OPINI—“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dibawah naungan Arsynya pada hari tidak ada naungan selain naungan Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu): imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, …” (HR. Al-Bukhâri dan Muslim)
Hadis di atas menggambarkan betapa sosok pemuda adalah sosok yang luar biasa jika berada dalam koridor-Nya. Dalam banyak dalil, ditemukan keutamaan di fase dan usia tersebut. Potensi yang seyogianya digunakan dalam rangka membangun peradaban mulia, bukan malah sebaliknya.
Tak dimungkiri problem di negeri ini begitu sangat kompleks dan mengkhawatirkan. Mulai dari krisis ekonomi, sosial, politik, dan berbagai derivasinya. Dimana pemuda adalah bagian penting dari keberlanjutan sebuah peradaban. Menjadi fokus dan target utama sistem, yakni sebagai subyek sekaligus obyek.
Solusi Disconnect
Sejak awal kepemimpinan Walikota Makassar Danny Pomanto, menggagas sebuah program dengan nama “Jagai Anakta”. Sebuah program dalam upaya menjaga generasi agar terhindar dari berbagai macam hal yang merusak. Salah satunya agar terhindar dari paham-paham ekstrimisme dan radikalisme, seperti dikutip dari laman sulsel.herald.id
Selanjutnya program Jagai Anakta menggandeng para ulama, pesantren, Perguruan Tinggi berbasis Islam dan hal lain yang berbau Islam. Seolah umat Islamlah pelakunya sekaligus pihak yang harus bertanggung jawab memperbaikinya. Kondisi ini makin menegaskan bahwa sasaran narasi radikalisme dan ekstrimisme adalah Islam politik dan simbol-simbolnya.
Banyak peristiwa yang mengindikasikan hal tersebut. Padahal, tidak sedikit fakta yang bertebaran (di dunia maya dan dunia nyata), pelakunya bukan dari Islam. Tentu hal ini sangat disayangkan.
Tuduhan keji terhadap Islam terus bergulir di negeri ini, seperti intoleransi, terorisme, radikalisme, dan semisalnya. Fitnah yang tidak pernah terbukti secara fair, tetapi anehnya banyak umat Islam yang terkecoh. Disinilah urgensinya memahami Islam sebagai way of life, bukan sekadar agama ritual semata.
Jika ditelisik lebih jauh, berbagai program yang dideraskan (termasuk program Jagai Anakta) terlihat sangat umum dan multi tafsir. Tergantung mindset yang menilai dan standar apa yang digunakan.
Pasalnya, isu radikalisme dan ekstrimisme bagaikan pisau bermata dua. Jika pelakunya muslim, pihak berwajib seolah sangat sigap mengidentifikasi pelaku dengan stempel teroris, radikal, atau cap semisalnya.
Namun, jika pelakunya bukan muslim, stempelnya pun berbeda. Paling masyhur adalah teridentifikasi Orang dalam Gangguan Jiwa (ODGJ). Sebuah ironi yang terus dipertontonkan di negeri mayoritas muslim.
















