TAKALAR—Diskusi buku di ruang kelas SD Negeri 094 Beba, Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Takalar, mendadak jadi momen penuh semangat. Suara tawa, debat ringan, dan antusiasme siswa mewarnai kegiatan yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Literasi (KKNT-Literasi) Universitas Hasanuddin, Selasa (22/7/2025).
Melalui program “Cerdas Mengulas Buku”, mereka mencoba mendekatkan anak-anak dengan buku secara menyenangkan dan reflektif.
Program ini menjadi salah satu cara mahasiswa Unhas mendorong tumbuhnya budaya literasi dan keterampilan berpikir kritis di usia sekolah dasar.
Di tengah upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Takalar yang pada 2024 mencatat angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 69,47 (BPS Sulsel, 2025), inisiatif seperti ini menjadi kontribusi yang relevan dan berdampak langsung di tingkat akar rumput.
Salah satu koordinator kegiatan, Annisa Dliya Amara, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan sangat memperhatikan aspek usia dan daya serap siswa.
“Buku-buku yang dipilih disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak dan harus memuat cerita menarik serta nilai moral yang kuat,” tuturnya.
Setelah sesi membaca bersama, mahasiswa memandu diskusi kelompok yang mengajak siswa menelaah karakter, konflik cerita, hingga pesan yang bisa mereka ambil.

Hasilnya terlihat jelas. Siswa yang awalnya enggan berbicara perlahan mulai aktif menyampaikan pendapat. Beberapa bahkan tak sabar menanggapi teman sekelompoknya.
“Situasi itu memperlihatkan bahwa ketika metode belajar terasa dekat dan menyenangkan, kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi pun ikut tumbuh,” jelasnya.
Antusiasme siswa tak berhenti di ruang kelas. Banyak di antara mereka mulai tertarik mengeksplorasi bacaan lain di luar kegiatan sekolah. Perpustakaan Desa Tamasaju pun kini bersiap menjadi tempat rujukan baru bagi anak-anak untuk memperluas minat bacanya.
Program KKNT-Literasi Unhas Gelombang 114 ini diharapkan bisa jadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Galesong Utara dan sekitarnya untuk mulai menghadirkan pendekatan literasi yang lebih membumi dan partisipatif.
“Sebab, dengan cara yang tepat, buku bukan sekadar kumpulan kata, melainkan jendela yang menghidupkan imajinasi dan pemahaman dunia,” pungkasnya. (*)

Citizen Reporter: A. Qurratu Aini (Fisika Angkatan 2022, FMIPA, Unhas)













