Berbagai faktor penyebab kian memburuknya status kesehatan masyarakat tentunya tidak dapat dipisahkan dari tatanan kehidupan yang sekuler tersebut. Dengan kata lain ruang kehidupan yang disesaki aturan sekulerlah yang menjadi penyebabnya.
Diakui banyak pengamat, inilah peradaban terkejam yang pernah mengatur kehidupan manusia. Baru dua abad dunia diatur tatanan kapitalis-sekuler, namun penderitaan yang dialami umat manusia sungguh luar biasa, termasuk persoalan kesehatan.
Cukup mudah dipahami bahwa sistem ekonomi kapitalistik dan kebijakan ekonomi yang didasarkan pada sudut pandang materialistik mengakibatkan puluhan juta orang menderita malnutrisi dan berbagai penyakit yang dipicu oleh menurunnya daya tahan tubuh akibat asupan zat gizi esensial yang tidak memenuhi kecukupannya.
Mewabahnya penyakit menular juga dipengaruhi cara pandang kapitalis yang telah membenarkan pemilik modal menggunakan alam secara rakus dan liar. Akibatnya keseimbangan alam tercabut, berbagai fungsi ekosistem hancur, kuman dan vektor pembawa penyakitpun berkembang biak tak terkendali.
Tatanan Kehidupan Islam: Rahmat Bagi Semesta Alam
Islam telah menggagas bahwa kesehatan sangat penting bagi kehidupan. Lima belas abad yang lalu jauh sebelum Deklarasi Jenewa ditandatangani, melalui lisannya yang mulia Rasulullah Saw. telah bersabda “siapa saja diantara kalian yang berada di pagi hari, sehat badannya, aman jiwa, jalan dan rumahnya dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya” (HR. Al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, Ibn Majah dan Tirmidzi).
Pada hadits diatas tampak jelas bahwa Islam memandang kesehatan sebagai kebutuhan yang disetarakan dengan kebutuhan pokok lainnya (sandang, pangan dan papan) agar dapat melakukan berbagai aktivitas kehidupan.
Sistem kesehatan dalam Islam bekerja dengan menumbuhkan dan mengokohkan spiritualitas pada diri setiap anggota masyarakat. Roda perekonomian yang bebas riba dan perilaku eksploitatif berputar menyejahterahkan setiap orang.













