OPINI—Masyarakat kembali dikejutkan dengan potret generasi masa kini yang semakin menunjukkan perilaku sadis. Kasus terbaru melibatkan MAS (14), remaja yang tega membunuh ayahnya, APW (40), dan neneknya, RM (69), serta melukai ibunya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 30 November 2024. Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki pemicu dan motif di balik aksi keji tersebut.
Anggota KPAI, Dian Sasmita, menekankan pentingnya pengasuhan dalam keluarga dan lingkungan pendidikan. Menurutnya, kedua elemen ini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di sana. Kesadaran akan pentingnya pengasuhan yang baik dan penuh kasih sayang menjadi langkah yang tak dapat diabaikan (Kompas.com, 2 Desember 2024).
Kasus seperti ini bukanlah yang pertama. Fenomena anak yang tega membunuh orang tua atau kerabat terus berulang. Hal ini menandakan adanya masalah mendasar yang dihadapi generasi saat ini. Perilaku kriminal dan kekerasan yang kian marak harus ditelusuri hingga akar penyebabnya.
Beberapa Penyebab Perilaku Sadis
Perilaku sadis di kalangan remaja tak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor utama yang menjadi pemicu:
1. Faktor Lingkungan dan Pengasuhan
Kurangnya kasih sayang dalam keluarga membuat anak tumbuh dalam lingkungan yang keras. Dampak teknologi, seperti game online yang sarat kekerasan, film, dan cyberbullying di media sosial, juga memperparah situasi. Media ini cenderung menormalisasi kekerasan, sehingga anak-anak merasa tindakan keji dapat dilakukan tanpa konsekuensi serius.
2. Faktor Psikologis
Trauma masa kecil, seperti pelecehan, penelantaran, atau intimidasi, dapat memengaruhi kesehatan mental dan membentuk kepribadian antisosial. Anak-anak dengan latar belakang ini sering kali kehilangan empati terhadap orang lain. Tekanan sosial yang meningkat juga membuat remaja haus validasi. Mereka ingin diakui atau menunjukkan dominasi, bahkan melalui perilaku sadis.
3. Faktor Sistemik: Pengaruh Sistem Sekuler
Akar masalah yang lebih dalam terletak pada penerapan sistem sekuler kapitalisme, yang memisahkan agama dari kehidupan. Nilai moral dan agama diabaikan, sementara liberalisme yang menekankan kebebasan berlebihan justru merusak tatanan. Aturan agama semakin dipinggirkan, padahal kekuatan ruhiyah yang lahir dari pemahaman agama mampu membentuk generasi yang bermoral.
Sistem pendidikan pun gagal mencetak generasi berkualitas. Kurikulum yang diterapkan kurang mampu membangun karakter siswa. Akibatnya, institusi pendidikan justru melahirkan banyak masalah baru di kalangan pelajar.
Solusi yang Ditawarkan Islam
Sistem sekuler terbukti gagal melindungi generasi muda. Islam menawarkan solusi komprehensif yang telah teruji selama lebih dari 13 abad. Sistem Islam menciptakan generasi cemerlang dengan mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan. Berikut adalah solusi yang dapat diterapkan:
1. Sistem Pendidikan Berbasis Akidah Islam
Sistem pendidikan Islam berlandaskan akidah yang memengaruhi kurikulum, metode pengajaran, dan kualifikasi guru. Dengan landasan ini, generasi yang lahir tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bermoral dan beradab.
2. Sistem Sosial yang Mendukung Keimanan
Lingkungan masyarakat yang beriman dan bertakwa menjadi kontrol sosial yang efektif. Anak-anak tumbuh di tengah masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai agama, sehingga perilaku mereka pun terjaga.
3. Sistem Sanksi yang Adil dan Efektif
Islam menerapkan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan. Sanksi ini memberikan efek jera, sehingga individu berpikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan kriminal. Sistem ini juga mencegah perilaku menyimpang secara menyeluruh.
Generasi emas tidak akan lahir dari rahim sistem sekuler yang rusak. Jika ingin mengembalikan kejayaan generasi seperti pada masa peradaban Islam dahulu, penerapan sistem Islam adalah sebuah keharusan. Dengan berpegang pada aturan Ilahi, masyarakat dapat bangkit membangun generasi yang beriman, bertakwa, dan bermartabat. Wallahu a’lam. (*)
Penulis: Mansyuriah, S.S. (Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













