PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.DPRD Makassar Dorong GERMAS dan Kesadaran Kesehatan Mental di Tengah MasyarakatMunafri Ajak Muslimat NU Makassar Kolaborasi dengan Dewan Lingkungan Atasi SampahWorld Cleanup Day 2026, Kelurahan Bitowa Gelar Kerja Bakti MassalSeminar Nasional Dokter di Makassar Bahas Inovasi Pemeriksaan Kesehatan Saluran CernaToreh Sejarah, Pascasarjana UNDIPA Makassar Wisuda 7 Magister Informatika Angkatan PerdanaKarhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam SemalamPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.DPRD Makassar Dorong GERMAS dan Kesadaran Kesehatan Mental di Tengah MasyarakatMunafri Ajak Muslimat NU Makassar Kolaborasi dengan Dewan Lingkungan Atasi SampahWorld Cleanup Day 2026, Kelurahan Bitowa Gelar Kerja Bakti MassalSeminar Nasional Dokter di Makassar Bahas Inovasi Pemeriksaan Kesehatan Saluran CernaToreh Sejarah, Pascasarjana UNDIPA Makassar Wisuda 7 Magister Informatika Angkatan PerdanaKarhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam Semalam
Opini

Indonesia Darurat Perundungan

2936
×

Indonesia Darurat Perundungan

Sebarkan artikel ini
Indonesia Darurat Perundungan
Yuni Damayanti.

OPINI—Perundungan adalah perilaku yang bertujuan menyakiti seseorang, baik secara fisik, maupun mental. Perilaku ini biasanya ditandai dengan ketidakseimbangan kekuatan, baik dari segi fisik, informasi, maupun popularitas. Saat melakukan perundungan pelaku ingin menunjukkan kekuasaan terhadap korban.

Belakangan ini pun perundungan makin marak terjadi di dalam negeri. Pelaku perundungan ternyata tak sebatas anak usia SMA dan mahasiswa, namun kini telah merambah hingga ke tingkat SD. sebagaimana MHD (9) siswa kelas 2 SD di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi menjadi korban pengeroyokan kakak kelasnya hingga tewas.

Rencananya makam MHD akan dibongkar pada Rabu 31/5/2023 untuk keperluan otopsi, pembongkaran makam dan otopsi dilakukan untuk memastikan penyebab kematian MHD.

Kapolres Sukabumi kota sejauh ini sudah memeriksa 20 orang saksi dari pihak puskesmas, rumah sakit, pihak guru, dan teman-teman MHD, bahkan melibatkan psikolog anak untuk mendampingi, apakah keterangan yang disampaikan itu benar atau tidak (Kompas.com, 30/5/2023).

Miris, melihat perilaku generasi saat ini yang semakin sadis, kasus perundungan tiap tahunya selalu mengalami peningkatan. Sepanjang 2022, KPAI mencatat ada kenaikan signifikan kasus perundungan, yakni sekitar 226 kasus atau meningkat empat kali lipat dibandingkan 202, (BBC News Indonesia, 22/07/2022).

Perundungan di sekoah berpotensi terus terjadi. Survey Mendikbudristek memperkuat hal ini. Survey yang melibatkan 260 ribu sekolah di Indonesia di level SD/Madrasah hingga SMA/SMK terhadap 6,5juta peserta didik dan 3,1 juta guru menyatakan bahwa terdapat 24,4% potensi perundungan di lingkungan sekolah, (kumparan News, 12/04/2022).

Terus Berulang

Mengapa sesorang melakukan perundungan? Menurut riset yang dilakukan Dith the Label terhadap sejumlah responden berusia 12 tahun hingga 20 tahun, sekitar 14% di antaranya pernah menjadi korban perundungan. Sebagian responden juga mengalami masalah interaksi dengan orang tuanya, (Binus.ac.id).

Dari riset tersebut juga diketahui bahwa orang yang pernah diintimidasi memiliki peluang lebih besar untuk melakukan perundungan. Bukan hanya berpotensi menjadi pelaku, korban yang tidak tahan dengan perundungan yang terjadi padanya bisa depresi atau bahkan berfikir untuk bunuh diri.

Terus bertambahnya korban perundungan akibat dari sulit dideteksi korbannya, karena banyak di antara meraka yang menjadi korban perundungan takut untuk melaporkan ke pihak sekolah, kampus atau bahkan orang tuanya. Bisa diartikan saat ini perundungan sedang mengintai anak-anak kita.

Dampak Sistem Sekuler

Paham sekularisme berhasil memproduksi kejahatan massal, perundungan hanyalah salah satu dari sekian banyak kejahatan yang ditimbulkannya. Pemisahan agama dari kehidupan menyebabkan individu bertindak sesuai keinginan hawa nafsunya. Sekularisme juga berhasil menjauhkan generasi saat ini dari tuntunan agamanya.

Adapun beberapa faktor lain yang menyebabkan perundungan terus berulang, yaitu: Pertama, minimnya peran orang tua. Peran orang tua, terlebih ibu sangat penting dalam mendidik anak-anaknya.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com