OPINI—Indonesia pada tahun 2030 hingga 2040 mendatang menghadapi era bonus demografi. Dengan usia produktif (15-64 tahun). Butuh planning matang menghadapi era tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengungkapkan “Pemerintah tengah menggodok berbagai program mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045”. (www.kominfo.go.id).
Generasi hari ini adalah generasi masa depan akan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Namun, kerusakan generasi tak kunjung usai . Kehidupan generasi (remaja) dekat dengan tindak kriminal.
Sebuah video perundungan terhadap anak penyandang disabilitas viral di media sosial. Siswa SMPN 4 Makassar inisial MH ditendang oleh teman sekolahnya.
Terkait hal ini, Muhyiddin selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar mengatakan, “Kami baru mengetahui setelah viral di media sosial. termasuk pihak sekolah”.
“Sebagai Kepala Dinas Pendidikan Makassar meminta maaf dan menjadi perhatian bagi kami dan semua sekolah di Makassar,” ucapnya. Wali Kota Makassar Danny Pomanto menyampaikan telah meminta pada stakeholder yaitu Dinas Pendidikan untuk menyelidiki (fajar.co.id,14/06/2024).
Perundungan di Dunia Pendidikan Makin Kesini, Makin Ngeri
Dilansir dari detik.com, catatan akhir Tahun (Catahu) Pendidikan 2023 dirilis Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menunjukkan angka kasus bullying (perundungan) di Indonesia meningkat. Mencapai 30 kasus. Dengan persentase 80% terjadi di Kemendikbudristek dan sisanya 20% kasus terjadi di Kementerian Agama.
Kasus sudah dilaporkan dan diproses pihak berwenang. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu, 21 kasus bullying. Tidak hanya itu, perundungan makin kesini makin ngeri karena menelan korban jiwa dan menimpa penyandang disabilitas.
Perundungan yang menimpa generasi harus segera diakhiri. Fenomena ini terjadi karena generasi hidup dalam ruang sistem sekularisme. Berasaskan manfaat atau materi tanpa tanpa melihat baik buruknya yang penting happy. Menjadikan generasi hidup hedonistik, permisif, dan serba bebas. Diperparah dengan era keterbukaan informasi, generasi makin tidak terkendali dan mudah mengakses dunia digital.
Tontonan atau game bergenre kekerasan menjadi suguhan bagi generasi. Maraknya bullying saat ini disebabkan kondisi yang serba bebas. Anak merasa bebas melakukan sesukanya, tanpa ada rasa khawatir terhadap dosa, bebas mengakses apa saja tanpa selektif dari sisi baik buruknya.
Islam adalah Solusi
Pertama, Kurikikulum sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam. Mata pelajaran akan berkesinambungan untuk meningkatkan keimanan peserta didik sebagai seorang hamba kepada Allah Taala. Mewujudkan peserta didik bertaqwa dan berkarya untuk ummat.
Kedua, pendidikan dalam Islam adalah kebutuhan bagi seluruh rakyat. Negara berkewajiban memenuhi kebutuhan pendidikan secara cuma-cuma. Dengan itu, peserta didik bisa fokus menempuh pendidikan sesuai minat dan bakatnya. Orang tua tidak terbebani memikirkan biaya pendidikan, sehingga bisa mengasuh anak-anak dengan baik.
Ketiga, suasana lingkungan dan masyarakat kondusif. Islam mewajibkan individu umat untuk melakukan amar makruf nahi mungkar. Sehingga terbangun suasana masyarakat terbiasa melakukan kontrol sosial, menyampaikan kebenaran dan mencegah keburukan
Inilah solusi Islam dalam masalah perundungan, tentu hal ini hanya bisa terwujud jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu ‘allam. (*)
Penulis:
Trisnawaty A, S.Pd, M.Pd (Praktisi Pendidikan)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.
Simak Juga:







