OPINI: Keterwakilan Jatah 30% Perempuan, Apakah Sudah Mewakili?

Oleh : Mulyanah Mulkin (Direktur NGO PASAK, Pusat Studi Layanan Publik dan pemerhati perempuan dan anak)

Persoalan ketimpangan gender tercermin jelas dalam rendahnya keterwakilan perempuan di struktur lembaga perwakilan Indonesia. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, dari total 261,9 juta penduduk Indonesia pada 2017, penduduk perempuannya berjumlah 130,3 juta jiwa atau sekitar 49, 75 persen dari populasi. Sayangnya, besarnya populasi perempuan tersebut tidak terepresentasi dalam parlemen. Proporsi perempuan di kursi DPR jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan proporsi laki-laki.

Regulasi operasional yang bisa mewajibkan partai politik peserta pemilu mematuhi kebijakan afirmatif, tetap menjadi faktor strategis. Seperti KPU 2012-2017 yang menerbitkan PKPU Nomor 7 tahun 2013 tentang Pencalonan DPR dan DPRD, di mana daftar calon yang diajukan partai politik peserta pemilu di tiap daerah pemilihan (dapil) wajib memenuhi syarat afirmasi sebagaimana diatur UU Nomor 8 tahun 2012. Jika tidak memenuhi ketentuan itu maka KPU menyatakan daftar calon partai di suatu dapil tidak memenuhi syarat. Partai harus memperbaiki daftar calon. Ketentuan tersebut mampu membuat pencalonan perempuan di tiap dapil 30 persen.

Saya tergelitik untuk memaknai kata 30% ini. Apakah penetapan jatah ini sudah dilakukan kajian yang mendalam? Dan alasan penjatahan hingga menetapkan angka 30% ini apa sudah mewakili? Mengapa tidak menyebutkan angka 40% atau 50%, atau pertanyaan ekstrimnya “Mengapa peran perempuan di kancah perpolitikan ini harus dijatah?”

Selaku perempuan yang juga menggeluti dunia gender, saya ingin mengatakan bahwa penjatahan ini tidaklah adil. Mengapa harus ada pendikotomian antara laki-laki dan perempuan. Ini semakin mempertegas peran perempuan di dunia politik tidaklah diharapkan. Kalaupun ada hanya sekedar pelengkap penderita yang tidak terhitung. Ada dan tiada sama saja, yang penting telah memenuhi pesyaratan dan lolos berkas. Sekali lagi buat saya sebagai perempuan, ini pemarginalan perempuan.

Padahal sebenarnya telah banyak bukti yang memperlihatkan peran perempuan yang mampu mengubah dunia. Mother Teresa (1910-1997), penerima Nobel tahun 1979, yang memiliki misi memberikan perlindungan bagi mereka yang sudah tidak punya siapa-siapa dengan program “The Missionaries of Charity”. Diana (1961-1997), Princess of Wales, yang mendedikasikan hidupnya untuk perikemanusiaan. Dia juga memimpin kampanye pelarangan ranjau darat yang meraih Nobel. Benazir Bhutto (1953-2007), Perdana menteri ke 11 Pakistan, dan wanita pertama yang memimpin negara muslim. Dia mengakhiri kediktatoran militer di negaranya dan memperjuangkan hak wanita.  Hillary Rodham Clinton (1947), Mantan first lady Amerika Serikat yang kemudian terjun ke dunia politik menjadi senator dan menteri luar negeri, serta memperjuangkan kepentingan wanita dan anak-anak. Dan banyak lagi bukti perempuan hebat lainnya.

Perempuan itu adalah makhluk yang multi talenta. Coba saja perhatikan, mereka mampu memasak, mencuci dan mengepel dalam waktu bersamaan. Para perempuan mampu bertahan dalam penderitaan yang kaum laki-laki pasti tidak mampu mengalaminya, yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui. Telah banyak bukti, ketika para perempuan ditinggal oleh suaminya baik cerai hidup maupun cerai meninggal, mereka akan segera bangkit untuk mengambil alih estafet perekomian keluarga, demi anak-anak mereka. Ketika ditarik benang merah ke sector pemerintahan , maka perempuan mampu dengan segera mencari cara untuk menyelamatkan negaranya, bangsanya ketika dilanda krisis moneter.

Perempuan itu mempunyai Rahim, yang artinya kasih sayang dan perasaan tidak tega an. Kaum hawa ini mempunyai banyak cara untuk bertahan hidup, sehingga pasti menemukan solusi walau terkesan sedikit lamban namun terselesaikan. Syaratnya cukup satu, kaum pria harus memberikan mereka penguatan dan kesempatan, karena over protective yang berlebihan dan label lemah kepada mereka, pasti akan menjatuhkan harkat, martabat dan inner power mereka.

Sekarang apa solusi dari penjatahan 30% ini? Sederhana saja, berikan para perempuan ini tempat yang layak, posisi yang tepat di dunia “kaum laki-laki” ini. Berikan mereka pelatihan tentang politik, kesadaran berpolitik, melek hukum dan tentunya ranah domestic harus dibagi dua dengan kaum adam. Karena salah satu kendala terbesar juga para perempuan ogah masuk ke dunia ini, karena beban tanggung jawab seorang diri mengurusi urusan dapur, kasur, dan sumur. Urusan anak-anak juga hampir 100% dihandle oleh mereka. Sehingga kalau saya melihat fenomena ini, secara tidak langsung menyatakan bahwa perempuan itu urusannya cukup berkutat di area domestic saja. Kalau konsep berpikir ini yang dipakai, berarti jatah 30% itu hanya sebagai pemanis saja, rasa sungkan tidak memberi jatah. Ibarat anak kecil, supaya diam, kasi permen saja lah.

Perempuan itu sendiri, ketika telah diberi kesempatan dan jatah, maka gunakan sebaik-baiknya. Perlihatkan kepada dunia, bahwa kalian pun bisa. Rebut simpati dengan skil, kecerdasan dan kemampuan managerial yang baik dalam berpolitik, sehingga jatah 30% dapat ditingkatkan atau bahkan dihapuskan menjadi tanpa penjatahan lagi. Dan kaum pria diharapkan tidak lagi memandang sebelah mata kepada perempuan, justru beri mereka ruang untuk berprestasi dan berapresiasi.

Sekali lagi jatah 30% di pemilu serentak di tahun 2019 ini, diharapkan tidak lagi menjadikan perempuan sebagai pelengkap penderita atau sebagai kewajiban memenuhi syarat administrasi saja, tapi libatkan mereka secara full, dampingi dan bimbing mereka terlibat secara aktif di kepemiluan ini. Kalau perlu urutan no 1, berikan kepada mereka, jangan selalu urutan 3, 6 atau terakhir saja. Mengapa selama ini perempuan tetap terpinggirkan baik dalam hal pendidikan, ekonomi dan kesehatan? Karena rata-rata yang duduk di parlemen adalah kaum pria yang tidak paham akan masalah perempuan. Kaum laki-laki yang mencoba menyelesaikan permasalah perempuan dari sudut pandang mereka.

 

Selamat bertanding di arena legislative ini, berikan yang terbaik dari diri anda !!!

“Dalam banyak hal, gerakan menuju globalisasi juga berarti marjinalisasi terhadap wanita dan gadis. Dan hal tersebut harus berubah.” – Hillary Rodham Clinton (1947). [*]

0 Comments

Komentar Anda

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Don't have account. Register

Lost Password

Register