Nasib Guru. (foto courtesy)

OPINI – Profesionalitas seorang pendidik sangat berpengaruh terhadap hasil akhir dari sebuah proses pendidikan, karena merekalah para pengajar yang bersinggungan secara langsung terhadap objek pendidikan itu sendiri.

Maka dalam rangka menghasilkan peserta didik yang unggul dan bermutu diperlukan adanya tenaga pendidik yang memiliki loyalitas tinggi serta profesional terhadap fungsinya dalam mendidik.

Di era Industri 4.0 ini, seharusnya sistem pendidikan di indonesia sudah mampu untuk memberikan solusi kepada para pelajar agar mereka mampu mengimbangi melesatnya tekhnologi ketika mereka telah terjun ke dunia luar.

Kurikulum dan sistem pengajaran merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan dalam proses belajar-mengajar.

Namun ada hal terpenting yang sangat menentukkan keberhasilan tersebut, yaitu tenaga pendidik atau lebih dikenal dengan sebutan guru.

Sosok yang sering berinteraksi dalam pembelajaran ini merupakan cerminan terhadap keberhasilan siswa dalam menguasai suatu materi yang disampaikan. Serta memberikan andil yang sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam pasal 39 UU No 20/2003 dijelaskan bahwa tugas guru yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Sehingga dengan demikian merupakan hak para siswa yaitu mendapatkan pendidikan yang layak.

Pendidikan yang layak itu selain mencakup dari sarana dan prasarana, juga tenaga pendidik yang memang layak dan mampu membimbing sekaligus mengarahkan siswa dalam pemahaman terhadap sebuah materi ajar.

Namun Seiring kebutuhan untuk keberlangsungan hidup yang semakin meningkat serta tidak di imbangi dengan penghasilan yang memadai sehingga membuat kinerja guru kurang maksimal atau bahkan ia mencari pekerjaan lain untuk menambah penghasilannya, karena tidak bisa hanya dengan mengharapkan gaji tetap untuk memenuhi kebutuhannya.

Ada sebagian guru harus mengajar dibeberapa tempat, yang mana hal ini berdampak pada ketidakfokusan dalam mengajar di lembaga intinya. Walaupun tujuannya baik, dalam rangka menambah penghasilan.

Selain itu, ada juga yang menjadi tukang ojek sebagai pekerjaan sampingan diluar aktifitas mengajarnya, memberi les pada sore hari, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.

Yang lebih parah bila pada saat jam mengajar, justru bekerja dilain tempat dengan memberikan semacam tugas kepada siswanya.

Sehingga hal ini lah yang menjadi cerminan oleh para siswa bahwa keberadaan guru dikelas hanya dijadikan formalitas atau menggugurkan kewajiban karena telah mendapat gaji dari pemerintah (red-asalnya dari rakyat), atau gaji dari yayasan Swasta saja.

Bukan sebagai bentuk pengabdian diri untuk mengarahkan, membimbing, maupun mengawasi siswa agar menjadi warga negara yang cerdas dan dapat membangun negeri menjadi lebih baik.

Dalam permasalahan ini peran pemerintah sangat berpengaruh terhadap kondisi tersebut, karena sebagian besar masalah diakibatkan oleh kurangnya penghasilan dari hasil mengajar.

Hal ini menjadi renungan untuk bisa dicari jalan keluarnya agar permasalahan klasik tersebut dapat diselesaikan.

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 dalam UU sudah memberikan jaminan kelayakan hidup.

Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya.

Meningkatkan penghasilan pengajar melalui program pemerintah mungkin bisa menjadi solusi, tapi sifat ketidak puasan manusia dengan sesuatu yang telah diperolehnya menjadi hal yang harus sangat diperhatikana agar menjadikan solusi tersebut sebagai satu-satunya yang dapat terealisasi.

Selain itu, ketika pendapatan menjadi tenaga pendidik yang berstatus PNS meningkat, maka akan memacu persaingan yang besar dikalangan masyarakat sehingga mereka berlomba lomba untuk memperebutkan status tersebut. Bahkan segala cara bisa dilakukan agar mendapatkannya.

Selain itu, Pemerintah juga perlu merapihkan kembali tatanan kependidikan di Indonesia agar mampu menghasilkan tenaga pendidik yang dapat memberikan kontribusinya dalam pengembangan akhlak dan moral yang sangat diperlukan siswa untuk menjaga diri dari kerusakan terutama di Era Industri 4.0 ini, seperti pergaulan yang semakin bebas tanpa batas.

Kalau tidak kuat pertahanan diri pribadi (akhlak), maka akan terjerumus dan melakukan perbuatan yang tidak semestinya.

Disinilah salah satu peran guru untuk bisa mengarahkan siswanya, apalagi pada saat di sekolah peran guru sebagai orang tua harus mampu berperan layaknya orang tua kandung siwa tersebut.

Seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang sekarang ini sudah mengalami penurunan kualitas dengan melihat keadaan negeri ini yang tidak kunjung membaik dari segi perekonomian, pembangunan, maupun kesejahteraan.

Keadaan tersebut sedikit atau banyaknya diakibatkan peran guru yang kurang mampu membimbing dan mengarahkan siswanya menjadi lebih baik dari segi akhlak, moral ataupun pengetahuan.

Ini penting karena siswa akan berevolusi menjadi pemuda The Agent Of Change (Agen Perubahan), yaitu pemuda yang mampu merubah tatanan Negeri menjadi lebih baik.

Semangat para guru buktikan bahwa Engkau adalah Pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.” (*)

Penulis: M Okky Haryana Ferdana (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani, Komplek Islamic Center BINBAZ, Piyungan. Bantul Jogjakarta)