MAKASSAR — Di era ketika media sosial lebih cepat membentuk opini dibanding mimbar masjid, perang narasi menjadi tantangan baru yang dihadapi masyarakat. Informasi bercampur disinformasi, ceramah bersaing dengan konten viral, sementara berbagai paham dan ideologi dengan mudah masuk ke ruang digital tanpa sekat.
Situasi inilah yang mendorong Pemerintah Kota Makassar memperkuat kapasitas para muballigh dan imam kelurahan sebagai benteng literasi keagamaan di tengah masyarakat.
Sebanyak 450 muballigh, imam kelurahan, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan keagamaan mengikuti Bimbingan dan Pelatihan Muballigh yang digelar Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Makassar di Makassar Golden Hotel pada 26 Juni hingga 2 Juli 2026.
Langkah tersebut dinilai strategis mengingat para muballigh kini tidak hanya berhadapan dengan jamaah di masjid, tetapi juga harus mampu menjawab berbagai persoalan yang lahir dari derasnya arus informasi digital.
Kepala Bagian Kesra Setda Kota Makassar, Muhammad Syarief, mengatakan tantangan dakwah saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Muballigh dituntut tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu menjadi penyejuk sekaligus pemersatu di tengah masyarakat yang semakin beragam.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan para muballigh dan imam kelurahan yang semakin berkualitas, memiliki pemahaman keislaman yang kuat, serta mampu menyampaikan dakwah yang menyejukkan dan mencerahkan masyarakat,” ujarnya.
Di tengah banjir informasi yang setiap hari membanjiri gawai masyarakat, peran muballigh menjadi semakin penting. Mereka tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi rujukan ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai isu yang kerap memicu perdebatan, perpecahan, bahkan konflik sosial.
Karena itu, selama tujuh hari pelatihan, peserta dibekali sejumlah materi yang dirancang untuk memperkuat kapasitas keilmuan dan karakter dakwah, mulai dari Tahsinul Qur’an, Tafsir Al-Qur’an, Hadis, Penguatan Aqidah, Penguatan Fiqih, hingga Akhlak dan Fiqih Khilafiah.
Materi tersebut disampaikan oleh para narasumber yang berkompeten melalui metode pembelajaran interaktif. Selain menerima penguatan teori, peserta juga berdiskusi mengenai berbagai tantangan dakwah yang mereka hadapi di lapangan, termasuk fenomena penyebaran informasi keagamaan melalui media sosial.
Menurut Syarief, penguatan kapasitas muballigh merupakan investasi sosial yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami ingin menciptakan ekosistem pembinaan keagamaan yang kuat di Kota Makassar. Ketika para muballigh dan imam kelurahan semakin berkualitas, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya pemahaman keagamaan, terbentuknya karakter yang baik, serta terjaganya kerukunan dan persatuan,” katanya.
Bagi para peserta, pelatihan tersebut tidak hanya menjadi ruang peningkatan kapasitas, tetapi juga wadah bertukar pengalaman antar pendakwah dari berbagai wilayah di Kota Makassar.
Herlin, Imam Kelurahan Melayu Baru, mengaku memperoleh banyak manfaat, terutama dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an dan memperluas wawasan keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Sementara itu, Jumardi dari Ikatan Dai Muda Indonesia (IDMI) menilai kegiatan tersebut penting untuk memperkuat kualitas dakwah di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.
“Kami diberikan materi-materi yang baru dan dapat berdiskusi langsung dengan sesama muballigh serta bertukar pengalaman dalam berdakwah. Kegiatan seperti ini sangat baik dan bermanfaat, sehingga kami berharap dapat terus dilaksanakan di masa mendatang,” ujarnya.
Di tengah perang narasi yang semakin sengit di ruang digital, muballigh tidak lagi cukup hanya fasih berbicara di atas mimbar. Mereka dituntut hadir sebagai penjaga akal sehat, penyebar nilai-nilai moderasi, sekaligus penguat persatuan masyarakat. Dari pelatihan inilah, Pemkot Makassar berharap lahir lebih banyak pendakwah yang mampu memenangkan pertarungan gagasan dengan ilmu, keteladanan, dan dakwah yang menyejukkan. (70n)







