OPINI – Papua? Siapa yang tidak kenal dengan tanah papua? Daerah kaya akan barang tambang dan energi. Gunung emas terbesar di dunia pun ada disana. Namun sayang beribu sayang, Kisruh Papua akhir-akhir ini kembali menghiasi salah satu deret panggung masalah di negeri tercinta ini.

Kekayaan sumber daya alam yang terdapat di daerah papua yang sejatinya dan selayaknya mampu untuk mensejahterahkan masyarakat yang ada diwilayah tersebut.

Namun apa daya, fakta berkata lain. Mereka tergambarkan ibarat anak ayam yang mati di lumbung padi. Calon wakil presiden Sandiaga Uno menganggap wajar jika masyarakat Papua marah karena ketimpangan ekonomi yang ada tergolong memprihatinkan.

Sandi menyebut tingkat kemiskinan masyarakat Papua 8 kali lipat dibanding warga Jakarta. Padahal, lanjutnya, daerah mereka begitu kaya dengan berbagai jenis sumber daya alam (CNN Indonesia)

Papua bergejolak, bahkan tuntutan merdeka (disintegrasi) pun muncul kembali bahkan nampaknya kian membesar. Jika ditelisik lebih mendalam dan lebih luas lagi, kasus kerusuhan Papua bukanlah kasus rusuh biasa.

Papua dengan segala sumber daya alamnya yang begitu sangat menggiurkan. Tak dapat dielakkan adanya Intervensi negara-negara kapitalis penjajah yang harus diwaspadai.

Sebagaimana yang diungkapkan Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komarudin Hidayat menyebut ada pihak-pihak yang merasa senang apabila melihat Papua dan Papua Barat terlepas dan memisahkan diri dari Indonesia.

Komarudin meminta agar masyarakat Papua dan khususnya masyarakat Indonesia untuk tak terjebak pada iming-iming kemerdekaan tersebut.

Ia menegaskan semua masyarakat Indonesia akan mengalami kerugian bila Papua terlepas dan memisahkan diri dari NKRI (CNN Indonesia).

Dengan kekayaan alam menggunung seharusnya wilayah papua mampu menjadi wilayah paling kaya, wilayah paling maju dan paling sejahtera.

Namun papua saat ini hidup dalam keterbelakangan, pembangunan negeri tidak nampak, mereka dibiarkan hidup terbelakang, mengais kehidupan dalam kesempitan hidup, kesenjangan sosial di kelas warga papua dijadikan sebagai bahan isu untuk menentukan nasib sendiri.

Kebutuhan hidup yang tak terurus warga papua oleh pemerintah pusat sampai detik ini, maka wajar saja jika tanah papua hari ini kembali bergejolak.

Apa yang dirasakan masyarakat papua sama halnya dengan apa yang dirasakan di tanah-tanah lain di negeri ini.

Merasakan ketidakwajaran dan ketidakadilan dalam pengurusan kebutuhan pokok masyarakat, berupa sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan dan pendidikan yang seharusnya merupakan kebutuhan dasar yang dituntut pemenuhannya secara pasti oleh seluruh manusia. Tidak terkecuali seluruh manusia yang hidup di tanah papua.

Perasaan ketidakpuasan atas pelayanan publik yang dirasakan oleh masyarakat papua, dimanfaatkan oleh para kapitalis asing dan aseng yang mempunyai kepentingan untuk menguasai secara total tanah papua yang penuh dengan kekayaan alamnya.

Mereka mendorong untuk melepaskan diri dari wilayah kesatuan republik Indonesia. Karenanya, disintegrasi bukanlah solusi atas gejolak sosial di tanah papua saat ini.

Merdeka bukanlah pilihan terbaik untuk rakyat Papua, sebab “provokasi” dan proyek kemerdekaan itu merupakan desain dari oknum yang ingin menghisap sumber daya alam yang ada di Papua.

Skenario licik untuk melakukan eksploitasi dan eksplorasi terhadap kekayaan alam Papua semakin bebas hambatan, tanpa harus bersusah payah melewati pemerintahan Indonesia.

Jadi, alih-alih rakyat Papua ingin menikmati alamnya sendiri pasca merdeka, justru kondisi masyarakat papua akan tetap termarginalkan, terpinggirkan, bahkan akan lebih tragis nasibnya dibandingkan saat ini.

Mereka akan dijadikan budak para kapitalis dunia dan sumber daya alamnya akan dihisap tanpa sisa dan mereka akan ditinggalkan saat sumber daya alam yang dimilikinya telah habis dikuras tanpa sisa.

Aktivitas perampokan harta milik masyarakat papua saat ini terjadi karena negara menggunakan system secular kapitalis dalam mengurusi urusan masyarakatnya.

Sistem ini melegalkan penguasaan sumber daya alam oleh para kapitalis dunia, yang menyebabkan banyak kesengsaraan dan ketimpangan ekonomi sosial dan budaya masyarakat. Terutama pada letak tanah papua.

Sudah saatnya kita semua berpikir untuk mencari solusi terbaik atas segala kisruh yang terjadi dibumi nusantara. Dan solusi itu tidak mungkin diambil dari sistem sekular kapitalis yang saat ini diterapkan yang justru hari ini semakin membuat kondisi negeri semakin terpuruk.

Sudah seharusnya Manusia kembali pada system hidup yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa.

Sistem Islam sebagai solusi atas berbagai konflik sosial pada masa Rasulullah maupun pada masa kini dan yang akan datang, yang telah terbukti mampu menyatukan tiga benua dengan tingkat keberagaman manusia yang sangat tinggi, baik latar belakang agama, ras, suku maupun bahasa.

Semua mampu disatukan oleh Islam, mensejahterahkan seluruh individu masyarakat, baik muslim maupun non muslim, dengan tingkat kesejahteraan yang tidak mampu ditandingi oleh sistem manapun yang diberlakukan di dunia.

Invisible Hand dibalik Narasi Papua “Merdeka”?
Penulis : Joe Nir (Aktivis, Jeneponto)