Beranda » Opini » Jeratan Liberalisme Dibalik Film “The Santri”
Jeratan Liberalisme Dibalik Film “The Santri”
Film The Santri.
Film Opini

Jeratan Liberalisme Dibalik Film “The Santri”

OPINI – Belum tayang di Bioskop, mendadak jagat maya diramaikan dengan tagar #BoikotFilmTheSantri bahkan viral jadi trending topik di twitter Indonesia hingga mencapai 15 ribu cuitan. Seruan boikot ini awalnya disuarakan oleh Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI), Hanif Alathas.

Menurut Hanif, film itu tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya. Atas faktor tersebut, dia meminta kepada para santri dan para jamaah agar tidak menonton film The Santri yang akan tayang pada Oktober mendatang. (cnnindonesia, 16/9/2019).

Sejak awal trailer film ini rilis di youtube, film ini telah mendapat kecaman yang cukup keras dari berbagai kalangan, termasuk para ulama dan pemerhati pesantren nusantara.

Salah satunya adalah pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari, Malang, Jawa Timur. Luthi Bashori meminta para santrinya tidak menonton film tersebut. Menurutnya, adegan yang tampak pada trailer film tidak menceminkan syariat Islam.

“Karena film ini tidak mendidik, cenderung liberal. Ada akting pacaran, campur aduk laki perempuan dan membawa tumpeng ke gereja”,kata luthfi. (katadata,16/9/2019).

Ironisnya, film ini direncanakan akan mulai ditayangkan di bioskop pada 22 Oktober mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional.

Sebagai Informasi, “The Santri” merupakan film yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Film ini di sutradarai oleh Livi Zheng dan dibintangi oleh sejumlah pendatang baru seperti Azmi Iskandar, Wirda Mansur, dan Veve Zulfikar.

Dikutip dari laman PBNU, The santri akan mengangkat nilai dan tradisi pembelajaran pondok pesantren yang berbasis kemandirian, kesederhanaan, toleransi, kecintaan terhadap tanah air, serta sikap anti terhadap radikalisme dan terorisme. Sejumput tanya menggelayut. Jika ingin mempromosikan Islam, mengapa menayangkan banyak nilai di luar Islam? Sungguh absurd.

Propaganda LiberalismeUniversitas Muslim Maros

Berkaitan dengan film “The Santri”, film ini sama sekali tidak mencerminkan wajah pesantren dan kehidupan santri sesungguhnya.

Aroma liberalisasi dalam film ini pun begitu menyengat. Salah satu bentuk liberalisme budaya dalam film The Santri adalah aktivitas pacaran.

Dibuatlah sebuah prototype baru seorang santri jaman milenial. Tidak tabu bagi mereka untuk sekedar berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi hanya sekedar main mata.

Dalam trailer film tersebut, tampak seorang santri dan santriwati yang tengah berdua-duaan (khalwat) di tengah hutan sambil berkuda.

Dari sini dapat dipahami bahwa film tersebut telah menciderai moral dan citra santri itu sendiri. Sebab dalam kehidupan pesantren sesungguhnya, tidak ada aktivitas campur baur antara laki-laki dan perempuan, apalagi sampai terjadi khalwat diantara mereka.

Kalaupun ada kasus yang terjadi dalam pesantren, maka sudah dipastikan akan menerima hukuman yang tak ringan bagi pelanggarnya. Sehingga darimanapun, cuplikan adegan film ini begitu kontras dengan dunia pesantren yang sesungguhnya.

Sebab tidak ada pesantren-pesantren lurus yang membiarkan santri-santri mereka mempraktekkan perilaku pacaran, khalwat dan ikhtilat yang merupakan pintu zina.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Isra :32 menegaskan, ”Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuataan keji dan suatu jalan yang buruk”.

Dan Rasulullah SAW. Bersabda :”Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut” (HR. Bukhari & Muslim).

Selain itu, agenda liberalisme aqidah dan keyakinan juga telah berhasil mengajak anak–anak kaum Muslimin untuk menjadikan Negara sekuler sebagai kiblatnya.

Tentunya ke luar Negeri ini adalah ke negara-negara yang menjadi kiblat modernisasi dan liberalisme seperti Amerika Serikat.

Film ini menggambarkan bahwa karir terbaik santri itu adalah bekerja di Amerika. Pertanyaannya, mengapa harus Amerika ?

Padahal Amerika Serikat adalah negeri yang menjadi kiblatnya sekulerisme, memisahkan peran agama dalam kehidupan dan Negara ini jugalah yang paling memusuhi Islam.

Lantas bagaimana santri berkiblat pada negara Amerika sebagai simbol dari kesuksesan hidup ? sangat miris dan amat disayangakan !

Di dalam film The Santri ini juga terdapat adegan mereka membawa tumpeng untuk diberikan kepada para pendeta di sebuah gereja.

Sungguh sangat jelas adegan ini telah melanggar syariat dan salah dalam menempatkan toleransi. Islam telah meletakkan batasan yang indah dalam Alquran,

“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (TQS Al-Kaafiruun:6).

Sikap toleransi dalam Islam sudah sangat jelas, yakni memberikan kebebasan non-Muslim dalam melaksanakan aktivitas peribadatannya, bukan justru ikut-ikutan dengan memasuki tempat ibadahnya.

Sebagaimana Islam sendiri mengharamkan ketika seorang muslim mendatangi gereja selama umat didalamnya tengah melakukan ibadah.

Keharaman ini berangkat dari perkataan sahabat Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu Anhu. “Janganlah kalian memasuki tempat ibadah orang kafir pada saat mereka sedang merayakan hari agama mereka, karena kemarahan Allah akan turun kepada mereka”.

Umar Bin Al-Khattab menyatakan bahwa akan datang kemarahan Allah, jika ada umat Muslim yang menyambangi tempat peribadatan umat lain pada saat kaum tersebut sedang merayakan hari atau upacara keagamaan mereka.

Lalu atas kepentingan apa adegan masuk gereja membawa tumpeng ditonjolkan? Apakah ini wajah toleransi yang Islam gambarkan?

Sangat jelas bahwa toleransi semaacam ini adalah bukti nyata dari project liberal yang merusak aqidah, moral dan akhlak generasi bangsa.

Padahal jauh sebelum adanya film the santri, sejarah kekhilafahan Islam telah menggambarkan secara nyata tentang toleransi yang sebenarnya. Islam terbukti mampu menaungi dunia dalam kebaikan dan kemuliaan selama 13 abad lamanya.

Umat manusia dari berbagai agama, suku, bangsa, ras, dan budaya hidup damai dalam naungan khilafah Islamiyah.

Jadi tak perlu menggambarkan sikap toleransi berlebihan yang melanggar syariat, sebab Toleransi yang benar sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para Khalifah setelahnya.

Mengembalikan Peran Strategis Santri

Menurut KBBI, santri didefinisikan sebagai orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh, dan orang yang shalih.

Sedangkan menurut KH. Hasani Bin Nawawie Sidogiri, “Santri adalah orang yang berpegang teguh pada Alquran dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW serta teguh pendirian”.

Sejatinya santri adalah tonggak bagi masa depan bangsa dan agama. Bahkan sejarah tercapainya kemerdekaan bangsa tak pernah lepas dari peran para santri dan ulama.

Maka tak heran di tengah hiruk-pikuk maraknya perilaku amoralisasi generasi muda saat ini, pesantren selalu menjadi solusi dalam membentuk generasi yang religius dan berakhlaqul karimah serta pencetak para ulama.

Namun dengan adanya Film The Santri, upaya untuk meliberalisasi kehidupan santri melalui film sungguh begitu nyata.

Lantas bagaimana jadinya jika pesantren sudah menjadi liberal dan mengadopsi nilai-nilai barat, akan seperti apa ulama yang dihasikan?

Karena itu, sungguh sangat krusial untuk diwaspadai jika terdapat upaya-upaya membelokkan potensi santri. Terlebih untuk mengokohkan eksistensi sekularisme.

Di negeri kita ini, sungguh urgen andil santri bersama umat berjuang secara politis mengembalikan Islam sebagai sistem aturan kehidupan. Liberalisasi santri sebagaimana dalam film “The Santri” tak ubahnya pengalihan arah pandang agar santri tak melek akan peran sejatinya bagi umat.

Sudah saatnya mengembalikan peran para santri sebagaimana spirit Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari. Hendaklah santri menjadi garda terdepan para pembela Islam.

Para santri adalah motor-motor penggerak kebangkitan dan konstruktor peradaban Islam. Umat ini butuh solusi mendasar dari Sang Khaliq, di mana ujung tombak pembelajarnya adalah para santri.

Terlebih di tengah kian derasnya invasi tsaqofah Barat, para santri adalah orang-orang yang menempati posisi krusial sebagai simpul-simpul persatuan umat.

Mari bersama peluk erat generasi sambil bergandeng tangan menyuarakan kebenaran Islam. Sebab tak cukup tagar #BoikotFilmTheSantri yang melindungi mereka. Melainkan Allah azza wa jalla dengan terterapkannya syariah Islam secara kaffah. (*)

Penulis : St. Nuwahyu
(Aktivis Dakwah Kampus)
Mahasiswi Program Studi Agribisnis Strata 1
Universitas Muslim Maros