Beranda » Opini » Malu Kita Teriak ‘Merdeka’
Malu Kita Teriak ‘Merdeka’
Opini

Malu Kita Teriak ‘Merdeka’

Sorak-sorak bergembira bergembira semua sudah bebas Negeri kita, Indonesia merdeka. Indonesia merdeka Republik Indonesia Itu lah hak milik kita untuk slama-lamanya.

OPINI – Begitulah lirik lagu wajib Nasional dengan judul “Sorak-sorak Bergembira” ciptaan C. Simanjuntak. Lagu “Sorak-sorak Bergembira” merupakan salah satu lagu perjuangan yang sering kita dengar menjelang hari perayaan kemerdekaan tanah air kita. Lagu yang menggambarkan tentang kegembiraan rakyat Indonesia sudah merdeka dari penjajahan.

Perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 disambut hangat dari berbagai kalangan. Warna merah putih menghiasi jalan raya, penjual bendera pun meraih keuntungan melebihi hari biasanya. Jika di perkampungan akan kita temukan jiwa gotong royong tumbuh satu sama lain.

Sang ayah mengganti pagar bambunya yang sudah usang sembari mengecetnya dan sang ibu yang sibuk membersihkan halaman rumahnya.

Semangat cinta tanah air kian membara, mengingat bagaimana perjuangan orang terdahulu menegakkan kemerdekaan.

Kejadian ini sungguh sangat baik. Namun, kebersatuan dan jiwa gotong royong apakah hanya muncul pada perayaan tertentu?

Jangan sampai perayaan kemerdekaan ini hanya dimaknai memasang bendera, memakai pakaian pahlawan, upacara dan berbagai macam perlombaan? bisa jadi menjebak kita hanya sebatas seremonial belaka.

Sudah 74 tahun Indonesia meneriakkan kata ‘merdeka’ tapi fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Adapun makna merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu bebas dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya. Sudahkah kita bebas dari itu semua?

Penjajahan Gaya Baru

Indonesia telah terjajah dengan wajah baru yaitu Neoliberalisme dan Neoimperialisme. Adapun Neoliberalisme menurut Alonzo L. Hamby, Ph.D, profesor sejarah di Universitas Ohio yaitu paham ekonomi dan politik yang menekankan pada kebebasan (freedom), persamaan (equality) dan kesempatan (opportunity).

Sehingga dengan kebebasan itu negara dianggap sebagai penghambat utama penguasaan ekonomi oleh individu yang melakukan privatisasi sektor publik. Seperti migas, gunung, sungai, laut, pariwisata dan lain-lain.

Jika kita melihat Indonesia dengan limpahan kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Namun sayang, mengapa limpahan kekayaan alam belum dapat dinikmati rakyat Indonesia?

Sedangkan Neoimperialisme yaitu penjajahan yang tidak menggunakan militer sebagai instrument dominasinya, melainkan seperti politik, ekonomi dan budaya.

Politik yang semakin kental akan kepentingan pemilik modal inai jai doe’na iya akkuasa (siapa yang punya banyak uang dia berkuasa).

Adapun di bidang ekonomi ketimpangan si kaya dan miskin semakin nampak. Menurut laporan BPS ketimpangan di Indonesia memang memburuk. Tahun 2017 mencapai 0.40 naik cukup tinggi dibanding tahun 1999 yang hanya 0.30.

Budaya luar yang masuk tanpa filter nyatanya mampu mengubah paradigma masyarakat secara perlahan (sehingga nilai agama pun dipinggirkan).

Neoliberalisme dan Neoimperialisme telah nyata dijadikan alat untuk menghisap negara jajahannya. Sehingga berdampak buruk bagi kita semua.
Diantaranya tingginya angka kemiskinan, kesenjangan ekonomi, korupsi dan kriminalitas yang terus berkembang. Eksploitasi SDA di negeri ini secara brutal menunjukkan bagaimana kolaborasi pengusa dan pengusaha.

Statemen ‘demi kepentingan rakyat’ sejatinya dijadikan alat memuluskan keserakahan. Kenyataan buruk makin diperparah oleh kebijakan-kebijakan seperti harga bahan pokok yang tidak stabil, kenaikan harga BBM, elpiji, dan tarif lisrik.

Teriakan “orang miskin dilarang sakit dan berpendidikan” ini menggambarkan betapa sulitnya bertahan hidup di negeri ini. Lomba demi lomba digelar yang jadi pertanyaan apa yang mesti kita rayakan?

Apakah kita merayakan SDA yang dikuasai asing, merayakan hukum yang tebang pilih, merayakan harga pokok yang tidak stabil, merayakan tingginya angka kriminalitas dan kemiskinan, merayakan pendidikan dan kesehatan yang kian mencekik. Merayakan bagi-bagi kue kekuasaan?

Apakah kita merayakan ini semua? Harusnya kita malu. Memang benar bahwa kita tidak sedang dijajah dari segi fisik tapi dari sisi lainnya? sadar atau tidak, sejatinya kita masih sedang terjajah.

Islam hadir tidak hanya sekedar agama ritual dan moral belaka. Melainkan sistem kehidupan yang mampu memecahkan problematika kehidupan. Menurut aturan Islam, kekayaan alam bagian dari kepemilikan umum yang wajib dikelolah oleh negara.

Hasilnya untuk kesejahteraan rakyat umum. Sebaliknya haram hukumnya menyerahkan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing. Sebagaimana HR.Ibnu Majah “kaum muslim berserikat, (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api”.

Dengan demikian, untuk mengakhiri kisruh ekonomi, sosial, pendidikan, politik dan lainnya (merdeka sepenuhnya). Ayo kita campakkan aturan sekuler-kapitalis dengan sitem Islam Rahmatan Lil Alamin.

Dengan melimpahnya SDA kita, Tapi justru mayoritas rakyat semakin melarat, ini menandakan ada yang salah kawan? Pasalnya sebagian besar kekayaan alam hanya dinikmati oleh segelintir orang, terutama pihak asing-aseng. WallahuA’lam. (*)

Malu Kita Teriak ‘Merdeka’
Penulis: Ika Rini Puspita
Mahasiswi UIN Alauddin Makassar)