Terlebih isu radikalisme adalah isu global yang tidak apple to apple dengan program lokal Jagai Anakta. Sebab menjaga anak bukan saja perkara tugas orangtua di dalam rumah, tetapi tugas semua pihak. Keberadaan support system di luar rumahlah yang paling efektif berkontribusi dalam kerusakan atau perbaikan generasi.
Begitu banyak kebijakan dan program yang telah dilakukan, yang katanya dalam rangka perbaikan generasi. Namun, upaya tersebut seolah tidak menyolusi berbagai permasalahan yang ada. Bahkan, kerusakan di hampir semua lini cenderung makin meningkat dan sebarannya pun dalam skala yang lebih luas. Mengapa demikian?
Jika dianalisis secara cermat, kondisi ini disebabkan antara lain: pertama, paradigma berpikir sekuleris liberalis. Dimana paradigma ini menafikan aturan Sang Khaliq dalam mengatur kehidupannya, sehingga apa saja yang menurut hawa nafsunya bagus, itulah yang diambil.
Misal, LGBT yang jelas-jelas melanggar fitrah manusia. Namun, berdalih HAM (yang memang dari Barat), tetap saja banyak orang yang mengakuinya.
Kedua, agenda global atas nama Moderasi Beragama. Program ini perlu diwaspadai karena cacat dari indikator-indikator utamanya yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi.
Poin yang terkait isu radikalisme adalah anti kekerasan yang bisa dipelintir dalam banyak aspek, terutama jika membahas terkait solusi hakiki dari Sang Pencipta atas segala problem negeri ini. Sehingga ketika ada orang atau kelompok yang menawarkan solusi yang tidak sesuai dengan solusi arahan global (Barat), dianggap radikal (sesuai pemaknaan versi Barat).
Ketiga, buta politik. Umat hari ini cenderung sibuk dengan urusannya sendiri. Dimana kehidupan individualistik adalah konsekuensi dari diadopsinya sistem kapitalisme.
Wajar saja ketika agenda beruntun yang digelontorkan Barat menerjang umat, banyak yang tidak paham atau terjebak dalam solusi pragmatis.
Parahnya lagi banyak yang menjadi agen, baik karena sikap apolitis ataupun karena sudah berada di zona nyaman.
Inilah urgensi memahami sebuah sistem politik bernegara, sistem yang tabiatnya memaksa dan mengikat. Dengan memahami kerusakan sistem buatan manusia dan dampak akbar dari penerapannya, maka seyogianya mencampakkan sistem tersebut.
Beralih ke sistem paripurna yang meniscayakan kesejahteraan bagi semua, karena berasal dari Dzat Yang Mahasempurna. Satu-satunya solusi hakiki dari semua problematika umat.











