Sementara sinar matahari langsung membuatnya cepat mati. Tidak ketinggalan, gigitan serangga, seperti nyamuk Aedes aegepty yang telah membawa virus dengue menginvasi dengan Demam Berdarah-nya.
Pada saat gejala penyakit mulai muncul, mereka pun tidak mengakses sarana kesehatan. Entah karena ketidaktahuan, lokasi yang sulit dan jauh, tinggal sebatang kara tanpa sanak saudara, atau karena alasan biaya.
Bagi orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di area yang layak huni seolah mimpi. Kemiskinan di negeri ini tidak semata disebabkan karena factor individu. Bukan karena malas bekerja semata.
Namun, pekerjaan bisa dilakoni tidak mampu menyentuh pekerjaan yang lebih manusiawi. Inilah keadaan yang tidak dapat dihindari seseorang. Sistem kehidupan hari ini menjerat dalam pusaran lingkaran kemiskinan struktural.
Bagaimana mereka mau hidup layak, sedangkan mencari pekerjaan amatlah susah. Bagaimana melamar pekerjaan sementara kualifikasi pendidikan tidak sesuai lapangan kerja yang ditawarkan akibat putus sekolah?
Mengapa mereka jadi berpendidikan rendah? Karena sekolah yang berkualitas tentulah bayarannya mahal. Mengapa bayaran sekolah tergantung kualitas? Siapa yang mestinya menyediakan dan menjamin pendidikan?
Di pundak siapa seharusnya kewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa ini? Juga menyehatkannya?
Upaya preventif, lebih baik!
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan sudah tidak diragukan. Apalagi fasilitas kesehatan telah terakreditasi paripurna. Penyakit infeksi tentu dapat ditangani.
Namun, upaya kuratif bukanlah satu-satunya jalan untuk menjadikan derajat kesehatan yang lebih baik. Upaya promosi kesehatan dan preventif merupakan upaya jangka panjang dan menantang.
Keberadaan mikroba tidak mungkin dimusnahkan. Pada keadaan tertentu, mikroba justru membuat kehidupan di bumi ini lebih baik.
Namun, penyakit infeksi yang disebabkan mikroba patogen dapat dicegah dengan memutus rantai penularannya. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bisa dilakukan pada tataran personal dan komunal.
Bukan perilaku namanya bila hanya dilakukan sekali-dua kali. Membentuk perilaku hidup bersih dan sehat didahului dengan membentuk pola pikir.
Pola pikirlah inilah yang menuntun seseorang untuk berperilaku sesuai apa yang ia pahami. Melalui pendidikan dan edukasi yang simultan dari dinas terkait, idealnya langkah ini menjadi upaya pencegahan yang efektif.
Tak kalah penting adalah tata kelola sampah yang professional, mulai level rumah tangga, sekolah, tempat kerja hingga level negara. Bila perlu, pengelolaan sampah menjadi materi yang mesti diajarkan di sekolah. Ketersediaan drainase yang lancar, sanitasi lingkungan yang baik akan mengurangi kehadiran vector.
Langkah terberat namun efektif adalah mengentaskan kemiskinan ekstrem di negeri ini. Ibarat mengobati penyakit, dengan mengatasi kausanya, bukan hanya meredakan gejalanya.
Dinanti kehadiran pemerintahan yang Amanah, mampu mengurus, mencerdaskan dan menyehatkan rakyatnya. Bukan sebatas slogan dan janji manis lima tahun sekali. Wallahu ‘alam bishshowab. (*)
Penulis: dr. Rostia Arianna (Dokter & Pemerhati Isu Kesehatan)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













