OPINI—Perkembangan teknologi seiring dengan pesatnya arus globalisasi menuai pro-kontra dalam masyarakat. Revolusi industri 4.0 digaungkan untuk mengubah realita kehidupan yang katanya akan membawa perubahan yang lebih baik. Dalam penerapannya, Indonesia sendiri telah melebarkan sayapnya pelan tapi pasti menuju langkah perubahan gaya hidup Barat.

Lahirnya modernisasi di dalam masyarakat kita telah sedikit banyak mengubah cara pandang dan pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang tercipta merupakan duplikasi budaya masyarakat Barat yang cenderung berjiwa konsumtif dan hedonis.

Berbagai macam fenomena kehidupan yang terjadi di lingkungan masyarakat saat ini, telah mengilustrasikan suatu keadaan yang mencerminkan layaknya kehidupan masyarakat dunia Barat.

Pola masyarakat dunia Barat yang tumbuh dengan pesatnya tentu karena dorongan berbagai yang melahirkan dan mempopulerkannya.

Dunia Barat sebagai cerminan kebudayaan lebih modern yang menggiring asas kapitalisme yaitu manfaat tanpa mempedulikan dampak betapa buruknya pola hidup Barat yang sangat liberal tanpa batas.

Bahkan pemerintah pun mendukung hal ini hingga masyarakat khususnya generasi muda terkena dampak dan bertekuk lutut meniru secara mentah-mentah tanpa adanya koreksi dan filter informasi terlebih dahulu.

Industri media yang menguasai saat ini, terbukti menunjukkan betapa banyaknya generasi muda lebih menyukai berselancar pada media sosialnya dengan menghabiskan waktu berjam-jam. Berbagai jenis tontonan tanpa batasan umur, serta aplikasi-aplikasi yang mendorong mereka semakin bersifat apatis dan hedonis serta perilaku negatif lainnya.

Maka hal itu telah mengobrak-abrik tatanan hidup khususnya umat Islam sendiri yang merupakan tujuan hidupnya adalah ridho Allah semata namun digantikan dengan kelalaian serta kemaksiatan dan dengan kebudayaan seronok, berperilaku rusak, dangkal pemikiran, berjiwa pragmatis, instanis, konsumtif.

Tak cukup dengan liberalisasi dalam media sosial dan ekonomi yang kian menggerus kedaulatan dan kemandirian di Indonesia, tak hanya serangan budaya Barat namun budaya korea pun tak kalah gencarnya memasuki ranah pendidikan seperti dilaksanakannya Korean Corner di Universitas Hasanuddin (Unhas), menyelenggarakan Korean Corner yang merupakan bentuk kerja sama antara Unhas dan Kedutaan Besar Korea di Jakarta.

Korean Corner yang terletak di Perpustakaan Pusat Unhas menyediakan berbagai fasilitas penunjang. Salah satunya, koleksi kurang lebih 2.000 buku, terdiri dari kesusastraan Korea, novel dan beberapa layanan lainnya. Fasilitas-fasilitas tersebut untuk memberikan kemudahan bagi mahasiswa mengenal dekat kebudayaan Korea.

Kebudayaan Korea masuk kampus menunjukkan kian liberalnya sistem pendidikan Indonesia. Artinya secara formal, Korea sebagai negara atheis plus budaya dan gaya hidup yang menunjukkan penurunan moral akan menjadi prototipe generasi muda pemegang estafet kepemimpinan.

Bisa dibayangkan seperti apa nasib bangsa ini ke depannya. Aseng dan asing pun kian nyaman tak hanya puas melampiaskan keserakahan ekonominya tapi juga syahwat birahinya karena pemerintah telah menyiapkan budaya liberal yg menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Bagaimana Islam mengatasi krisis kebudayaan?

“… diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…” (QS. Al Baqarah [02]:185).

Al-Qur’an sebagai kitab suci Islam diturunkan Allah SWT, sebagai petunjuk bagi manusia. Dan buka sekedar petunjuk saja tetapi penjelasan mengenai petunjuk tersebut juga. Petunjuk disini juga bukan sekedar tuntunan dalam menjalankan ibadah akan tetapi segala aspek kehidupan manusia. Pada ayat tersebut menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia, artinya Islam pun demikian ia hadir untuk seluruh manusia bukan milik suatu bangsa atau kaum.

Berdasar ayat di atas kita bisa mengatakan bahwa Islam adalah sebuah solusi terhadap segala problematika kehidupan manusia, ia hadir untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang madani (civiled society).

Islam tidak sekedar tentang hubungan spiritual antara mahluk dan Sang Pencipta, tapi Islam tentang bagaimana manusia menjalani kehidupannya, tentang interaksinya sesama manusia dan alam, tentang gaya hidup (life style) serta worldview (pandangan alam/pandangan hidup).

Di saat kita sedang dihadapkan dengan krisis kebudayaan. Krisis yang akan berdampak sangat buruk bagi kehidupan, krisis yang akan mengubah tatanan kehidupan masyarakat, mengubah gaya hidup dan pola berpikir manusia yang tidak sesuai Islam yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw.

Islam yang merupakan sebuah ideology memberikan aturan paripurna serta sempurna yang berasal dari Allah Azza wajalla. Dan cara pandang Barat inilah menyebabkan kita terhadap hidup dan alam ini tidak tepat atau tidak mampu selaras dan sebaiknya. Maka dari cara pandang terhadap kehidupan yang tidak tepat akan melahirkan budaya dan perilaku yang tidak tepat pula.

Pandangan hidup Islam ini mencakup segala aspek kehidupan manusia bahkan kehidupan setelah kematian, juga sangat memperhatikan persoalan moralitas dan akhlak, sebab Islam hadir ditengah-tengah kita untuk memberi petunjuk tentang kebenaran dan kebathilan (QS. [02]:184)

Serta Nabi diutus untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia. “Sesungguhnya aku diutus, (tiada lain, kecuali) supaya menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. Ahmad dari Abi Hurairah) hanya dengan Islam maka akan melahirkan pribadi yang rabbani, dan terciptanya sebuah masyarakat yang beradab dan berbudaya.

Dan tentu Islam tidak bisa diterapkan tanpa adanya sebuah sistem pemerintahan Negara yaitu khilafatan minhajin nubuwwah sebagai perisai dan pelindung , sekaligus penjamin penerapan aturan hukum-hukum syara dalam perkembangan kebudayaan yang sesuai Al Qur’an dan tuntunan Rasulullah Saw.

Wallahualam bishowab