OPINI—Setiap tahun, fenomena yang sama berulang tanpa kita sadari sebagai masalah serius: masjid-masjid penuh sesak di malam tarawih, tilawah Al-Quran terdengar di mana-mana, sedekah mengalir deras, dan shalat berjamaah membludak hingga ke halaman.
Namun, begitu bedug Idulfitri ditabuh, pelan-pelan pemandangan itu memudar. Masjid kembali lengang, Al-Quran kembali berdebu di rak, dan syariah Islam seakan ikut mudik bersama para perantau yang pulang kampung.
Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai fenomena “Muslim Ramadhan” — mereka yang beragama hanya ketika kalender menunjuk bulan kesembilan Hijriah. Fenomena ini bukan sekadar ironi spiritual, melainkan cermin dari kesalahpahaman mendasar tentang hakikat Islam itu sendiri.
Ramadhan sejatinya adalah madrasah, bukan musim beragama. Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan. Takwa bukan kualitas musiman, melainkan kondisi hati yang harus dijaga sepanjang hayat. Para ulama mengibaratkan Ramadhan sebagai proses pendidikan intensif, yang seharusnya melahirkan konsistensi ibadah di bulan-bulan berikutnya.
Fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Tingkat kehadiran jamaah shalat menurun drastis setelah Ramadhan, aktivitas tadarus merosot, dan semangat ibadah tidak lagi semeriah sebelumnya. Di sisi lain, berbagai persoalan sosial seperti korupsi dan pelanggaran etika tetap terjadi tanpa mengenal kalender Hijriah. Realitas ini menjadi bahan muhasabah bersama.
Padahal, syariah tidak mengenal musim. Kewajiban shalat, larangan riba, kejujuran dalam berbisnis, hingga amar makruf nahi munkar berlaku sepanjang waktu. Rasulullah SAW menegaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten meski sedikit. Prinsip inilah yang menjadi pembeda antara ibadah yang bersifat euforia dan ibadah yang berakar dalam kehidupan.
Keberhasilan Ramadhan tidak semata diukur dari khatam Al-Quran atau penuh tidaknya shalat tarawih, melainkan dari perubahan yang berlanjut setelahnya. Istiqamah dalam ibadah, perbaikan akhlak, serta komitmen menjauhi larangan menjadi indikator utama. Dampaknya pun harus terasa, tidak hanya secara pribadi, tetapi juga dalam lingkungan sosial.
Untuk menjaga kesinambungan itu, dibutuhkan upaya bersama. Individu perlu menetapkan target ibadah yang realistis, keluarga harus membangun tradisi religius yang konsisten, sementara masjid dan komunitas dituntut menghadirkan program berkelanjutan pasca-Ramadhan. Di level yang lebih luas, sinergi lembaga keagamaan dan pendidikan juga menjadi kunci agar nilai-nilai Islam hadir dalam seluruh aspek kehidupan.
Pada akhirnya, pertanyaan reflektif patut diajukan: siapa kita setelah Ramadhan berlalu? Islam bukanlah identitas musiman yang hadir lalu menghilang. Ia adalah jalan hidup yang menuntut totalitas. Ramadhan seharusnya menjadi titik awal, bukan puncak. Sebab, Tuhan yang disembah di bulan suci adalah Tuhan yang sama di setiap waktu—yang terus mengawasi dan menilai setiap amal manusia tanpa henti. (*)
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini penulis dan tidak mewakili pandangan institusi mana pun.
Penulis:
Hijrawati Ayu Wardani
(Dosen dan Pemerhati Sosial)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.










