Beranda » Opini » Literasi dan Gerakan Politik
Literasi dan Gerakan Politik
Penulis : Ahlan Mukhtari Soamole Alumnus Universitas Karya Dharma Makassar/ Pegiat Belajar Filsafat
Opini

Literasi dan Gerakan Politik

OPINI – Akankah betul bila literasi diselaraskan atau dikaitkan dengan politik, sebagaimana kita ketahui literasi adalah gerakan pencerdasan dibangun melalui kegiatan intelektual yang mendahulukan pemurnian berpikir secara mendalam, sistematis dan mendasar.

Kemampuan literasi yang tinggi dapat meningkatkan cara pandang seseorang secara baik dengan standar analisis dan teori yang memungkinkan.

Literasi yang baik didukung dengan kemampuan membaca dan menulis, membaca buku-buku, majalah koran maupun berbagai macam berita yang ditemukan sehingga kemampuan menganalisis didukung berbagai macam teori yang berarti.

Tak hanya membaca kemampuan literasi juga harus dibarengi kegiatan menulis sehingga menulis dapat merepresentasi pengetahuan-pengetahuan yang miliki dan dapat disalurkan kepada rakyat untuk dibaca ‘dikonsumsi’ secara menyeluruh.

Literasi sudah bukan lagi hal baru dalam kehidupan masa kini, beberapa elemen muda masyarakat ataupun kalangan mahasiswa yang selalu bergeliat dalam mewacanakan literasi sebagai bentuk kesadaran intelektual.

Mengupayakan pemberdayaan manusia diperhadapkan persoalan lain yakni ketidak-autentiknya gerakan literasi akibat surplus gerakan tersebut.

Akibat, semuanya penuh dengan pencitraan dinamika ini bermunculan manakala kondisi negara dan bangsa ini dalam situasi politik yang mencengangkan.

Gerak-gerik gerakan literasi sekelompok orang tersebut persis sebagaimana adegan politik praktis yang dengan sendirinya menghilangkan nilai substansi dari gerakan literasi itu sendiri.

Anda dan kita semua pasti tahu bahwasannya politik Indonesia lekat dengan kepentingan orang yang bergeliat dalam politik ini memungkinkan untuk memanfaatkan situasi dan kondisi.

Ini sebagai penunjang kepentingannya dan bisa saja para politisi menjadikan ruang literasi sebagai gerakan poitiknya di mana literasi berkelompok lebih menjanjikan sebab menyiapkan formasi massa (baca ; kelompok) anak-anak muda yang banyak.

Apalagi dengan klasifikasi lietarasi yang sudah dilekatkan dengan frame-frame tertentu lebih menambah kualitas citra pada publik utamanya semisal rumah literasi, bengkel literasi, jendela literasi.

Lebih parah lagi nama negara dilekatkan dengan nama literasi (Japan Literasi, Vietnam Literasi, Indonesia Literasi) jangan sampai kemungkinan diselipkannya kepentingan politik sebagai basis pencitraan mewujudkan gerakan politik.

Akan tetapi tentu masih ada kelompok-kelompok intelektual yang betul-betul mengganggap literasi itu adalah kegiatan murni pencerdasan bangsa tanpa ada intervensi apa pun lebih-lebih sebagai wadah pamer-pameran.

Literasi sangatlah penting di dalam menumbuhkan kemampuan manusia baik kemampuan secara intelgensia, intelektual, emosional dan spritual.

Namun seiring perwujudan itu literasi menumbuhkan kepentingan ekonomi para pemilik modan dan pasar di mana gerakan ini disusupi dengan budaya belanja yang menambah beban rakyat untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Sebab, seiring perkembangan literasi bukannya rakyat dibuat mudah memperoleh ilmu dan pengetahuan namun rakyat dipersulitkan dengan membeli buku-buku yang terpampang dirak-rak buku dengan label berkunjung ke warkop atau cafe untuk mediskusikan sesuatu—yang secara psikologis kita dipaksa untuk membelinya—apakah ini disebut dengan literasi.

Literasi yang menyulitkan seseorang itulah bagian dari realitas ekonomi pada aspek iterasi, maka sebagai pegiat literasi dan sosok pejuang lietarsi dalam memberdayakan rakyat kita juga harus berhati-hati dan berjuanglah dengan niat yang tulus untuk memerdekakan manusia dari kebodohan keterpurukan dan keterjajahan.

Profil Penulis

Penulis dilahirkan pada tanggal 07 Januari 1997 di Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Penulis sekarang menyelesaikan jenjang Strata 1 (S1) di Perguruan Tinggi Universitas Karya Dharma Makassar Jurusan Ilmu Teknik Pertambangan.

Sejak awal mahasiswa hingga tingkat akhir penulis berkecimpung di dalam organisasi lembaga intern kampus, Himpunan mahasiswa Islam Komisasriat Teknik Universitas Veteran Republik Indonesia Makassar.

Himpunan mahasiswa Teknik Pertambangan-UKDM, PERMATA (Perhimpunan mahasiswa Pertambangan Indonesia). Dan Organisasi ekstern, ORASI (Organisasi Studi dan Aktualisasi Pancasila), LENTERA Organisasi Kajian FILSAFAT dan Disiplin Keilmuwan, AMPERA-MALUT (Aliansi mahasiswa Peduli Rakyat Maluku Utara-Makassar), Ikatan Pelajar mahasiswa Kota-Ternate Makassar.

Serta penggagas Forum Kajian Kritis Strategis Ekonomi Politik dan Pertambangan dan The GerKIna Intitute.

Penulis dibesarkan dari keluarga sederhana namun menjunjung tinggi nilai adat istiadat, nilai Agama Spritualitas penulis dididik semasa kecil oleh sosok orang tua, berharap anaknya menjadi sosok pemuda kuat, tangguh, sabar menjalani hidup, terpenting bagaimana dapat bermanfaat bagi orang lain.

Buku yang pernah ditulis penulis Sajak-Sajak Cinta, Badai dan Revolusi (2018), serta karya atikel dan berbagai tulisan di media cetak koran dan lainnya. [*]

Penulis : Ahlan Mukhtari Soamole
Alumnus Universitas Karya Dharma Makassar/ Pegiat Belajar Filsafat