OPINI—Organisasi pangan dunia baru-baru ini merilis data mengenai masih banyaknya kelaparan yang melanda masyarakat di belahan dunia. Setidaknya ada 59 negara yang mengalami kelaparan akut di mana diantaranya termasuk yang menjadi faktor adalah adanya ketidakstabilan pangan yang akut.
Dalam data yang dijelaskan terdapat 282 juta masyarakat dunia dari 59 negara yang mengalami kelaparan akut di tahun 2023 dan semakin meningkat di tahun 2024, dan salah satu yang paling terdampak adalah perempuan dan anak-anak.
Salah satu yang menjadi faktor pendorong meningkatnya angka kelaparan yaitu situasi Gaza yang kian memanas. Genosida yang dilakukan oleh Israel menyumbang setidaknya 80% peningkatan angka kelaparan.
Menurut organisasi pangan dunia yang diafiliasi oleh PBB, para pemimpin dunia harus menyerukan langkah investasi nasional maupun internasional, ataupun langkah penanganan yang berskala internasional untuk mengatasi permasalahan kelaparan yang makin meningkat.
Di samping berbagai faktor yang menjadi pendorong terjadinya banyak kelaparan di berbagai belahan dunia, tidak lepas juga kekacauan sistem ekonomi kapitalisme yang mendorong peningkatan angka kelaparan terus naik sampai hari ini.
Pada dasarnya sistem kapitalisme tidak memiliki mekanisme untuk menjamin kesejahteraan rakyat, terlebih kesejahteraan bagi perempuan dan anak-anak.
Dalam sistem ekonomi kapitalisme hari ini dapat dilihat bagaimana pengaturan ekonomi dunia yang hanya menguntungkan sebagian pihak dan merugikan pihak yang lainnya.
Dalam ekonomi kapitalisme lapangan pekerjaan merupakan hal yang sulit didapatkan, di samping tidak sesuainya upah atau gaji yang diberikan kepada para pekerja di tengah kehidupan ekonomi yang tinggi.
Rakyat dipaksa untuk menerima dan berjuang sendiri dalam mewujudkan kesejahteraannya. Dalam hal ini seolah hanya rakyat yang berperan untuk memperjuangkan kesejahteraan nya sendiri, yang pada dasarnya juga menjadi tanggung jawab pemerintah, dampak dari kondisi ini dapat dilihat dengan adanya kesenjangan sosial dan kesejahteraan.
Lebih daripada itu peran perempuan menjadi kabur dan terbengkalai karena harus memenuhi standar kehidupan yang tinggi. Hari ini banyak disaksikan perempuan dan anak-anak yang terlantar di jalanan untuk mengais makanan.
Inilah wajah sistem ekonomi kapitalisme yang hanya akan mengenyangkan perut para oligarki dan mengesampingkan kesejahteraan rakyatnya. Di samping permasalahan kelaparan yang ada di Gaza akibat dari diamnya parah pemimpin dunia, jika dikaitkan dengan ekonomi kapitalis, adanya rasa takut akan kehilangan keuntungan juga menjadi faktor pendorong sikap pemimpin negara-negara dunia.
Kapitalisasi akan menjadikan pemilik modal sebagai pihak yang patut untuk dipatuhi. Menyusun berbagai strategi investasi internasional tidak akan menghentikan berbagai kelaparan yang ada di dunia, disamping terus di pertahankannya sistem kapitalisme ini. Mengeruk SDA secara terus-menerus dalam negara miskin dan berkembang hanya akan mensejahterakan para oligarki dengan penjajahan gaya baru.
Dalam sistem ekonomi Islam penjaminan kesejahteraan rakyat perindividu dijamin oleh negara, dengan menerapkan sistem kepemilikan yang tidak akan menelan ini dan merugikan rakyat. Sumber daya alam (SDA) dikelola oleh negara menjadi pemasukan untuk menjamin kesejahteraan rakyat, fasilitas publik yang aman,nyaman, dan gratis.
Sistem pengolahan ekonomi ini telah dibuktikan sejak 1400 tahun yang lalu, dan telah banyak dicatat oleh sejarah mengenai keberhasilannya. Dalam sistem ekonomi Islam pengelolaan sumber daya alam menjamin pembukaan lapangan pekerjaan yang luas dengan gaji yang sepadan sehingga akan menjamin kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Tidak hanya sampai di situ namun dalam bidang kesehatan, pendidikan,dan lainnya juga menjadi jaminan negara. (*)
Penulis: Riska Fadliah Angraini
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.










