OPINI—Peperangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-32 sejak serangan dilancarkan pada 28 Februari 2026. Sedikitnya 3.300 korban dilaporkan berjatuhan, termasuk 165 anak yang menjadi korban pengeboman sekolah perempuan di Minab, serta pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei (Reuters, Al Jazeera).
Iran tidak tinggal diam. Sebagai respons, Teheran menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial. Hingga kini, sekitar 1.900 kapal dilaporkan mengantre tanpa kepastian, membawa sekitar 190 juta barel minyak mentah yang tertahan, berdasarkan data MarineTraffic dan Vortexa. Kondisi ini membuat negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari jalur tersebut berada dalam tekanan.
Selat Hormuz, dengan lebar sekitar 20 kilometer—lebih sempit dari Selat Sunda—memegang peran vital sebagai jalur distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab melewati selat ini. Sebagian besar, yakni sekitar 80 hingga 89 persen, ditujukan ke kawasan Asia, yang 60 persen kebutuhan impornya bergantung pada pasokan dari Timur Tengah melalui jalur tersebut.
Penutupan Selat Hormuz menegaskan bahwa kawasan ini bukan sekadar jalur laut biasa, melainkan urat nadi ekonomi global. Iran tampaknya memahami betul bahwa tekanan ekonomi dapat menjadi senjata strategis dalam menghadapi musuh.
Sejarah mencatat, strategi serupa pernah diterapkan pada masa Rasulullah SAW dalam Perang Badar. Saat itu, Rasulullah bersama sekitar 313 pasukan menghadang kafilah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Dalam peristiwa tersebut, sahabat Hubab bin Mundzir mengusulkan strategi penguasaan sumber air dengan menutup sumur-sumur yang dapat diakses musuh. Usulan itu diterima, dan strategi tersebut berkontribusi pada kemenangan kaum Muslim.
Kemenangan di Perang Badar tidak diraih secara instan, melainkan melalui strategi yang matang dan persatuan yang kuat. Namun, kondisi umat Islam saat ini dinilai berbeda. Fragmentasi dalam sistem negara-bangsa (nation-state) dinilai telah mengikis persatuan, menggantinya dengan loyalitas sempit pada kepentingan nasional masing-masing.
Akibatnya, berbagai konflik yang menimpa wilayah-wilayah Muslim seperti Gaza, Iran, Yaman, dan Lebanon kerap disikapi tanpa langkah kolektif yang signifikan. Korban jiwa yang terus berjatuhan sering kali hanya menjadi angka statistik yang cepat dilupakan.
Dalam pandangan penulis, para pemimpin negara-negara Muslim dinilai belum menunjukkan respons yang sepadan dengan kapasitas yang dimiliki, baik dari sisi kekuatan politik maupun sumber daya ekonomi. Sebaliknya, sebagian di antaranya justru menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang dianggap berkontribusi terhadap konflik tersebut.
Kondisi ini diibaratkan sebagai manifestasi dari penyakit “wahn”, yakni cinta dunia dan takut mati, sebagaimana disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Di sisi lain, dinamika konflik juga memperlihatkan dampak yang tidak kecil bagi pihak penyerang. Amerika Serikat menghadapi tekanan ekonomi domestik, termasuk lonjakan harga energi, sementara Israel dilaporkan menghadapi tekanan psikologis di kalangan warganya akibat intensitas serangan balasan.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Hasyr ayat 14 menggambarkan bahwa musuh tampak bersatu, namun sejatinya terpecah. Ayat ini kerap dijadikan rujukan untuk membaca dinamika internal pihak-pihak yang berkonflik.
Pada akhirnya, tulisan ini menekankan pentingnya persatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan global. Harapan akan kebangkitan kembali kekuatan umat disandarkan pada keyakinan terhadap janji Ilahi, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS Ar-Ra’d: 11).
Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis:
An-Nur Rezki Azizah
(Mahasiswi IAIN Bone, Fakultas Tarbiyah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.










