OPINI—Teknologi membuat informasi menyebar cepat dan orang mudah terhubung. Tapi, ini juga mempermudah penyebaran paham ekstremisme secara online. Ekstremisme adalah cara berpikir atau bertindak yang berlebihan dalam suatu ideologi, termasuk agama.
Ciri-cirinya: tidak mau menerima perbedaan, menganggap orang lain sesat, bahkan membenarkan kekerasan atas nama agama. Di era digital, paham ini menyebar cepat lewat media sosial, grup chat, forum online, serta video dan meme yang menarik.
Indonesia, dengan mayoritas penduduk Muslim, juga menghadapi bahaya ini. Banyak orang, terutama anak muda yang rentan secara pemikiran dan emosi, bisa terpengaruh radikalisme hanya dari aktivitas internet mereka. Padahal, Islam adalah agama rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam). Islam mengajarkan perdamaian, toleransi, dan keseimbangan, serta menolak kekerasan.
Maka dari itu, sangat penting untuk menyebarkan ajaran Islam yang moderat di dunia digital. Dakwah yang menyejukkan, pemahaman agama yang kuat, dan kerja sama semua pihak (tokoh agama, masyarakat, pemerintah) diperlukan untuk melindungi generasi muda dari ekstremisme.
Mengapa Era Digital Rentan terhadap Ekstremisme?
Di era digital saat ini, kita bisa dengan sangat mudah berbagi dan mendapatkan informasi. Tapi di balik kemudahan itu, ada bahaya tersembunyi seperti munculnya penyebaran paham ekstrem dan sikap tidak toleran yang mengatasnamakan agama.
Hanya dengan sekali klik, seseorang bisa masuk ke grup radikal, membaca ajaran yang suka mengkafirkan orang lain, atau terpengaruh oleh ujaran kebencian yang disampaikan dengan potongan ayat dan hadis yang dipahami secara salah atau tidak utuh.
Bagaimana Ekstremisme Berkembang di Dunia Maya?
Perkembangan ekstremisme di dunia maya terjadi lewat berbagai cara yang memanfaatkan kecepatan, jangkauan luas, dan fitur interaktif dari teknologi digital. Berikut ini adalah beberapa faktor yang membuat ekstremisme makin berkembang di internet:
Siapa Saja Bisa Jadi “Ustaz Dadakan”
Di internet, siapa pun bisa tampil seolah ahli agama, meskipun tidak punya ilmu yang cukup. Ini bahaya karena informasi yang disebarkan bisa jadi tidak benar.
Algoritma Bikin Konten Ekstrem Cepat Viral
Sistem di media sosial (TikTok, YouTube, Facebook) cenderung memunculkan konten yang kontroversial, ekstrem, atau berisi kebencian di beranda kita karena dianggap menarik. Akibatnya, ajaran agama yang keras dan menyimpang justru lebih cepat menyebar dibanding ajaran yang moderat dan damai.
Agama Dipakai untuk Legitimasi Kekerasan
Beberapa kelompok atau orang memakai agama sebagai alasan untuk melakukan kekerasan, menyebar kebencian, atau bersikap tidak adil.
Mereka merasa paling benar dan menganggap orang lain musuh. Ini berbahaya karena bisa memecah belah masyarakat, padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian.
Kurangnya Pemahaman Agama dan Digital
Banyak orang langsung percaya dan menyebarkan ceramah atau konten agama di internet tanpa mengecek kebenarannya.
Mereka mudah terpengaruh paham radikal atau ajaran sesat karena kurangnya pemahaman agama dan literasi digital. Ini bisa menyebabkan perpecahan dan tindakan kekerasan atas nama agama.
Solusi Menurut Islam, Bukan Sumber Masalah
Islam sejati menolak segala bentuk ekstremisme, baik dalam ucapan maupun tindakan. Ajaran Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan atas nama agama.
Nabi Muhammad ﷺ telah mengingatkan umatnya agar tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan agama. Dalam salah satu hadits, beliau bersabda, “Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ahmad).
Ini menegaskan bahwa Islam mengajarkan sikap yang seimbang dan bijaksana, bukan fanatisme atau sikap keras yang tidak sesuai dengan semangat ajaran Islam.
Di dalam Al-Qur’an, umat Islam disebut sebagai “ummatan wasathan”, “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S Al-Baqarah:143)
Islam sangat mengedepankan kasih sayang, musyawarah, dan saling menghormati. Nilai-nilai ini mendorong umatnya menciptakan hidup yang damai dan harmonis, jauh dari kekerasan atau pemaksaan. Jika dipahami dengan benar, Islam membawa kebaikan bagi semua. Maka, setiap Muslim harus terus belajar dan mengamalkan ajaran Islam dengan kasih, adil, dan seimbang.
Strategi Menangkal Ekstremisme di Dunia Digital
Fenomena penyebaran paham ekstrem di dunia digital sekarang makin sering terjadi. Karena itu, dibutuhkan cara-cara yang menyeluruh dan dari berbagai sisi untuk mencegahnya. Berikut ini beberapa langkah utama yang bisa dilakukan.
Pahami Agama dari Sumber Terpercaya
Penting bagi umat Islam untuk memahami ajaran agama secara benar dan mendalam, tidak hanya dari potongan ayat atau ceramah viral.
Pelajari dari sumber yang sahih dan ulama moderat agar pemahaman agama utuh dan bisa jadi benteng dari ekstremisme. Di era digital, sebarkan nilai Islam yang penuh kasih sayang, bukan kebencian.
Saring Informasi di Media Sosial (Tabayyun)
Media sosial penuh hoaks dan informasi palsu, termasuk yang terlihat seperti ajaran agama. Maka, biasakan tabayyun (cek kebenaran) sebelum percaya atau menyebarkan informasi.
Periksa sumbernya dan pikirkan dampaknya. Ini akan menghindarkan kita dari fitnah, perpecahan, dan pengaruh radikalisme.
Dai dan Konten Kreator, Sebarkan Pesan Damai Secara Kreatif
Para dai, ustaz, dan konten kreator muslim punya peran besar menyebarkan pesan Islam yang damai dan toleran di dunia maya.
Gunakan pendekatan kreatif seperti video, infografis, atau podcast untuk menjangkau generasi muda. Sampaikan pesan tentang cinta, persaudaraan, dan keadilan sosial, bukan kebencian.
Bersatu Lawan Ekstremisme di Dunia Digital
Melawan ekstremisme butuh kolaborasi antar komunitas digital yang moderat. Tokoh agama, ormas, mahasiswa, dan influencer muslim bisa bersatu. Lewat kampanye bersama, mereka bisa menyebarkan konten Islam yang damai, melawan narasi kebencian, hoaks, dan ujaran kebencian, agar masyarakat lebih teredukasi dan mendapat informasi agama yang benar.
Ekstremisme tidak bisa hilang hanya dengan memblokir akun. Ia hanya bisa dilawan dengan ilmu, perilaku baik, dan kesadaran bersama. Di zama n digital ini, setiap Muslim bisa menjadi penyebar kebaikan atau malah ikut memperkuat kebencian. Yuk, kita jadikan Islam hadir tidak hanya di tempat ibadah, tetapi juga di media sosial kita, dengan wajah yang damai, lembut, dan penuh kebijaksanaan. (*)
Penulis: Najla Aulia Kholaidah
Daftar Pustaka
- Musyafak, N., & Nisa, L. C. (2021). Dakwah Islam dan . Ilmu Dakwah, 56-72.
- Sabiq, M., Iskandar, Burhanuddin, A., & Arisnawawi. (2025). Transformasi Perilaku Kelompok Radikal ke Moderat tdi Era Digital. Equilibrium: Jurnal Pendidikan, 96-108.
- Sapardiyono, Santoso, A. B., Soesilo, G. B., & Widodo, W. M. (2024). Literasi Digital Kalangan Ummat Beragama untuk Menangkal Radikalisme dan Ekstremisme di Dunia Maya. Pengabdian Kepada Masyarat, 12-16.
- Wibowo, K. T., & Hadingrat, W. (2022). Penanggulangan Penyebaran Radikalisme Melalui Media Sosial dalam Hukum Pidana Indonesia. Iblam School of Law, 56.
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.







