harus diselesaikan sumber masalahnya yang menyebabkan berbagai ketimpangan dalam berjalannya proses pendidikan saat ini.

Solusinya adalah tentu mengganti sistem sekulerisme-kapitalisme yang terbukti tidak mampu mengatasi problem sistem pendidikan di negeri ini dengan berbagai aturan yang lahir darinya yang sarat akan kepentingan pihak tertentu, yang dinilai sejak awal tidak bisa mengasuh Generasi saat ini dengan pola asuh yang bisa membuat Generasi emas pembangun peradaban gemilang. Butuh sistem pengganti yang mampu memikul tanggungjawab mulia ini.

Ialah Sistem Pendidikan Islam, sistem pendidikan yang menjadi solusi fundamental mengatasi carut marutnya pendidikan di negeri ini, mampu menghadapi berbagai problem apalagi ditengah pandemi saat ini. Karena sistem pendidikan Islam sebagai sistem yang bersumber dari Allah dengan menjadikan akidah Islam sebagai inti kurikulum pendidikan. Islam memandang bahwa ilmu bersifat praktik bukan teori.

Jika pandemi semisal ini melanda, pembelajaran tetap bisa berjalan. Capaian nilai akademik bukan satu-satunya hal yang menjadi standar keberhasilan pendidikan, tetapi sumbangsih apa yang bisa mereka berikan untuk peradaban.

Kita mengenal sosok Ilmuwan Besar Ibnu Sina (980-1037), beliau adalah seorang ilmuwan muslim yang memiliki kontribusi yang luarbiasa di bidang kedokteran di usianya yang belia. Lalu ada ilmuwan Al-Khawarizmi (780-850) yang berkontribusi di bidang astronomi, geografi dan matematika, dan beberapa ilmuwan muslim yang lainnya yang tak kalah hebatnya.

Merekalah sosok ilmuwan muslim yang diasuh dengan baik oleh peradaban Islam yang gemilang, yang membentuknya bukan hanya dari sisi kecemerlangan intelektualitasnya semata, tapi juga terbentuk pribadi yang Islami.

Sistem pendidikan Islam untuk generasi saat ini sejatinya ditujukan agar terbentuk kepribadian Islam yang mempunyai pola pikir dan pola sikap yang tersinkronisasi dengan aturan Islam saja.

Bisa membedakan mana perbuatan yang akan menjerumuskan mereka menjadi sampah peradaban, dan mana yang akan membawa mereka menjadi generasi emas pembangun peradaban yang gemilang.

Jauh dari sikap pembebek yang terkadang mengikuti arus kehidupan yang salah, akhirnya bermuara pada salah pergaulan.

Oleh karenanya mereka akan dibekali dengan Tsaqofah Islam dan Ilmu penunjang lainnya yang diharapkan bisa menjawab tantangan zaman, dengan metode pembelajaran yang bersifat aqliyah dan talaqqiyan fikriyun, yang membentuk pemahaman bukan hanya sekedar transfer ilmu.

Metode ini mengharuskan tenaga pendidik bisa memberikan gambaran fakta kepada peserta didik, agar mereka mampu melakukan proses berpikir hingga tercipta karya-karya yang dapat bermanfaat bagi umat.

Adapun negara mengerahkan segala upaya dengan mengelola dengan benar sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam menciptakan aplikasi yang dapat menunjang kelancaran proses pembelajaran.

Misalnya membangun aplikasi yang memudahkan peserta didik dalam proses belajar daring dengan kemudahan menjalankan aplikasi dan akses jaringan yang memadai walaupun berada di pelosok, tanpa bergantung lagi pada pengembang dari negara lain dengan aplikasinya yang berbayar jika ingin mendapatkan akses aplikasi yang maksimal.

Negara memang semestinya memahami tanggungjawabnya sebagai pengelola sekaligus penyedia pelayanan pendidikan, memberikan anggaran pendidikan sesuai kebutuhan, menyediakan guru yang berkompeten di bidangnya serta ketersediaan sarana dan prasarana semaksimal mungkin tanpa membuka celah bagi pengusaha yang ingin membantu tetapi nyatanya ada pamrih dibaliknya.

Demikianlah sistem pendidikan Islam, yang ketika negara mengadopsinya dapat menyelesaikan berbilangnya permasalahan di bidang pendidikan termasuk didalamnya masalah yang menimpa peserta didik maupun tenaga pendidik. Inilah pola asuh generasi yang benar yang berasal dari aturan Sang Khalik yang Maha Benar.

“… (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar“ (TQS.Al-Hajj : 62).

Penulis: Ummu Intishar (ibu rumah tangga dan pemerhati generasi)

error: Content is protected !!