Selanjutnya adalah masalah ekonomi, salah satu pihak meninggalkan pihak lainnya, dan adanya kekerasan dalam rumah tangga.
Perlu kita pahami bahwa sebab-sebab tersebut hanya cabang. Ada sebab lain yang memunculkan persoalan tersebut yaitu system kehidupan yang diterapkan Negara dan masyarakat.
Sistem tersebut adalah kapitalisme yang menjadikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan. Seseorang merasa bahagia ketika mampu memenuhi seluruh kebutuhannya, primer hingga tersier.
Rumah mewah, makanan enak, perhiasan, mode, ataupun jalan-jalan, semua menjadi kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, ia merasa kurang bahagia dan muncullah berbagai konflik dalam rumah tangga.
Disis lain, system ekonomi kapitalisme menjadikan sumber daya hanya bisa diakses oleh kaum bermodal. Muncullah kesenjangan antara golongan kaya dan miskin. Selain itu kapitalisme menjadikan semua kebutuhan sebagai ladang bisnis.
Pendidikan dan layanan kesehatan menjadi teramat mahal. Tidak heran jika tekanan hidup terus meningkat. Suami rentan melakukan KDRT. Istri mudah mengambil keputusan singkat: pergi dari suami atau berpaling ke laki-laki lain. Inilah yang memunculkan factor ekonomi di balik perceraian.
Belum lagi sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan . Paham ini membuat umat Islam memandang agama sebagai ritual semata. Dalam kehidupan sehari-hari, hukum agama dipinggirkan, kaum muslim pun makin jauh dari ketakwaan.
Yang terjadi kemudian adalah para suami yang tidak paham kewajiban menafkahi istri dan anak-anak, menelantarkan mereka dan mengabaikan tanggung jawabnya.
Begitu pula suami-suami yang suka melakukan kekerasan terhadap istri, berselingkuh, berpoligami secara tidak adil, dan kedzaliman lain yang menyalahi syarak.
Semua berujung perselisihan dan keretakan rumah tangga yang sering kali diakhiri dengan gugatan cerai istri kepada suami.













