PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.The Death of ExpertisePolsek Manggala Gerak Cepat Bekuk Terduga Pelaku Curat Laptop WargaAppi Tantang Kepala TPA Tamangapa Ubah Sistem Pengelolaan SampahKemarau Makin Panjang, Gubernur Sulsel dan Ribuan Warga Gelar Salat IstisqaToraja Utara Masuk 5 Besar Kasus HIV Sulsel, PKK Gencarkan Edukasi di 21 KecamatanSidrap Punya 126 Inovasi, Pemkab HSU Datang Belajar dan Replikasi ProgramPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.The Death of ExpertisePolsek Manggala Gerak Cepat Bekuk Terduga Pelaku Curat Laptop WargaAppi Tantang Kepala TPA Tamangapa Ubah Sistem Pengelolaan SampahKemarau Makin Panjang, Gubernur Sulsel dan Ribuan Warga Gelar Salat IstisqaToraja Utara Masuk 5 Besar Kasus HIV Sulsel, PKK Gencarkan Edukasi di 21 KecamatanSidrap Punya 126 Inovasi, Pemkab HSU Datang Belajar dan Replikasi Program
Opini

Jika Satu Iran Saja Mampu, Mengapa Dunia Islam Masih Terkalahkan?

320
×

Jika Satu Iran Saja Mampu, Mengapa Dunia Islam Masih Terkalahkan?

Sebarkan artikel ini
Mansyuriah, S.S. (Aktivis Muslimah)
Mansyuriah, S.S. (Aktivis Muslimah)

OPINI—Di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas, konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali membuka mata dunia tentang satu hal mendasar: peta kekuatan tidak selalu ditentukan oleh besarnya aliansi, tetapi oleh ketahanan, kemandirian, dan yang sering diabaikan potensi persatuan.

Fakta bahwa Amerika Serikat bersama Israel tidak mampu dengan mudah menaklukkan Iran, yang secara faktual hanya satu negeri Muslim, menjadi sinyal kuat bahwa dominasi global memiliki batas.

Bahkan lebih dari itu, ketidakmampuan Amerika untuk memaksa sekutu-sekutunya terlibat langsung dalam konflik ini menunjukkan adanya retakan dalam soliditas blok kekuatan Barat itu sendiri.

Di sisi lain, realitas pahit justru datang dari sebagian penguasa negeri-negeri Muslim yang memilih berpihak atau bersekutu dengan kepentingan Amerika, alih-alih membangun barisan kekuatan bersama.

Ironi ini memperlihatkan bahwa kelemahan dunia Islam bukan terletak pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada absennya kesatuan visi dan keberanian politik.

Menariknya, Iran sebagai pihak yang terus ditekan justru mampu mengajukan sejumlah syarat dalam wacana gencatan senjata yang dalam hal ini mencapai sepuluh poin menandakan posisi tawar yang tidak bisa diremehkan.

Dari rangkaian fakta ini, tersirat satu pelajaran penting yang tak boleh diabaikan: jika satu negara saja mampu bertahan dari tekanan hegemoni global, maka bayangkan kekuatan yang bisa lahir jika negeri-negeri Muslim bersatu dalam satu barisan yang kokoh. Bukan sekadar mimpi idealistik, tetapi sebuah kemungkinan strategis yang sangat nyata jika kepentingan umat diletakkan di atas kepentingan sempit rezim masing-masing.

Potensi Kaum Muslimin

Jika dicermati lebih dalam, konflik ini meruntuhkan asumsi lama bahwa Amerika Serikat dan Israel adalah kekuatan yang tak tersentuh. Selama ini, citra adikuasa dibangun melalui dominasi militer, ekonomi, dan pengaruh politik global.

Namun, fakta bahwa Iran mampu bertahan sekaligus menunjukkan keberanian untuk melawan tekanan Amerika menjadi bukti bahwa kekuatan tersebut tidak absolut, ini menegaskan bahwa distribusi kekuatan global bersifat dinamis tidak lagi sepenuhnya unipolar, melainkan bergerak menuju konfigurasi yang lebih kompleks dan berlapis.

Ketahanan Iran, meski menghadapi tekanan besar, memperlihatkan bahwa faktor ideologi, kemandirian strategis, dan daya tahan domestik dapat mengimbangi superioritas militer konvensional.

Lebih jauh, konflik ini kembali menegaskan prinsip klasik dalam Geopolitik: tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang terus berubah. Ketika Amerika sendiri kesulitan memobilisasi sekutu-sekutunya untuk terlibat langsung, hal itu menunjukkan bahwa loyalitas dalam aliansi internasional sangat bergantung pada kalkulasi untung-rugi masing-masing negara.

Negara-negara yang tampak dekat sekalipun akan menahan diri jika keterlibatan tersebut berisiko tinggi bagi stabilitas domestik atau kepentingan nasional mereka. Dengan kata lain, fondasi aliansi global bukanlah solidaritas, melainkan pragmatisme.

Di sisi lain, problem internal dunia Islam justru menjadi faktor yang memperlemah potensi kolektifnya. Ketika sebagian penguasa Muslim memilih bersekutu dengan kekuatan eksternal demi mempertahankan kekuasaan atau keuntungan jangka pendek, yang terjadi adalah fragmentasi yang semakin dalam.

Dalam kerangka Ilmu Politik, kondisi ini dapat dipahami sebagai kegagalan membangun konsensus strategis lintas negara yang seharusnya menjadi basis kekuatan bersama. Pengkhianatan terhadap kepentingan umat tidak hanya melemahkan posisi politik, tetapi juga mengikis kepercayaan antarnegara Muslim itu sendiri.

Padahal, jika dilihat dari sisi potensi, dunia Islam memiliki semua prasyarat untuk menjadi kekuatan global baru mulai dari sumber daya alam, posisi geografis strategis, hingga jumlah populasi yang besar. Jika faktor-faktor ini disatukan dalam visi bersama, maka lahirlah kekuatan yang mampu menyeimbangkan bahkan menandingi hegemoni global yang ada saat ini. Kesatuan bukan lagi sekadar wacana normatif, melainkan kebutuhan strategis yang dapat mengubah peta kekuatan dunia secara signifikan.

Membangun Kesadaran Kolektif Umat

Berangkat dari realitas tersebut, langkah paling mendasar adalah membangun kesadaran kolektif umat bahwa kesatuan negeri-negeri Muslim bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan yang sangat urgen. Selama umat masih terfragmentasi dalam batas-batas nasional yang sempit, potensi besar yang dimiliki akan terus tereduksi.

Kesadaran kolektif adalah fondasi utama bagi lahirnya perubahan besar; tanpa itu, gagasan persatuan hanya akan berhenti sebagai wacana tanpa daya dorong nyata. Oleh karena itu, narasi persatuan harus terus ditumbuhkan sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar seruan emosional.

Lebih jauh, gagasan tentang kesatuan tersebut sering dikaitkan dengan kebutuhan akan sebuah institusi pemersatu yang memiliki otoritas politik dan hukum yang jelas. Dalam hal ini, konsep Khilafah Islam dipandang oleh sebagian kalangan sebagai bentuk institusi yang mampu mengintegrasikan kekuatan umat dalam satu kepemimpinan.

Dengan kesatuan struktur politik, militer, dan ekonomi, potensi dunia Islam diyakini dapat terakumulasi menjadi kekuatan yang mampu menandingi bahkan mengalahkan dominasi negara-negara adidaya. Dalam kerangka Teori Negara, kekuatan sebuah entitas politik memang sangat ditentukan oleh tingkat integrasi dan legitimasi otoritasnya.

Selain itu, konstruksi ini juga menempatkan Khilafah sebagai solusi atas berbagai penderitaan yang dialami negeri-negeri Muslim, baik akibat konflik, intervensi asing, maupun ketimpangan internal.

Dengan tata kelola yang terpusat dan berbasis pada hukum Islam, diharapkan distribusi sumber daya dan perlindungan terhadap wilayah-wilayah yang lemah dapat dilakukan secara lebih adil dan efektif.

Bahkan lebih luas lagi, Khilafah tidak hanya diproyeksikan sebagai kekuatan politik, tetapi juga sebagai entitas yang membawa misi dakwah dan jihad dalam arti luas yakni menyebarkan nilai keadilan, menjaga keamanan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Dengan demikian, kesatuan yang dibangun tidak hanya berorientasi pada kekuatan, tetapi juga pada peran sebagai rahmat bagi seluruh dunia. (*)


Penulis:
Mansyuriah, S.S.
(Aktivis Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com